Selasa, 30 November 2010

MEREK, PATEN DAN CIPTA


Sering kali kita mendengar celutukan …”wah.. merek saya sudah dipatenkan…” atau ..”lagu saya sudah saya patenkan..”. Celutukan tersebut sebenarnya salah kaprah. Karena Merek, Cipta dan Paten merupakan sesuatu yang berbeda sangat jauh.

Menurut Undang-undang No.15 tahun 2001, tentang Merek, yang dimaksud dengan Merek adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa.
Singkatnya merek merupakan tanda baik dalam bentuk gambar, tulisan, angka, huruf maupun kombinasi dari semuanya yang merupakan identitas dari produk kita untuk membedakan dengan produk milik pihak lain. Misalnya saya punya produk bakso, untuk membedakan bakso hasil produksi saya dengan hasil produksi orang lain, maka saya memberi identitas pada bakso saya dengan nama Bakso Bakar Barbeque, sehingga orang tahu kalo ada bakso kemasan dengan label bakso baker barbeque yang sudah terkenal enaknya, maka itulah bakso produksi saya.

Sedangkan hak cipta, menurut undang-undang No.19 tahun 2002, merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Singkatnya, hak cipta biasanya diberikan untuk penemuan dalam bidang seni ataupun program computer. Dalam undang-undang tersebut, beberapa penemuan atau ciptaan yang dilindungi dapat berupa ciptaan untuk :

a.     buku, Program Komputer, pamflet, perwajahan (lay out) karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain;
b.     ceramah, kuliah, pidato, dan Ciptaan lain yang sejenis dengan itu;
c.      alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan;
d.     lagu atau musik dengan atau tanpa teks;
e.     drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomim;
f.      seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase, dan seni terapan;
g.     arsitektur;
h.     peta;
i.      seni batik;
j.      fotografi;
k.     sinematografi;
l.      terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, database, dan karya lain dari hasil pengalihwujudan.

Dalam literatur hak cipta ini sebenarnya otomatis melekat secara langsung kepada penciptanya atas ciptaaanya, walaupun tidak didaftarkan. Misalnya kita membuat sebuah buku, kemudian buku tersebut kita launching, maka begitu diumumkan kepada khalayak, maka hak cipta atas buku tersebut sudah kita miliki. Hanya saja kemudian untuk ketertiban adminsitrasi, maka undang-undang juga mensyaratkan harus adanya pendaftaran atas hak cipta tersebut.

Hak paten diatur dalam UU Nomor 14 tahun 2001. Paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada Inventor atas hasil Invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri Invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya. 

Hak paten merupakan hak yang diberikan kepada para penemu dalam bidang tekhnologi, baik teknologi yang canggih sampai tekhnologi yang sederhana. Tekhnologi yang dapat daftarkan tidak melulu tentang teknologi baru yang berkenaan dengan hal-hal yang canggih seperti penemuan pesawat terbang, komputer, mobil ataupun hal-hal canggih lainnya. Ttapi tekhnologi yang sederhana juga dapat dimintakan patenya sepanjang mengandung unsur kebaruan didalamnya. Misalnya cara membuat bakso... sepanjang kita bisa membuktikan ada cara terbaru untuk membuat bakso yang berbeda dengan yang sudah ada pada umumnya, maka kita dapat mendaftarkannya ke Dirjen HAKI.

Semoga uraian tersebut di atas dapat memberi pemahaman dasar tentang Hak merek, cipta ataupun paten dan tidak ada lagi yang bilang.. wahh.... ”Merek saya sudah saya patenkan”... atau ”lagu saya sudah saya patenkan..”  atau ”sayang sedang mendaftarkan untuk mempantenkan merek saya nich”.. he.. he..


Rabu, 10 November 2010

BELAJAR DARI IKUT JUALAN DI EVENT BESAR

Ada rasa senang, kaget dan masih tidak percaya saat mendapat telephone dari EO penyelenggara konser musik yang diadakan salah satu perusahaan besar penghasil soft drink bersoda untuk mengisi stand food court dalam konser musik tersebut. Dalam konser yang mendatangkan band-band besar di Indonesia seperti Gigi, Naif maupun Kotak tersebut ditargekan dihadiri oleh 3000 penonton. Langsung saja otak ini menghitung omset yang bisa didapat, jika kita mentarget 10% saja dari penonton yang hadir atau 300 orang mau beli bakso, dengan harga jual 6 ribu per porsi, maka sudah terbayang omset sehari adalah 300 x 6.000 = Rp.1.800.000,-, jika margin adalah 50% dari omset untung jualan sehari dari jam 2 siang smp jam 10 malam adalah 900 ribu, mantap tho…he.. he..

Membayangkan hal tersebut, maka dengan semangat 45, langsung saja saya iyakan tawaran tersebut, apalagi mendapat stand gratis tanpa harus bayar apapun. Langusng saja persiapan dibuat, belanja ini dan itu dan cari karyawan lepas yang mau membantu jualan. Singkat kata hari Sabtu tanggal 6 November meluncur ke Lapangan D di Gelora Bung Karno Senayan tempat acara berlangsung. Disana ada sekitar 20 tenda food court, mulai dari Kebab Turki, Pempek, Burger sampai batagor.

Mulai habis dhuhur terlihat, sudah banyak penonton yang masuk ke dalam area konser musik. Penonton yang datang rata2 didominasi anak-anak muda dan remaja dengan dandanan standar anak band dan remaja gaul. Sempat terlintas pikiran buruk juga saat melihat penonton yang datang, dalam hati “kalo yang datang model begini, pada punya uang untuk jajan gak yha he.. he..”

Kekhawatiran itu semakin besar, karena sampai sekitar jam 4 sore, baru 1 orang yang datang untuk makan bakso kuah, sedangkan di stand samping kami yang menjual kebab turki mulai rame pembeli. Alhasil hanya bisa ngelus dada dan tidak henti-hentinya menenangkan pikiran untuk tetap berpikir positif. Berkah itu akhirnya datang menjelang maghrib, ada serombongan anak remaja yang dari tadi mondar-mandir melihat stand-stand food court dari ujung ke ujung, sepertinya membandingkan harga makanan yang ada, akhirnya yang dipilih adalah stand bakso baker barbeque, 3 porsi bakso kuah dan 2 porsi bakso bakarpun dipesan. Alhamdulillah setelah itu, stand kami mulai rame dengan pembeli, bahkan hingga jam 10 malam, masih ada aja yang datang untuk membeli bakso, total hampir 100 porsi terjual, walaupun kurang dari 1/3 dari target, kami tetap bersyukur.

Bagaimana dengan stand lain?? Dari perbincangan dengan mereka, ternyata omset mereka lebih jelek dari stand kami. Stand burger yang membawa 400 porsi hanya terjual kurang dari ¼-nya, Stand pempek juga terjual kurang dari 100 porsi begitu juga dengan batagor dan kebab turki. Padahal optimisme mereka saat menerima tawaran mengisi stand sama dengan kami, akan laris manis he.. he...

Lalu kenapa stand lain angka penjualannya dibawah kami?? Dari sekilas pengamatan, porsi kami lebih banyak dan sepertinya lebih mengenyangkan di perut. Dengan isi 3 butir bakso, mie kuning dan 2 pangsit goreng, maka cukup untuk menjadi pengganjal perut. Yang kedua harga makanan di stand kami paling murah hanya 6 ribu/porsi, sedang stand lain rata-rata harganya 10 ribu/porsi, yang menurut saya terlalu mahal untuk kantong anak band jalanan. Bahkan harga kami juga mengagetkan stand-stand disamping kami, mereka pikir kami juga menjual dengan harga 10 ribu juga, apalagi melihat porsi besar dalam satu mangkok bakso kami.

Yang jelas apapun hasilnya, banyak hal yang dapat kami petik dari ikut event tersebut, salah satunya adalah pentingnya menerpakan prinsip ”kenali calon pembelimu” sangat dianjurkan, ini penting agar kita bisa menentukan harga yang pas dikantong calon pembeli, sehingga walaupun harus menekan keuntungan, tapi kalo omset penjualan naik, maka otomatis untung juga akan datang dengan sendirinya. Ini mirip dengan saat kita mau membuka kios disuatu tempat, kita harus mengenal masyarakat sekitar kios kita berada, terutama harga wajar barang yang kita jual ditempat tersebut serta daya beli masyarakat sekitar.

Satu hal lain yang juga akhirnya saya sadari masih harus diperbaiki adalah dalam management penataan barang saat berada di lapak dan juga barang yang harus dibawa saat ngelapak. Ternyata masih banyak peralatan yang kami bawa tidak terpakai, karena memang berlebih, yang pada akhirnya membuat kami kebingunan harus ditaruh dimana, imbasnya adalah penataan barang kurang rapi, sehingga stand terlihat berantakan dan kurang bersih, padahal kami menjual makanan yang membutuhkan 2 hal tersebut, agar konsumen mau datang dan merasa nyaman mampir ke stand kita.

Semoga bermanfaat.


Senin, 25 Oktober 2010

BASIC VALUE

“Apa Yang membuat Komunitas TDA dalam waktu singkat menjadi sedemikian besarnya” Tanya founder TDA Pak Rony kepada Pak Silih Agung Wasesa, saat peluncuran buku Pak Silih, berjudul PR Magic di London School beberapa waktu yang lalu. Menurut Pak Silih, salah satu yang menjadikan TDA menjadi besar adalah karena adanya nilai dasar (basic value) yang diyakini bersama oleh anggota TDA, yaitu semangat untuk berbagi apaun tentang wirausaha kepada siapapun. Semangat berbagi tersebut kemudian menjadi alasan bagi banyak orang bergabung dengan TDA, baik mereka yang hanya sekedar ingin mendapatkan ilmu saja tanpa mau berbagi, maupun mereka yang benar-benar mau berbagi baik lewat tulisan, peluang usaha maupun yang lainnya.

Yang lebih unik lagi di TDA dalam urusan membagi ilmu adalah kadang kala ilmu tersebut justru dibagikan kepada orang yang mempunyai core bisnis yang sama dengan yang memberikan, yang seharusnya menurut ilmu ekonomi modern (kapitalis) harusnya menjadi pesaing kita dan kita harus menutup rapat informasi sekecil apapun kepada pesaing kita tersebut. Semangat berbagi kepada sesama, itulah salah satu nilai dasar Komunitas TDA, yang menjadi kelebihan dibandingkan dengan komunitas wirausaha lainnya.

Nilai dasar atau alasan yang mendasari kita dalam melakukan sesuatu atau niat sangat penting dalam kegiatan sehari-hari termasuk dalam menjalankan usaha kita. Mengapa?? Menurut saya ada beberapa alasan yang dapat kita jadikan bahan pemikiran agar kita mempunyai nilai dasar ataupun niat dalam setiap melakukan tindakan

Yang pertama adalah menjadi batu pijakan langkah awal saat kita akan memulai sesuatu usaha. Minimal jika langkan awal kita sudah tergambar dengan jelas, maka untuk langkah-langkah selanjutnya akan lebih mudah dan terarah. Usaha merupakan suatu perjalanan yang panjang, untuk itu langkah awal merupakan sesuatu yang sangat perlu, jika kita saat pertama melangkah sudah tidak tahu akan kemana, maka akan merepotkan kita untuk melakukan pengembangan usaha.

Yang kedua adalah menjadi parameter atau tolak ukur bagi setiap langkah atau tindakan yang kita ambil. ini juga akan memudahkan kita dalam mencapai tujuan ataupun target usaha kita. Kita dapat melihat dan mengevaluasi apakah usaha kita telah berjalan sesuai dengan nilai dasar saat kita memulai usaha ataukah justru melenceng jauh dari nilai dasar tersebut.

Yang ketiga adalah menjadi corporate culture usaha kita.  Corporate culture menurut saya sangat penting, karena dapat menggambarkan identitas dari sebuah perusahaan dan juga menjadi pedoman perilaku yang baku bagi setiap orang yang ada didalamnya, tidak perduli karyawan maupun pemilik perusahaan tersebut.

Jadi bagaimana dengan usaha anda???
Semoga bermanfaat.  

Selasa, 05 Oktober 2010

TIPS SEDERHANA BAGI PELAKU USAHA PEMULA

Ada seorang kawan, mantan national manager di sebuah perusahaan multinasional dengan prestasi kerja yang bagus. Beliau ini sudah sekitar 1,5 tahunan resign untuk kemudian banting setir menjadi seorang wirausaha. Beliau berkeluh kesah tentang usaha yang sedang di jalaninya, hasil tidak seberapa, tabungan kok makin menyusut bukanya malah bertambah dari hasil usahanya tersebut. Saat pertama kali berniat terjun menjadi seorang wirausaha, beliau cerita yang ada di pikiran beliau adalah “lha wong saya memanage perusahaan besar (tempat di bekerja) dengan jaringan multinasional aja bisa dan sukses, kenapa menjalankan perusahaan kecil (usaha sendiri) tidak bisa??”,

Kenyataannya setelah dia jalani justru terbalik, usahanya tidak maju sepesat kemajuan perusahaan lama tempat dia pernah jadi national manager, yang ada malah tabungan dari gaji selama bertahun-tahun ludes tersedot untuk aktifitas usaha tidak sebading dengan pendapatan dari usaha barunya tersebut.. Menurut yang bersangkutan, semua ilmu dan praktek manajamen yang pernah dia baca dan praktekan sudah diterapkan, tapi ternyata tidak membawa hasil, lalu salahnya dimana???. Coba kita ukur dengan tips yang saya dapatkan dari sebuah ceramah di Intelectual Business Community, sebagai berikut:

Rubah mindset kita dari mindset karyawan menjadi mindset pengusaha. Salah satu mindset yang harus kita rubah adalah dalam hal keatktifan kita dalam merespon sesuatu. Dulu saat masih menjadi karyawan kita sering berlaku pasif, kalo tidak ada kerjaan, kadang kita malah senang, tidak berusaha untuk mencari atau bertanya ke atasan apalagi yang bisa saya kerjakan, kalo perlu malah gak usah ada kerjaan saja. Lain halnya dengan kalo kita sudah punya usaha, kita harus aktif untuk mencari dan menangkap kerjaan dan peluang untuk mendapatkan pendapatan bagi usaha kita sehingga cash flow dapat berjalan.

Tinggalkan kebiasaan lama saat masih menjadi manager (ataupuan jabatan lainnya sata kita masih karyawan), apalagi jika kebiasaan tersebut secara financial membebani keuangan usaha kita. Sebagi contoh sederhana adalah, pada saat kita masih menjadi manager jika kita keluar kota maka kita dari kantor akan mendapatkan fasilitas naik pesawat kelas bisnis, tidur di hotel minimal hotel bintang 4, makan selalu makanan dari hotel. Jika kebiasaan tersebut terbawa terus setelah kita mempunyai usaha terutama saat sedang merintis, maka dapat dipastikan akan membebani biaya operasioanl atau bahkan jangan-jangan laba yang akan kita dapat dari deal bisnis di kota tersebut tidak cukup untuk membiayai perjalanan bisnis kita tersebut. Unutk itu kita mau gak mau harus merubah kebiasan kita tersebut. Misal kalo perjalanan ke luar kota untuk deal bisns, yha cukup naik pesawat kelas ekonomi, tidur di hotel bintang 2 atau 3, makanpun tidak harus selalu di hotel kecuali sarapan yang memang sudah satu paket dengan kamar. 

Harus belajar untuk bisa mengerjakan semuanya secara keseluruhan. Saat kita masih menjadi manager, jika ada kerjaan kita tinggal mendistribusikan kerjaan tersebut kepada bawahan kita, untuk kemudian kita menerima hasil dari pekerjaan dan kita analisa. Ada satu hal yang tidak kita lakukan dalam alur tersebut yaitu proses untuk mendapatkan hasil. Sebagai pemilik usaha, seyogyanya diawal-awal kita juga harus tahu dan mau terlibat bagaimana proses atas usaha kita tersebut berjalan, sehingga kita bisa tahu mana yang masih kurang, mana yang mesti diperbaiki ataupun bagianmana dari usaha kita yang benar-benar potensial untuk dikembangkan. Jika segala sesuatunya diserahkan kepada karyawan, tanpa kita mau tahu atau belajar terhadap prosesnya, maka jika ada karyawan andalan kita keluar maka akan menghambat usaha kita. Lain halnya jika kita memang tahu alur usaha kita, maka jika ada karyawan yang tidak masuk dan tidak ada karyawan lain yang bisa menggantikan, untuk sementara kita sebagai pemilik usaha bisa menggantikannya.

Harus mau mengerjakan hal-hal besar sampai yang kecil sendiri. Ini masih terkait dengan point 2 di atas. Dengan mau mengerjakan hal-hal baik yang besar maupunkecil sendiri, akan menghilangkan ketergantungan kita terhadap karyawan. Bayangkan jika kita baru mulai usaha akan tetapi berjalan atau tidak berjalannya usaha kita tersebut tergantung karyawan, maka usaha kita dijamain akan segera tutup dengan suksesnya. Disamping itu, cara ini juga akan lebih menghemat biaya di awal usaha kita berjalan sehingga tidak membebani cash flow. Akan tetapi setelah usaha kita berjalan, fungsi dalam usaha harus mulai pelan-pelan di delegasikan kepada karyawan, agar usaha juga tidak tergantung kepada individu pemiliknya saja. 

Siap mental dalam menghadapai masalah. Dalam setiap pekerjaan ataupun usaha pasti ada masalahnya yang menimpa. Masalah merupakan ujian bagi kita dan bukan untuk kita hindari tapi justru untuk kita hadapi. Karena jika kita berhasil mengatasi masalah, artinya kita akan naik kelas. Sama seperti sekolah, untuk naik kelas selalu ada ujiannya terlebih dahulu. Untuk mengatasi masalah kita harus berpikir tenang, tidak panik ataupun menyalahkan seseorang atau sesuatu apapun. Berdiskusi dengan keluarga ataupun teman juga akan sangat membantu dalam menyelesaikan masalah. Di Komunitas Tangan Di Atas yang saya ikuti, kami punya kelompok mastermind, kelompok diskusi kecil 5-8 orang untuk sarana saling berbagi belajar dan mencurahkan kesulitan-kesulitan dalam menjalankan usaha. Biasanya teman-teman satu kelompok akan memberikan masukan, pertimbangan bahkan kadang masalah yang kita hadapi ternyatan pernah juga dihadapai salah satu teman dalam mastermind, sehingga kadang kala kita bisa diberitahu cara kita menyelesaikan masalah tersebut atau minimal menjadi referensi bagi kita untuk menyelesaikan masalh yang sedang kita hadapi.

Diantara semua tips tersebut di atas, yang paling penting adalah jangan lupa berdo’a kepada Tuhan dan berbagi kepada sesama baik berbagi ilmu, sodaqoh maupun yang lainnya. Yakinlah bahwa dengan memberi kita akan menerima lebih banyak lagi.

Semoga bermanfa’at.

Selasa, 28 September 2010

DIAGNOSA FINANCIAL & KEBUTUHAN

“Saya pengen usaha, tapi saya kesulitan untuk mengumpulkan modal usaha. Gaji saya pas-pasan dan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja, sedang untuk mengajukan kredit ke bank saya tidak berani untuk berhutang”.

Keluhan seperti di atas, sering kali saya dengar, baik dalam diskusi off line maupun dalam milist-milist yang saya ikuti. Selain mental blocking atas mind set kita dalam mencari rizki, modal, terutama yang dalam bentuk uang, memang sering menjadi kendala tersendiri saat kita memulai usaha. Sering kali kita ragu untuk menggunakan uang yang kita miliki untuk memulai suatu usaha. Ketakutan yang sering kita miliki adalah jika modal tersebut tidak cukup atau bahkan kita tidak punya modal sama sekali.

Bagi anda yang saat ini bekerja sebagai karyawan, dan merasa bahwa gaji anda hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga anda merasa tidak bisa menyisihkan sebagian penghasilan anda untuk mengumpulan modal usaha, cara sederhana sebagaimana tersebut dibawah ini mungkin bermanfaat bagi anda.

Pertama yang harus anda lakukan adalah melakukan diagnosa financial kehidupan anda. Cara ini dapat dilakukan dengan sangat sederhana. Tinggal ambil alat tulis, lalu tuliskan dan buat daftar pengeluaran anda & keluarga sehari-hari, sedetail-detailnya lengkap dengan angkanya. Misal untuk makan berapa rupiahnya, untuk cicilan rumah/motor berapa rupiahnya, uang sekolah anak berapa rupiahnya, uang jalan-jalan berapa rupiahnya, bayar listrik telphon rumah, HP berapa rupiah dan pengeluaran rutin lain-lain yang biasa kita temui.

Yang kedua Lalu kita timbang-timbang, pengeluaran mana yang bisa kita lakukan penghematan. Misal untuk HP biasanya 150 ribu, masak sich gak bisa kita irit menjadi 75 ribu saja. Caranya?? Tinggal mengurangi pemakaian HP yang tidak perlu atau mengurangi biaya listrik, dengan cara menghemat pemakaian listrik di rumah dengan mengganti dengan lampu hemat energi atau hanya menyalakan lampu seperlunya saja. Dan masih banyak lagi cara untuk meminimalisir pengeluaran kita terutama untuk hal-hal yang tidak berguna.

Satu hal lain yang juga akan sangat membantu dalam meminimalisir  pengeluaran kita adalah, pada saat kita akan belanja, sebaiknya kita harus mampu membedakan apakah yang akan kita beli tersebut adalah memang “KEBUTUHAN” atau “KEINGINAN”. Sering kali kita membeli sesuatu hanya karena ingin, bukan karena membutuhkan barang yang kita beli tersebut, akibatnya setelah sampai rumah kadang barang yang sudah dibeli tidak digunakan hanya ditaruh saja di lemari sampai berjamur. Jika kita renungkan lebih dalam, alngkah sayangnya uang yang kita keluarkan untuk membeli sesuatu yang tidak kita butuhkan, coba dikumpulkan saja untuk modal usaha dan langsung dibuka dan dijalankan usahanya, insya Allah hasilnya akan berlipat ganda.

Membuat alokasi penghasilan juga sangat perlu. Caranya adalah dengan membagi penghasilan kita menjadi 3 atau 4 bagian. Misal 30% untuk kebutuhan sehari-hari, 30% untuk ditabung, 30% untuk investasi (modal usaha) dan 10% untuk lain-lain, misal kegiatan sosial atau yang lainya. Lalu kita membuat aturan yang tegas bahwa alokasi yang sudah kita buat tersebut tidak boleh tercampur karena alasan apapun dan segera digunakan sesuai kebutuhannya. Misal yang untuk ditabung yha segera di setorkan ke Bank atau alokasi yang untuk investasi yha segera untuk memulai usaha atau menambah modal usaha.

Susah?? Tidak, jika kita mau untuk menjalankannnya secara konsisten, maka mengumpulkan modal dari kantong sendiri adalah bukan sesuatu yang mustahil.

Semoga berguna.

Senin, 20 September 2010

Jangan Takut Sama Minimarket Terkenal

Pulang ke Malang adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Disamping mengunjungi mertua, juga bisa incip-incip banyak makanan enak seperti rujak cingur, pecel dan kawan-kawanya atau mengenang kembali romantisme masa kuliah beserta segala macam tetek bengeknya.

Saat pulang lebaran ke rumah mertua yang terletak sekitar 50 Km dari Kota Malang, hawa dingin dan hujan deras setiap hari menjadi teman sehari-hari. Tidak banyak yang berubah dari tempat mertua, hanya ada satu perubahan mencolok di desa rumah mertua yaitu berdirinya toko salah satu jaringan minimarket terkenal, di sebelah toko oom istri saya, hanya berjarak sekitar 2-3 toko saja. Dan kabarnya 1-2 bulan lagi, sang minimarket pesaing minimarket yang sudah ada juga akan hadir disitu, malah letkanya persis di samping toko om istri saya tersebut. Maklum kedua minimarket ini kayak metromini, kalo lihat ada yang ngetem dilokasi itu, maka langsung saja yang satunya ikut ngetem.

Iseng-iseng saya tanya om saya tentang omset tokonya setelah adanya minimarket tersebut. Dengan santainya dia menjawab, gak pengaruh, malah sekarang dia ada tempat kulakan dekat dan lebih murah dari pada harus kulakan ke Kota Malang yang lebih jauh dan mahal bensinya. Saat saya Tanya dimana tempat kulaka tersebut, dengan santainya dia menjawab, yha di Minimarket tersebut. Lho kok bisa?? Tanya saya sambil membayangkan apa justru gak lebih mahal jatuhnya harga.

Om istri saya cerita, bahwa dia selama ini mencermati metode jualan dan promosi dari minimarket tersebut. Minimarket itu selalu promosi dengan harga yang lebih murah dari tempat dia kulakan, akan tetapi hanya untuk 5-6 pak pembelian pertama saja dengan minimal pembelian satu orang pembeli 2 pak. Sebagai contoh adalah salah produk air mineral kemasan gelas, om istri saya jika kulakan di Malang sekitar Rp.11.000, minimarket tersebut jika sedang promosi harganya cuma Rp.10.500, sedang harga jual normal adalah Rp.15.000-Rp.16.000. Jika sedang ada promosi, maka dia akan beli langsung 5 pak di minimarket tersebut.

Seperti sudah saya tulis di atas, promosi di minimarket tersebut hanya untuk 5-6 pak pertama, sehingga setelah dibeli 5 pak oleh om istri saya dan anaknya, maka harga air minum kemasan di minimarket tersebut sudah kembali ke harga normal, karena jatah promosi sudah habis di beli om istri saya dan anaknya. Setelah minimarket kembali menjual air minum kemasan dengan harga normal, maka om istri saya juga akan menjual air minum hasil kulakan di minimarket tersebut dibawah harga normal minimarket tapi masih lebih tinggi dari harga kulakannya.

Jadi dia bisa ngirit biaya kulakan ke Malang, tapi barangnya lebih laku dari minimarket tersebut karena harganya lebih murah. Dan minimarket itulah yang membuat dia bisa kulakan murah dan irit.

Jadi kalo mau kreatif, bersaing dengan minimarket terkenal ternyata masih bisa disiasati.
Semoga bermanfaat.

Selasa, 17 Agustus 2010

JANGAN PERNAH BERDO’A MINTA KAYA

Itulah salah satu nasehat almarhum ayah saya yang selalu terngiang ditelinga sampai saat ini. Saat pertama kali mendengarnya ada berjuta pertanyaan yang datang dibenak saya. “kenapa gak boleh minta kaya”?? bukankah Islam mengajarkan, kejarlah duniamu seakan kamu akan hidup selamanya dan kejarlah akhiratmu seakan kamu akan mati esok”??, yang dapat dipersepsikan untuk urusan dunia kita harus kaya raya biar cukup untuk hidup selamanya.

Jawaban atas pertanyaan tersebut saya dapatkaan secara jelas saat kuliah di Malang. Dalam sebuah pengajian yang saya ikuti, sang ustadz berpesan hal yang sama, kali ini disertai penjelasan yang patut untuk direnungkan. Antara lain, jika kita berdo’a minta kaya, maka jika Allah mengabulkannya, maka dikhawatirkan akan membuat kita tenggelam dalam urusan kekayaan semata dan melupakan urusan akhiratnya yang menjadi kewajiban atas kekayaan itu. Disamping itu, kekayaan yang diberikan Allah tersebut jangan-jangan bukanlah nikmat yang sesungguhnya. Akan tetapi adalah ISTIDJRAT, atau ujian atau cobaan dari Allah yang dirupakan dalam bentuk kekayaan, jika kita tidak sadar kemudian kita tidak lulus ujian tersebut, Allah pasti akan mengambilnya kembali, karena kita belum pantas untuk menjadi kaya. Disamping itu, kita dikhawatirkan akan menjadi serakah, karena seberapapun kekayaan yang diberikan Allah kita pasti tidak akan merasa puas, ujung-ujungnya akan menghalalkan segala cara untuk menjadi lebih kaya lagi.

Lalu kita harus berdo’a yang bagaimana?? Berdo’alah minta rizki yang halal, lancar, luas serta barokah. Jika do’akita seperti tersebut diatas, maka dalam do’a kita terkandung unsur kehati-hatian, karena hanya minta rizki yang halal saja dari Allah, yang lancar, luas serta mempunyai unsur rizki yang barokah. Lalu apa ukurannya rizki yang barokah?? Salah satu tolak ukur rizki yang barokah adalah jika rizki kita tersebut mempunyai dan mendatangkan manfaat juga bagi orang lain. Sehingga mendorong kita untuk selalu bersodaqoh, mengeluarkan zakat sesuai kewajiban kita serta selalu bersyukur kepada Allah atas rizki yang diberikan-Nya.

Dalam do’a minta rizki yang halal dan barokah juga terkandung filter agar rizki yang diberikan oleh Allah adalah rizki yang terseleksi, yaitu harta yang benar-benar berupa rizki yang merupakan NIKMAT atau rizki yang diberikan oleh Allah tanpa mengandung ujian ataupun cobaan apapun dan bukan sebuah ISTIDJRAT.

Asalkan kita tidak lupa untuk mengeluarkan titipan untuk anak yatim dan kaum dhu’afa, insya Allah rizki yang akan datang adalah benar-benar NIKMAT.

Allahuma Nas’aluka ilman nafi’an, wa rizkon wasi’an wa halalan thoyiban.. Amin.

Semoga bermanfaat.