Seorang santri berkeluh kesah ke Kyia-nya :
Santri
: pak Yai, saya itu sudah ngawulo
(menghamba) ke pak haji itu dari muda smp tua gini, tapi kok pak haji gak
pernah memberi sesuatu lebih kepada saya. Saya bangun rumahnya, warungnya sampai
bantu peternakannya hingga saat ini.
Kyai
: kamu itu waktu bangun rumahnya,
warungnya dan lain-lain itu digaji atau terima bayaran yg lain gak?
Santri
: ya dibayar kyai, lha wong saya kerja
kok, saya khan butuh uti hidup juga.
Kyai:
ya itu namanya bukan ngawulo
(menghamba) tapi kerja yg pake perhitungan. Kalo ngawulo itu gak pake
perhitungan. Kamu itu jd kulinya pak Haji, kerja bangun rumah dan warung pak
haji krn dpt bayaran.
Sama kayak kita
ibadah sama Allah, sering pake perhitungan. Sedekah dihitung minta balasan
berlipat, bahkan pake matematika sedekah segala dan di iklankan di tv. Sedekah
motor berharap sambil berhitung diganti 10x lipat atau dapat mobil. Sholat
mengharap pahala yang banyak. Sholat dhuha sambil berhitung rejeki hari ini
dilipatgandakam berapa ya??
Lha kalau model
ibadah kita seperti itu, kita itu sebenarnya kita itu mau jadi Abdullah
(hamba/kawulo Allah) atau mau jadi sekedar kuli yang di ciptakan Allah???
Kalo kita mau jadi
Abdullah maka ibadah kita itu ya tujuanya hanya mencapai ridho Allah. Kalo kita
sekedar mau jadi kuli yg diciptakan Allah ya monggo ibadah mengharap yang lain
dan berhitung dengan Allah.
Kalo kita ibadah
hanya mengharap ridho Allah, insya Allah akan diberi oleh Allah semuanya di
dunia dan akhirat. Tapi jika kita ibadah sambil berhitung dan hanya mengharap
pahala, Allah hanya akan memberi yg kita hitung dan harap tersebut. Tapi jangan
mengharap maghfiroh Allah didunia dan akhirat
(20072016, Sambil
Nunggu pesawat ke Palembang, ingat ngaji kemarin di Tuban)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar