Kamis, 15 Mei 2008

Membuka Blocking Mental

MEMBUKA BLOCKING MENTAL

DAN MELANGKAH UNTUK MEMULAI USAHA

Pertama kali istilah Blocking Mental saya dengar dari Mas Budi Utoyo, salah seorang trainer kewirausahaan di Entrepreneur University, pengusaha yang sukses, sekaligus senior saya di Korps Sukarela Universitas Brawijaya. Istilah tersebut kemudian saya baca lagi di blog www.visimandiri.blogspot.com yang kebetulan milik kakak saya Ardiansyah.

Blocking mental sendiri menurut saya merupakan semacam doktrinasi yang sudah kita dapatkan dari kecil. Kalo kita renungkan kembali pertanyaan-pertanyaan yang dulu kita dapatkan waktu kecil dan banyak dialami anak kecil adalah “mau jadi apa kalo sudah besar”, sering anak-anak kecil menjawab jadi dokter, jadi pilot, jadi pegawai negeri dan jadi yang lain yang pada intinya jadi pegawai, jarang yang menjawab jadi pengusaha sukses. Bahkan yang lebih parah, banyak juga orang tua yang belum-belum sudah bilang ke anaknya nanti kalo besar jadi pegawai saja, nggak usaha neko-neko.

Stigma tersebut kemudian menjadi “cantolan memencet tombol di otak kita” (meminjam istilahnya Pak Tung Desem Waringin) dan terbawa sampai kita besar dan secara tidak sadar kemudian menjadi cita-cita kita. Tanpa kita sadari, dalam perjalanan hidup kita, hal tersebut kemudian mempengaruhi setiap tindakan maupun segala sesuatu yang kita lakukan, termasuk sekolah dan mengambil jurusan saat kuliah bahkan saat melamar kerja kita pilih sesuai dengan cantolan yang telah kita buat saat kecil tersebut. Akibatnya banyak dari kita yang hanya beraninya menjadi pekerja bukan pengusaha, karena dari kecil sudah membuat cantolan menjadi pekerja dan memblock mental kita.

Sebagai akibat doktrinasi yang salah saat kecil itulah, terasa sangat berat bagi kita saat akan memulai usaha, terlebih lagi bagi kita yang sudah bekerja mapan sebagai pegawai, termasuk yang penulis rasakan sendiri. Menurut Robert Kiyosaki, ketakutan-ketakutan yang membuat seorang pegawai untuk berpindah kuadaran dari kuadaran E (pegawai) ke kuadran B (pemilik usaha) adalah kehilangan rasa aman, yaitu rasa aman kehilangan kepastian penghasilan setiap bulan, bahkan bagi golongan E, rasa aman bahkan lebih penting dari uang.

Menurut penulis ada beberapa hal yang dapat membantu kita membuka blocking mental yang ada dalam diri kita, yaitu: (i). menetapkan menjadi pengusaha sukses adalah salah satu impian kita; (ii). Agar kita tidak terkena virus “mimpi kali yee..”, impian menjadi pengusaha sukses tersebut kemudian kita jadikan cita-cita, caranya dengan membuat langkah-langkah awal untuk mencapai impian tersebut, karena impian tanpa pelaksanaan tetap impian semata bukan cita-cita; (iii). bergaul dengan komunitas wirausaha, biar ikut tertular virus wirausaha-nya dan juga belajar dari mereka dalam memulai dan mengelola usaha, serta memperluas pertemanan, sehingga saat kita memulai usaha minimal kita sudah ada jaringan untuk membuat penawaran. Bergaul ini juga sangat penting, salah satunya adalah untuk memprovokasi diri kita sendiri untuk berani mengikuti jejak teman-teman yang ada memulai usaha dan membuka lapangan kerja. (iv). tidak mudah menyerah dan terus belajar baik dari orang lain maupun dari kegagalan usaha kita diawal-awal.

Jadi untuk sahabat-sahabat pembaca blog ini yang masih takut untuk memulai usaha, jangan kuatir, penulis juag masih takut dan bingung untuk memulai usaha. Yang ada dalam diri penulis saat ini hanya masih sebatas niat yang kuat dan sedang memprovokasi diri sendiri untuk berani memulai usaha. Untuk sahabat-sahabat yang telah berani dan sukses melalui tahap ini dan punya usaha sendiri, boleh donk bagi-bagi tips, saran-saran dan semangat kepada pembaca yang lain. Terima kasih.

Tidak ada komentar: