Jumat, 13 Oktober 2017

TELAT DATANG UNTUK JUM'ATAN

Salah satu pesan khotib dalam Khotbah Jum'at tadi siang adalah, bahwa jika kita datang Jum'atan setelah khotib naik mimbar maka ibadahnya sia2 karena tidak akan dicatat dalam buku absen malaikat, karena malaikat setelah khotib naik mimbar akan menutup bukunya untuk mendengarkhan Khotbah.

Saya membayangkan jika ada jamaah yang pikirannya polos lalu berpikir, wah kalo datangnya telat.. gak dapat pahala nich saya, karena sia2 dan gak ada dalam catatan malaikat sebagai peserta jum'atan, lagian melakukan yang sia2 itu khan dosa. Bisa-bisa yang bersangkutan malah milih gak Jum'atan, dan nongkrong di warung kopi saja.

Padahal dengan datang ke masjid untuk Jum'atan atau sholat lainnya itu pahalanya bertebaran dimana-mana dan dari banyak sisi. Gak percaya nich:
1. dengan mempunyai niat utk Jum'atan walau datangnya telat, sudah dapat pahala dari niat ibadahnya lho.

2. udah memilih utk datang ke masjid juga sdh dapat pahala dari pada milih nongkrong ngobrol di warung.

3. dari jalan kita ke masjid dengan niat sholat jamaah itu pahalanya lipat 3, setiap 3 langkah itu ada pahalanya, langkah pertama menggugurkan dosa kita, langkah kedua menambah pahala kita, langkah ketiga menaikan derajat kita satu tingkat. Kalo jalan kita ke masjid perlu 3000 langkah, kita dapat 1000 pahala, dosa kita dihapus 1000 dosa dan derajat kita naik 1000 tingkat.

4. duduk mendengarkan sisa khotbah khotib juga dapat pahala, karena mendengarkan nasehat yg baik dalam majelis ilmu.

5. Sholat jamaah itu mengandung silaturahmi sesama muslim didalamnya, jadi dapat pahala silaturahmi lagi..

ini kalo dihitung bisa ribuan pahalanya.. tap gak usah hitung2 pahala gini kalo mau ibadah lah.

tapi yang penting, gak usah kuatir kalo datang telat jum'atan gak diabsen sama malaikat, soalnya waktu pulangnya diabsen lagi kok sama malaikat, jadi kita tetap tercatat di bukunnya..... :) 😀

Jadi jangan lupa jum'atan ya.

Sabtu, 15 April 2017

DIMANA BUMI DIPIJAK DISANA LANGIT DIJUNJUNG

Suatu masa Imam Ahmad Bin Hambal atau yg dikenal sebagai Imam Hambali mengutus muridnya utk berdakwah di daerah Mesir. Setelah beberapa lama di panggil muridnya tersebut dan ditanyai bagaimana dakwahanya disana.

Sang Murid menjawab "bahwa disana mayoritas pengikut pendapat Imam syafii dan Imam Maliki. Jadi aku mengajak dan mengajari mereka sesuai pendapat anda sebagai Guruku.

Mendengar hal tersebut Imam Hambali menegur dan menasehati muridnya dan berkata " Bukan mereka yg harus ikut pendapatku, tapi kamu yang harus belajar fiqh nya Imam Syafii dan Imam Maliki dan menyesuaikan dengan penduduk Mesir.

Teguran dan nasehat Imam Hambali diatas sangat bijak dan menunjukan adab dan akhlak islami yg bagus. Bahwa jika kita adalah orang baru maka kita yg harus menyesuaikan dengan kebiasaan setempat bukan masyarakat yg harus mau ikut apa kata dan pendapat kita.

Yang terjadi di Indonesia dalam beragama saat ini byk sekali orang2 dari golongan tertentu memaksakan kehendaknya agar orang2 lama mengikuti apa mau mereka. Di Banyak pengajian2nya orang2 model begini memaksakan menggunakan ritual keagamaan versi mereka dan menghilangkan ritual keagamaan yg sdh dilaksanakan oleh masyarakat Indonesia sejak dahulu.

Bahkan golongan tersebut kemudian sering kali merebut masjid dari masyarakat sekitar yg mendirikan masjid. Dengan dalil purifikasi agama, mereka secara puritan Mengkafirkan dan membid'ahkan ritual keagamaan yg sdh lama hidup dan dilaksanakan oleh Masyarakat.

Hal tersebut tentunya bertentangan dengan adab dan akhlak Imam Hambali yg di contohkan di atas.
Di Indonesia sendiri dikenal pepatah Dimana Bumi Dipijak, disitu langit di junjung. Yang kurang lebih artinya sama dengan nasehat Imam Hambali kepada muridnya yaitu dimana kita berada, kitalah yang harus menyesuaikan dengan masyarakata setempat bukan memaksa masyarakat yg menyesuaikan dengan kita.

Rabu, 01 Februari 2017

Merangkul atau miting

Ada posting menarik di WAG alumni Pesma Al Hikam tentang tulisan alm. Mbah Kyai Muhit Muzadi sesepuh NU yang berbunyi "

"Sulit membedakan ngrangkul dengan miting".

Tulisan yang singkat tapi sarat makna. Penuh ajaran ketulusan bagi yang bisa merenungkan perbedaan merangkul dan memiting. Keduanya pada hakekatnya sama-sama memeluk. Tapi kalo ngrangkul itu memeluk dengan penuh ketulusan dan kasih sayang, miting itu memeluk untuk kemudian membanting yang dipeluknya.

Pas dengan kondisi saat ini. Saat Melihat reaksi dari mereka-mereka yg dulunya menghina-hina NU bahkan sampai memfitnah kyai-kyai NU. pasca sidang mendengarkan keterangan KH Ma'ruf Amien di sidang ahox, mereka seolah-olah simpati dengan NU, merasa sakit hati kyai NU di perlakukan tidak selayaknya. Padahal mereka juga selama ini juga memperlakukan kyai NU tidak selayaknya sama persis dengan ahox dan tim saat sidang.

Jadi sikap mereka itu ngrangkul ato miting?? Jangan-jangan habis ini mereka kembali membanting NU dan kyai nya dengan segala fitnahan dan cercaan dan tanpa pernah meminta maaf.

Monggo dipikir sing adem.

(alfarisi fadjari)

Senin, 23 Januari 2017

Budaya Dalam Islam

Dalam dakwahnya, kadang Rosulullah juga melakukan akulturasi budaya atau ritual ibadah yang sudah ada dengan ajaran islam dan tidak langsung main larang. salah satu ritual ibadah atau budaya masyarakat qurais yang tidak dilarang oleh Rosulullah dan mengalami akulturasi dengan nilai Islam adalah ritual thowaf. Dulu tujuan masyarakat qurays melakukan thowaf adalah untuk memuja berhala-berhala yg dipasang di sekeliling ka'bah dan meletakan sesajen bagi berhala tersebut. Bahkan ada riwayat yg menyatakan mereka thowaf sambil telanjang.

oleh Rosul, bukan ritual thowafnya yg kemudian dilarang, tapi tata caranya di perbaiki agar sesuai syariat Islam. Memutari ka'bah tetap dilakukan hanya saja dengan membaca kalimat-kalimat thoyibah dan atau doa kepada Allah. itu yang kemudian dipraktekan sampai sekarang saat haji atau umroh.

Begitu juga zaman Walisongo. Sunan Kalijogo tidak menghapus atau melarang wayang kulit. Tapi muatan dalam wayang kulitnya yg diperbaiki. Ada satu lakon wayang kulit berjudul "jamusskalimosodo". atau jimat 2 kalimat syahadat. Yang memasukan muatan Islam bahwa Jimat/pegangan paling ampuh bagi kehidupan adalah mengucap 2 kalimat syahadat.

Begitu juga slametan dalam masyarakat jawa dengan menyajikan makanan bagi para tamu. Adalah akulturasi budaya jawa dan ajaran islam  yang diajarkan walisongo. Dimana masyarakat yang biasanya menyajikan makanan dibawah pohon sebagai sajen atau persembahan, kemudian diajarkan agar makanan tersebut cukup di taruh dalam rumah, undanglah tetangga dan diajak berdoa bersama kemudian menikmati makanan yg telah disajikan. Dengan begitu ada 3 nilai islam yang dilakukan sekaligus dalan selamaten yaitu : silaturahmi dgn tetangga, berdoa kepada Allah dan memuliakan tamu yg datang ke rumah.

Itulah islam, Urf atau budaya sepanjang tdk bertentangan dgn Islam atau dapat dimasukan nilai islam dalam hemat saya sah-sah saja utk dijalankan.

Kamis, 19 Januari 2017

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM

Cara termudah agar setiap perbuatan kita tetap dalam bingkai ibadah kepada Allah SWT adalah dengan mengucapkan "Bismillahirrohmanirrohim" setiap kita akan memulai melakukan sesuatu.

Ada banyak hikmah membaca Basmallah sebelum kita melakukan sesuatu. 3 diantara hikmah-hikmah tersebut adalah :

  1. Agar kita dalam melakukan sesuatu benar-benar mempunyai niat hanya karena Allah.
  2. agar dalam perjalanana kita melakukan sesuatu tersebut tetap lurus di jalan yang benar sesuai ajaran Islam.
  3. agar hasil yang kita peroleh dari perbuatan yang kita lakukan adalah benar-benar rizki yang barokah.


Jadi dengan membaca Basmalah sebelum memulai melakukan sesuatu maka kita sudah berdoa dalam 3 tahapan sekaligus, yaitu di awal sebagai niat melakukan sesuatu hanya karena Allah, dalam perjalanan kita melaksanakan sesuatu tersebut agar lurus di jalan yang benar sesuai dengan ajaran Agama Islam dan juga agar tidak tergoda dengan hal-hal yang buruk serta agar tetap kuat dan selamat dalam mengarungi perjalanan dan yang terakhir adalah agar hasil yang diberikan kepada kita adalah rizki yang hala, nikmat dan barokah, bukan cobaan/ujian yang berbalut kenikmatan. .

Ayuukss biasakan baca Basmallah..

Senin, 10 Oktober 2016

Tentang Menjadi Hamba Allah


Seorang santri berkeluh kesah ke Kyia-nya :
Santri : pak Yai, saya itu sudah ngawulo (menghamba) ke pak haji itu dari muda smp tua gini, tapi kok pak haji gak pernah memberi sesuatu lebih kepada saya. Saya bangun rumahnya, warungnya sampai bantu peternakannya hingga saat ini.
Kyai :     kamu itu waktu bangun rumahnya, warungnya dan lain-lain itu digaji atau terima bayaran yg lain gak?
Santri : ya dibayar kyai, lha wong saya kerja kok, saya khan butuh uti hidup juga.
Kyai:      ya itu namanya bukan ngawulo (menghamba) tapi kerja yg pake perhitungan. Kalo ngawulo itu gak pake perhitungan. Kamu itu jd kulinya pak Haji, kerja bangun rumah dan warung pak haji krn dpt bayaran.

Sama kayak kita ibadah sama Allah, sering pake perhitungan. Sedekah dihitung minta balasan berlipat, bahkan pake matematika sedekah segala dan di iklankan di tv. Sedekah motor berharap sambil berhitung diganti 10x lipat atau dapat mobil. Sholat mengharap pahala yang banyak. Sholat dhuha sambil berhitung rejeki hari ini dilipatgandakam berapa ya??

Lha kalau model ibadah kita seperti itu, kita itu sebenarnya kita itu mau jadi Abdullah (hamba/kawulo Allah) atau mau jadi sekedar kuli yang di ciptakan Allah???

Kalo kita mau jadi Abdullah maka ibadah kita itu ya tujuanya hanya mencapai ridho Allah. Kalo kita sekedar mau jadi kuli yg diciptakan Allah ya monggo ibadah mengharap yang lain dan berhitung dengan Allah.

Kalo kita ibadah hanya mengharap ridho Allah, insya Allah akan diberi oleh Allah semuanya di dunia dan akhirat. Tapi jika kita ibadah sambil berhitung dan hanya mengharap pahala, Allah hanya akan memberi yg kita hitung dan harap tersebut. Tapi jangan mengharap maghfiroh Allah didunia dan akhirat

(20072016, Sambil Nunggu pesawat ke Palembang, ingat ngaji kemarin di Tuban)
Top of Form
Bottom of Form