Tampilkan postingan dengan label tips memulai usaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips memulai usaha. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Oktober 2010

TIPS SEDERHANA BAGI PELAKU USAHA PEMULA

Ada seorang kawan, mantan national manager di sebuah perusahaan multinasional dengan prestasi kerja yang bagus. Beliau ini sudah sekitar 1,5 tahunan resign untuk kemudian banting setir menjadi seorang wirausaha. Beliau berkeluh kesah tentang usaha yang sedang di jalaninya, hasil tidak seberapa, tabungan kok makin menyusut bukanya malah bertambah dari hasil usahanya tersebut. Saat pertama kali berniat terjun menjadi seorang wirausaha, beliau cerita yang ada di pikiran beliau adalah “lha wong saya memanage perusahaan besar (tempat di bekerja) dengan jaringan multinasional aja bisa dan sukses, kenapa menjalankan perusahaan kecil (usaha sendiri) tidak bisa??”,

Kenyataannya setelah dia jalani justru terbalik, usahanya tidak maju sepesat kemajuan perusahaan lama tempat dia pernah jadi national manager, yang ada malah tabungan dari gaji selama bertahun-tahun ludes tersedot untuk aktifitas usaha tidak sebading dengan pendapatan dari usaha barunya tersebut.. Menurut yang bersangkutan, semua ilmu dan praktek manajamen yang pernah dia baca dan praktekan sudah diterapkan, tapi ternyata tidak membawa hasil, lalu salahnya dimana???. Coba kita ukur dengan tips yang saya dapatkan dari sebuah ceramah di Intelectual Business Community, sebagai berikut:

Rubah mindset kita dari mindset karyawan menjadi mindset pengusaha. Salah satu mindset yang harus kita rubah adalah dalam hal keatktifan kita dalam merespon sesuatu. Dulu saat masih menjadi karyawan kita sering berlaku pasif, kalo tidak ada kerjaan, kadang kita malah senang, tidak berusaha untuk mencari atau bertanya ke atasan apalagi yang bisa saya kerjakan, kalo perlu malah gak usah ada kerjaan saja. Lain halnya dengan kalo kita sudah punya usaha, kita harus aktif untuk mencari dan menangkap kerjaan dan peluang untuk mendapatkan pendapatan bagi usaha kita sehingga cash flow dapat berjalan.

Tinggalkan kebiasaan lama saat masih menjadi manager (ataupuan jabatan lainnya sata kita masih karyawan), apalagi jika kebiasaan tersebut secara financial membebani keuangan usaha kita. Sebagi contoh sederhana adalah, pada saat kita masih menjadi manager jika kita keluar kota maka kita dari kantor akan mendapatkan fasilitas naik pesawat kelas bisnis, tidur di hotel minimal hotel bintang 4, makan selalu makanan dari hotel. Jika kebiasaan tersebut terbawa terus setelah kita mempunyai usaha terutama saat sedang merintis, maka dapat dipastikan akan membebani biaya operasioanl atau bahkan jangan-jangan laba yang akan kita dapat dari deal bisnis di kota tersebut tidak cukup untuk membiayai perjalanan bisnis kita tersebut. Unutk itu kita mau gak mau harus merubah kebiasan kita tersebut. Misal kalo perjalanan ke luar kota untuk deal bisns, yha cukup naik pesawat kelas ekonomi, tidur di hotel bintang 2 atau 3, makanpun tidak harus selalu di hotel kecuali sarapan yang memang sudah satu paket dengan kamar. 

Harus belajar untuk bisa mengerjakan semuanya secara keseluruhan. Saat kita masih menjadi manager, jika ada kerjaan kita tinggal mendistribusikan kerjaan tersebut kepada bawahan kita, untuk kemudian kita menerima hasil dari pekerjaan dan kita analisa. Ada satu hal yang tidak kita lakukan dalam alur tersebut yaitu proses untuk mendapatkan hasil. Sebagai pemilik usaha, seyogyanya diawal-awal kita juga harus tahu dan mau terlibat bagaimana proses atas usaha kita tersebut berjalan, sehingga kita bisa tahu mana yang masih kurang, mana yang mesti diperbaiki ataupun bagianmana dari usaha kita yang benar-benar potensial untuk dikembangkan. Jika segala sesuatunya diserahkan kepada karyawan, tanpa kita mau tahu atau belajar terhadap prosesnya, maka jika ada karyawan andalan kita keluar maka akan menghambat usaha kita. Lain halnya jika kita memang tahu alur usaha kita, maka jika ada karyawan yang tidak masuk dan tidak ada karyawan lain yang bisa menggantikan, untuk sementara kita sebagai pemilik usaha bisa menggantikannya.

Harus mau mengerjakan hal-hal besar sampai yang kecil sendiri. Ini masih terkait dengan point 2 di atas. Dengan mau mengerjakan hal-hal baik yang besar maupunkecil sendiri, akan menghilangkan ketergantungan kita terhadap karyawan. Bayangkan jika kita baru mulai usaha akan tetapi berjalan atau tidak berjalannya usaha kita tersebut tergantung karyawan, maka usaha kita dijamain akan segera tutup dengan suksesnya. Disamping itu, cara ini juga akan lebih menghemat biaya di awal usaha kita berjalan sehingga tidak membebani cash flow. Akan tetapi setelah usaha kita berjalan, fungsi dalam usaha harus mulai pelan-pelan di delegasikan kepada karyawan, agar usaha juga tidak tergantung kepada individu pemiliknya saja. 

Siap mental dalam menghadapai masalah. Dalam setiap pekerjaan ataupun usaha pasti ada masalahnya yang menimpa. Masalah merupakan ujian bagi kita dan bukan untuk kita hindari tapi justru untuk kita hadapi. Karena jika kita berhasil mengatasi masalah, artinya kita akan naik kelas. Sama seperti sekolah, untuk naik kelas selalu ada ujiannya terlebih dahulu. Untuk mengatasi masalah kita harus berpikir tenang, tidak panik ataupun menyalahkan seseorang atau sesuatu apapun. Berdiskusi dengan keluarga ataupun teman juga akan sangat membantu dalam menyelesaikan masalah. Di Komunitas Tangan Di Atas yang saya ikuti, kami punya kelompok mastermind, kelompok diskusi kecil 5-8 orang untuk sarana saling berbagi belajar dan mencurahkan kesulitan-kesulitan dalam menjalankan usaha. Biasanya teman-teman satu kelompok akan memberikan masukan, pertimbangan bahkan kadang masalah yang kita hadapi ternyatan pernah juga dihadapai salah satu teman dalam mastermind, sehingga kadang kala kita bisa diberitahu cara kita menyelesaikan masalah tersebut atau minimal menjadi referensi bagi kita untuk menyelesaikan masalh yang sedang kita hadapi.

Diantara semua tips tersebut di atas, yang paling penting adalah jangan lupa berdo’a kepada Tuhan dan berbagi kepada sesama baik berbagi ilmu, sodaqoh maupun yang lainnya. Yakinlah bahwa dengan memberi kita akan menerima lebih banyak lagi.

Semoga bermanfa’at.

Selasa, 28 September 2010

DIAGNOSA FINANCIAL & KEBUTUHAN

“Saya pengen usaha, tapi saya kesulitan untuk mengumpulkan modal usaha. Gaji saya pas-pasan dan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja, sedang untuk mengajukan kredit ke bank saya tidak berani untuk berhutang”.

Keluhan seperti di atas, sering kali saya dengar, baik dalam diskusi off line maupun dalam milist-milist yang saya ikuti. Selain mental blocking atas mind set kita dalam mencari rizki, modal, terutama yang dalam bentuk uang, memang sering menjadi kendala tersendiri saat kita memulai usaha. Sering kali kita ragu untuk menggunakan uang yang kita miliki untuk memulai suatu usaha. Ketakutan yang sering kita miliki adalah jika modal tersebut tidak cukup atau bahkan kita tidak punya modal sama sekali.

Bagi anda yang saat ini bekerja sebagai karyawan, dan merasa bahwa gaji anda hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga anda merasa tidak bisa menyisihkan sebagian penghasilan anda untuk mengumpulan modal usaha, cara sederhana sebagaimana tersebut dibawah ini mungkin bermanfaat bagi anda.

Pertama yang harus anda lakukan adalah melakukan diagnosa financial kehidupan anda. Cara ini dapat dilakukan dengan sangat sederhana. Tinggal ambil alat tulis, lalu tuliskan dan buat daftar pengeluaran anda & keluarga sehari-hari, sedetail-detailnya lengkap dengan angkanya. Misal untuk makan berapa rupiahnya, untuk cicilan rumah/motor berapa rupiahnya, uang sekolah anak berapa rupiahnya, uang jalan-jalan berapa rupiahnya, bayar listrik telphon rumah, HP berapa rupiah dan pengeluaran rutin lain-lain yang biasa kita temui.

Yang kedua Lalu kita timbang-timbang, pengeluaran mana yang bisa kita lakukan penghematan. Misal untuk HP biasanya 150 ribu, masak sich gak bisa kita irit menjadi 75 ribu saja. Caranya?? Tinggal mengurangi pemakaian HP yang tidak perlu atau mengurangi biaya listrik, dengan cara menghemat pemakaian listrik di rumah dengan mengganti dengan lampu hemat energi atau hanya menyalakan lampu seperlunya saja. Dan masih banyak lagi cara untuk meminimalisir pengeluaran kita terutama untuk hal-hal yang tidak berguna.

Satu hal lain yang juga akan sangat membantu dalam meminimalisir  pengeluaran kita adalah, pada saat kita akan belanja, sebaiknya kita harus mampu membedakan apakah yang akan kita beli tersebut adalah memang “KEBUTUHAN” atau “KEINGINAN”. Sering kali kita membeli sesuatu hanya karena ingin, bukan karena membutuhkan barang yang kita beli tersebut, akibatnya setelah sampai rumah kadang barang yang sudah dibeli tidak digunakan hanya ditaruh saja di lemari sampai berjamur. Jika kita renungkan lebih dalam, alngkah sayangnya uang yang kita keluarkan untuk membeli sesuatu yang tidak kita butuhkan, coba dikumpulkan saja untuk modal usaha dan langsung dibuka dan dijalankan usahanya, insya Allah hasilnya akan berlipat ganda.

Membuat alokasi penghasilan juga sangat perlu. Caranya adalah dengan membagi penghasilan kita menjadi 3 atau 4 bagian. Misal 30% untuk kebutuhan sehari-hari, 30% untuk ditabung, 30% untuk investasi (modal usaha) dan 10% untuk lain-lain, misal kegiatan sosial atau yang lainya. Lalu kita membuat aturan yang tegas bahwa alokasi yang sudah kita buat tersebut tidak boleh tercampur karena alasan apapun dan segera digunakan sesuai kebutuhannya. Misal yang untuk ditabung yha segera di setorkan ke Bank atau alokasi yang untuk investasi yha segera untuk memulai usaha atau menambah modal usaha.

Susah?? Tidak, jika kita mau untuk menjalankannnya secara konsisten, maka mengumpulkan modal dari kantong sendiri adalah bukan sesuatu yang mustahil.

Semoga berguna.