Minggu, 24 April 2011

AYO BERJAMA’AH (BERKOMUNITAS)

Banyak kawan yang bertanya kepada saya tentang bagaimana caranya untuk bisa memulai usaha dan menjalankan usaha tersebut terus menerus dan konsisten. Biasanya ada dua jawaban yang saya berikan yang pertama modal paling penting untuk buka usaha adalah nekat, jangan banyak mikir dan perhitungan, jawaban yang kedua untuk pertanyaan bagaimana menjalankan usaha secaraterus menerus dan konsisten biasanya saya jawab bergaulah, dengan cara ikut komunitas pengusaha dan biasanya komunitas pengusaha yang saya rekomendasikan adalah TDA.  

Biasanya kemudian muncul pertanyaan susulan ”kenapa harus ikut komunitas???”.

Menurut saya ada beberapa hal yang bisakita jadikan renungan kenapa kita harus ikut komunitas antara lain :

Yang Pertana, pernah dengar lagu tombo ati khan?? Salah satu makna yang dapat kita tangkap dalam syair lagu tombo ati adalah jika kita mau jadi orang soleh maka berkumpulah dengan orang soleh. Maka jika kita ingin jadi pengusaha yha harus berkumpul dengan pengusaha juga, jangan berkumpul dengan bangsawan alias bangsa tiap bulan penerima gajian, kita tidak akan pernah menjadi pengusaha tapi hanya akan menjadi penerima gajian tiap bulan. Lalu kalo mau jadi pengusaha yangsoleh ikut komunitas mana. Yha jelas ikut Komunitas Tangan Di Atas aliasTDA tadi he.. he.., kalo nggak percaya silahakn cari infonya di www.tangandiatas.com atau www.tdabekasi.com atau baca www.alfarisifadjari.blogspot.com

Yang Kedua, menurut Henry Ford, ”datang bersama adalah sebuah awal, tetap bersama adalah sebuah kemajuan dan bekerja bersama adalah sebuah kesuksesan”.  Dari ungkapan tersebut diatas, jelas kebersamaan jelas akan lebih bisa membuat kita sukses, asalkan kebersamaan tersebut dapat membawa manfaat bagi semua anggota yang terlibat didalamnya. Lagi-lagi untuk urusan ini anda akan menemukannya di TDA. Sekedar ikut milist TDA saja, anda akan mendapatkan ilmu-ilmu kanuragan yang luar biasa, melalui tulisan-tulisan yang hebat dan sharing pengalaman maupun tips usaha yang aplikatif.
                               
Yang ketiga menurut saya, manfaat berkomunitas sangat banyak. Networking adalah yang paling utama. Usaha tanap networking tidak akan bisa berkembang dengan cepat dan besar. Informasi tentang pasar, target konsumen kita sampai info tentang tentang tempat produksi yang murah, atau tempat kulakan barang yang murah akan sangat mudah kita dapatkan dalam lingkungan komunitas. Belum lagi kesempatan untuk bersinergi dengan teman satu komunitas utnuk mengembangkan usaha yang sudah kita jalani atau untuk melahirkan usaha baru dan masih banyak lagi manfaat-manfaat yang akan kita dapatkan.

The last but not least adalah kita harus ingat pepatah ”bersatu kita teguh, bercerai yha kawin lagi biar tidak runtuh” he.. he... maksudnya kalo usaha kita dalam kondisi tercerai berai, siapa tahu dapat investor di komunitas untuk membangkitkan usaha kita lagi sebelum benar-benar runtuh...

Selamat berkomunitas....

Selasa, 18 Januari 2011

TIME VALUE OF MONEY

Pada waktu mengisi salah satu sesi di BSI Entrepreneur Camp, ada salah satu peserta yang bertanya kira-kira seperti ini “Saya berbisnis pakaian, bagaimana cara menghabiskan stok pakaian yang sudah ketinggalam trend???”. Menurut saya ada dua hal yang harus dilakukan, cara pertama adalah simpan aja stock pakaian yang tersisa, toh model pakaian itu hanya berputar saja, beberapa waktu kemudian model yang sudah tidak ngetrend lagi pasti akan ngetrend lagi, jualah pada saat mode itu kembali ngetrend. Tapi melakukan cara ini ada resikonya, yaitu kita menahan barang, kalo barang ketahan, gak ada cash flow masuk, jadi ada cash flow yang tidak bisa berputar, makanya harus dipastikan jika kita melakukan cara ini tidak akan menganggu cash flow usaha kita.

Cara yang kedua adalah menjual seharga kita kulakan bahkan dibawah harga kulakan juga tidak apa-apa asal barang tersebut bisa jadi uang. Lho khan rugi?? Menurut saya tidak, jika kita cermat berhitung. Sebagai ilustrasi adalah sebagai berikut:

Jika kita belanja pakaian 100 potong misalnya, harga kulakan adalah 50 ribu, lalu kita jual lagi seharag 80 ribu, maka tiap potong kita untung 30 ribu. Pada saat pakaian tersebut sedang mode kita bisa menjual 75 potong artinya kita untung 30 ribu kali 75 atau total Rp.2.250.000,-. Stok tersisa 25 potong dan tiba-tiba pakaian tersebut sudah tidak ngetrend sehingga sulit laku di harga 80 ribu. Menurut saya kalo saat sudah tidak ngetrend ada yang mau beli, jual aja di harga 50 ribu atau bahkan 40 ribu, tapi rugi 10 ribu/pcs, benar bahkan 250 ribu karena 10 ribu kali 25 pcs.

Tapi sebenarnya rugi gak sich?? Menurut saya tidak rugi. Kok bisa?? Yang pertama kita harus ingat di awal dari penjualan yang 75 pcs kita sudah untung Rp.2.250.000, jadi kalo di total kita masih untung 2 juta khan. Yang kedua, dari hasil penjualan 25 pcs pakaian sisa kita akan mendapatkan uang 25 kali 40 ribu atau 1 juta. Uang satu juta tersebut, kita bisa putarkan lagi dan insya Allah akan memberikan keuntungan melebihi kerugian yang 250 ribu tersebut. Jika dengan perputaran usaha dengan modal 1 juta tiap bulan kita bisa untung 200 ribu aja, maka setahun bisa untung 2,4 juta. Bayangkan jika kita pakai cara yang pertama, kita tahan pakaian sampai ngetrend lagi.. maka kerugian kita justru akan berlipat, keuntungan yang 2,4 juta tidak akan kita dapatkan. Belum lagi kalo ngetrendnya 2 tahun lagi, berapa kerugian yang harus kita tanggung...

Itulah yang disebut Time Value of Money. Nilai uang tergantung kapan kita menggunakan uang tersebut. Cara tersebut saya dapatkan saat membantu BPPN melakukan restrukturisasi hutang pada zaman-zaman krisis moneter dulu. Banyak kredit yang macet mencapai ratusan milyar bahkan trilyunan. Salah satu ilustrasi penyelesaian kredit macet waktu itu adalah, ada satu perusahaan yang kredit macetnya sampai 500 milyar, terdiri dari hutang pokok 300 milyar, bunga tertunggak 100 milyar denda dan penalti 100 milyar. Saat pembicaraan penyelesaian kredit macet tersebut sang dibeitur bilang, saya kalo harus membayar 500 milyar tidak bisa saat ini, kalopun bisa yha harus dicicil 15-20 tahun. Tapi kalo Bank mau saya hanya bayar pokoknya saja, minggu depan saya lunasi. Tanpa di duga Banknya mau, bahkan dibelakang layar dia bilang, sebenarnya kalo dia bayar cuma 200 milyar saja, bank juga mau.

Pada waktu mengisi salah satu sesi di BSI Entrepreneur Camp, ada salah satu peserta yang bertanya kira-kira seperti ini “Saya berbisnis pakaian, bagaimana cara menghabiskan stok pakaian yang sudah ketinggalam trend???”. Menurut saya ada dua hal yang harus dilakukan, cara pertama adalah simpan aja stock pakaian yang tersisa, toh model pakaian itu hanya berputar saja, beberapa waktu kemudian model yang sudah tidak ngetrend lagi pasti akan ngetrend lagi, jualah pada saat mode itu kembali ngetrend. Tapi melakukan cara ini ada resikonya, yaitu kita menahan barang, kalo barang ketahan, gak ada cash flow masuk, jadi ada cash flow yang tidak bisa berputar, makanya harus dipastikan jika kita melakukan cara ini tidak akan menganggu cash flow usaha kita.

Cara yang kedua adalah menjual seharga kita kulakan bahkan dibawah harga kulakan juga tidak apa-apa asal barang tersebut bisa jadi uang. Lho khan rugi?? Menurut saya tidak, jika kita cermat berhitung. Sebagai ilustrasi adalah sebagai berikut:

Jika kita belanja pakaian 100 potong misalnya, harga kulakan adalah 50 ribu, lalu kita jual lagi seharag 80 ribu, maka tiap potong kita untung 30 ribu. Pada saat pakaian tersebut sedang mode kita bisa menjual 75 potong artinya kita untung 30 ribu kali 75 atau total Rp.2.250.000,-. Stok tersisa 25 potong dan tiba-tiba pakaian tersebut sudah tidak ngetrend sehingga sulit laku di harga 80 ribu. Menurut saya kalo saat sudah tidak ngetrend ada yang mau beli, jual aja di harga 50 ribu atau bahkan 40 ribu, tapi rugi 10 ribu/pcs, benar bahkan 250 ribu karena 10 ribu kali 25 pcs.

Tapi sebenarnya rugi gak sich?? Menurut saya tidak rugi. Kok bisa?? Yang pertama kita harus ingat di awal dari penjualan yang 75 pcs kita sudah untung Rp.2.250.000, jadi kalo di total kita masih untung 2 juta khan. Yang kedua, dari hasil penjualan 25 pcs pakaian sisa kita akan mendapatkan uang 25 kali 40 ribu atau 1 juta. Uang satu juta tersebut, kita bisa putarkan lagi dan insya Allah akan memberikan keuntungan melebihi kerugian yang 250 ribu tersebut. Jika dengan perputaran usaha dengan modal 1 juta tiap bulan kita bisa untung 200 ribu aja, maka setahun bisa untung 2,4 juta. Bayangkan jika kita pakai cara yang pertama, kita tahan pakaian sampai ngetrend lagi.. maka kerugian kita justru akan berlipat, keuntungan yang 2,4 juta tidak akan kita dapatkan. Belum lagi kalo ngetrendnya 2 tahun lagi, berapa kerugian yang harus kita tanggung...

Itulah yang disebut Time Value of Money. Nilai uang tergantung kapan kita menggunakan uang tersebut. Cara tersebut saya dapatkan saat membantu BPPN melakukan restrukturisasi hutang pada zaman-zaman krisis moneter dulu. Banyak kredit yang macet mencapai ratusan milyar bahkan trilyunan. Salah satu ilustrasi penyelesaian kredit macet waktu itu adalah, ada satu perusahaan yang kredit macetnya sampai 500 milyar, terdiri dari hutang pokok 300 milyar, bunga tertunggak 100 milyar denda dan penalti 100 milyar. Saat pembicaraan penyelesaian kredit macet tersebut sang dibeitur bilang, saya kalo harus membayar 500 milyar tidak bisa saat ini, kalopun bisa yha harus dicicil 15-20 tahun. Tapi kalo Bank mau saya hanya bayar pokoknya saja, minggu depan saya lunasi. Tanpa di duga Banknya mau, bahkan dibelakang layar dia bilang, sebenarnya kalo dia bayar cuma 200 milyar saja, bank juga mau.

Saya jadi bertanya apa gak rugi?? Orang bank tersebut menjawab Nilai uang itu tergantung waktunya [time value of money]. Lebih lanjuta dia menjelaskan, bayangkan kalo dia walaupun membayar penuh 500 milyar harus mencicil selama 15 – 20 tahun seperti mau dia, kita justru rugi. Yang pertama masih ada resiko macet lagi, gak ada jaminan cicilan akan lancar. Kalo dia kasih 300 milyar tapi cash, uang tersebut masih dapat kita putar lagi untuk memberikan kredit kepada debitar yang baik kemmapuan bayarnya. Keuntungannya silahkan hitung sendiri, jika bunga kredit 12% setahun dalam 15-20 tahun kita akan mendapatkan untung lebih dari 500 milyar, dari debitur yang baik tersebut.

Jadi jangan takut untuk mensual rugi stok yang ada di kita selama hitungan secara keseluruhan masih mendatangakn keuntungan seperti ilustrasi pertama saya tentang pakaian yang sudah tidak ngetrend. Lebih baik pegang cash untuk kita putarkan lagi untuk mendapatkan keuntungan dari pada pegang barang/produk yang susah lakunya.

Semoga bermanfaat.

Minggu, 02 Januari 2011

GDP USD3000 VS Pemerataan Pendapatan dan Kemampuan Belanja (Sisi Lain)

Pembicaraan GDP USD3000 sedang hangat-hangatnya menjadi pembicaraan tahun 2011. Karena katanya dengan GDP USD3000 berarti Indonesia sedang menuju tahapan seperti China atau Korea saat mulai menuju kemakmuran ekonomi seperti saat ini. Bahkan di TDA GDP USD3000 ini juga menjadi pembicaraahn hangat untuk menentukan strategi pemasaran produk di tahun 2011 ini.

Sebenarnya makhluk apa GDP itu?? Dikutip dari www.belajarforex.com, GDP suatu negara dapat didefinisikan sebagai total nilai penjualan barang dan jasa suatu negara dalam setahun. Jadi dalam skala yang lebih kecil, misalnya sebuah toko handphone, maka GDP dari toko handphone tersebut adalah omset total nilai penjualan handphone (barang) dan servis handphone (jasa) dalam setahun. Nah kalau dalam skala 'Negara' maka produk berarti semua barang yang dijual / dihasilkan di negara tersebut, dari minyak mentah, kelapa sawit, kopra, bahan mentah, bahan setengah jadi, sepatu, alat pancing, pesawat terbang sampai tusuk gigi. Sedangkan untuk jasa, mencakup dari jasa servis mobil, pijat refleksi di salon kecantikan, sampai jasa transaksi keuangan. Yang perlu diperhatikan adalah produk dan jasa yang dihitung disini adalah berdasarkan produk dan jasa yang dikenai pajak, jadi kalau jasa naik becak nga masuk disini karena nga kena pajak (PPN).

Dengan menghitung total penjualan barang & jasa maka akan ketahuan total kemampuan belanja seluruh warga negara, dengan mengetahui total kemampuan belanja maka akan ketahuan pendapatan tiap warga negara, dengan cara membagi total penjualan barang dan jasa dibagi jumlah warga negara maka akan didapat GDP per kapita warga negara.

Terus dimana permasalahan dari kabar bahwa Indonesia sudah ber GDP USD3000?? Satu hal yang tidak pernah terbuka dalam setiap survey tentang GDP ataupun GDP per kapita di Indonesia adalah gradasi kesenjangan ekonomi antara yang ber-GDP USD30.000 atau bahkan USD100.000 dengan yang ber GDP Cuma USD700 atau bahkan kurang. Hukum Pareto 20-80 untuk tingkat pendapatan/kemampuan belanja di Indonesia tetaplah berlaku. Yaitu pendapatan/kemampuan belanja 20% warga negara Indonesia meng-upgrade pendapatan/kemampuan belanja 80% warga negara Indonesia, jurang atau gradasinyapun terlalu tinggi.

Sebagai contoh sederhana, jika anda karyawan, silahkan hitung di tempat anda bekerja, jumlah krekan anda yang bergaji di atas 5 juta (supervisor) dengan yang dibawah 5 juta atau bahkan hanya bergaji level UMR 1,1 juta dan kemudian buat perbandingan dalam prosentase atau jika anda pengusaha hitung jumlah karyawan anda yang ber GDP USD3000 bandingkan dengan yang dibawah angka tersebut, maka hukum pareto tersebut di atas akan berlaku, bahkan bisa jadi lebih parah. Jadi sebenarnya orang Indonesia yang ber GDP kurang dari USD3000 lebih banyak dari pada yang ber GDP diatas USD3000.

Optimisme Indonesia akan segera mengikuti jejak China dan Korea Selatan setelah mencapai GDPUSD3000, dalam hemat saya pribadi dapat saja tercapai, hanya saja perlu perbaikan di banyak bidang. Salah satunya adalah dengan menciptakan pemerataan pendapatan yang lebih luas, sehingga GDP USD3000 benar-benar dinikmati oleh seluruh warga negara tanpa ada gradasi. Salah satu cara untuk mencapainya adalah dengan melindungi dan memajukan ekonomi kerakyatan bukan model konglomerasi dan liberalisme seperti sekarang ini. Indonesia bahkan ditengaraisudah liberal jika dibandingkan Amerika sekalipun. Amerika masih memproteksi petani gandumnya, bagaimana dengan kita?? Petani yang menanam padi yang merupakan kebutuhan pokok saja diperlukukan secara buruk, pupuk yang mahal dan langka sampai hasil panen yang tidak terbeli dengan harga layak. Lihatlah China yang mampu melindungi usaha skala kecilnya hingga mampu melakukan ekspor kemana-mana, dari mulai elektronik, HP, sampai sepeda motor dan mobil.

Dengan memajukan ekonomi kerakyatan, maka akan menambah pendapatan bagi rakyat sekaligus menambah daya beli masyarakat. Dengan menambah daya beli maka perhitungan GDP akan menjadi lebih realistis, karena yang terlibat dalam pembelian barang hasil produksi di negara ini lebih banyak, sehingga tiidak ada lagi cerita pendapatan 20% warga negara mengupgrade pendapatan 80% sisanya.

Anda ingin berpartisipasi dalam membuat GDP USD3000 lebih realistis secara perhitungan?? Gampang caranya.. naikan gaji karyawan anda sehingga mencapai GDP USD3000 he... he.. jangan melulu berpatokan pada UMR saja.

Selasa, 30 November 2010

MEREK, PATEN DAN CIPTA


Sering kali kita mendengar celutukan …”wah.. merek saya sudah dipatenkan…” atau ..”lagu saya sudah saya patenkan..”. Celutukan tersebut sebenarnya salah kaprah. Karena Merek, Cipta dan Paten merupakan sesuatu yang berbeda sangat jauh.

Menurut Undang-undang No.15 tahun 2001, tentang Merek, yang dimaksud dengan Merek adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa.
Singkatnya merek merupakan tanda baik dalam bentuk gambar, tulisan, angka, huruf maupun kombinasi dari semuanya yang merupakan identitas dari produk kita untuk membedakan dengan produk milik pihak lain. Misalnya saya punya produk bakso, untuk membedakan bakso hasil produksi saya dengan hasil produksi orang lain, maka saya memberi identitas pada bakso saya dengan nama Bakso Bakar Barbeque, sehingga orang tahu kalo ada bakso kemasan dengan label bakso baker barbeque yang sudah terkenal enaknya, maka itulah bakso produksi saya.

Sedangkan hak cipta, menurut undang-undang No.19 tahun 2002, merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Singkatnya, hak cipta biasanya diberikan untuk penemuan dalam bidang seni ataupun program computer. Dalam undang-undang tersebut, beberapa penemuan atau ciptaan yang dilindungi dapat berupa ciptaan untuk :

a.     buku, Program Komputer, pamflet, perwajahan (lay out) karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain;
b.     ceramah, kuliah, pidato, dan Ciptaan lain yang sejenis dengan itu;
c.      alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan;
d.     lagu atau musik dengan atau tanpa teks;
e.     drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomim;
f.      seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase, dan seni terapan;
g.     arsitektur;
h.     peta;
i.      seni batik;
j.      fotografi;
k.     sinematografi;
l.      terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, database, dan karya lain dari hasil pengalihwujudan.

Dalam literatur hak cipta ini sebenarnya otomatis melekat secara langsung kepada penciptanya atas ciptaaanya, walaupun tidak didaftarkan. Misalnya kita membuat sebuah buku, kemudian buku tersebut kita launching, maka begitu diumumkan kepada khalayak, maka hak cipta atas buku tersebut sudah kita miliki. Hanya saja kemudian untuk ketertiban adminsitrasi, maka undang-undang juga mensyaratkan harus adanya pendaftaran atas hak cipta tersebut.

Hak paten diatur dalam UU Nomor 14 tahun 2001. Paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada Inventor atas hasil Invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri Invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya. 

Hak paten merupakan hak yang diberikan kepada para penemu dalam bidang tekhnologi, baik teknologi yang canggih sampai tekhnologi yang sederhana. Tekhnologi yang dapat daftarkan tidak melulu tentang teknologi baru yang berkenaan dengan hal-hal yang canggih seperti penemuan pesawat terbang, komputer, mobil ataupun hal-hal canggih lainnya. Ttapi tekhnologi yang sederhana juga dapat dimintakan patenya sepanjang mengandung unsur kebaruan didalamnya. Misalnya cara membuat bakso... sepanjang kita bisa membuktikan ada cara terbaru untuk membuat bakso yang berbeda dengan yang sudah ada pada umumnya, maka kita dapat mendaftarkannya ke Dirjen HAKI.

Semoga uraian tersebut di atas dapat memberi pemahaman dasar tentang Hak merek, cipta ataupun paten dan tidak ada lagi yang bilang.. wahh.... ”Merek saya sudah saya patenkan”... atau ”lagu saya sudah saya patenkan..”  atau ”sayang sedang mendaftarkan untuk mempantenkan merek saya nich”.. he.. he..


Rabu, 10 November 2010

BELAJAR DARI IKUT JUALAN DI EVENT BESAR

Ada rasa senang, kaget dan masih tidak percaya saat mendapat telephone dari EO penyelenggara konser musik yang diadakan salah satu perusahaan besar penghasil soft drink bersoda untuk mengisi stand food court dalam konser musik tersebut. Dalam konser yang mendatangkan band-band besar di Indonesia seperti Gigi, Naif maupun Kotak tersebut ditargekan dihadiri oleh 3000 penonton. Langsung saja otak ini menghitung omset yang bisa didapat, jika kita mentarget 10% saja dari penonton yang hadir atau 300 orang mau beli bakso, dengan harga jual 6 ribu per porsi, maka sudah terbayang omset sehari adalah 300 x 6.000 = Rp.1.800.000,-, jika margin adalah 50% dari omset untung jualan sehari dari jam 2 siang smp jam 10 malam adalah 900 ribu, mantap tho…he.. he..

Membayangkan hal tersebut, maka dengan semangat 45, langsung saja saya iyakan tawaran tersebut, apalagi mendapat stand gratis tanpa harus bayar apapun. Langusng saja persiapan dibuat, belanja ini dan itu dan cari karyawan lepas yang mau membantu jualan. Singkat kata hari Sabtu tanggal 6 November meluncur ke Lapangan D di Gelora Bung Karno Senayan tempat acara berlangsung. Disana ada sekitar 20 tenda food court, mulai dari Kebab Turki, Pempek, Burger sampai batagor.

Mulai habis dhuhur terlihat, sudah banyak penonton yang masuk ke dalam area konser musik. Penonton yang datang rata2 didominasi anak-anak muda dan remaja dengan dandanan standar anak band dan remaja gaul. Sempat terlintas pikiran buruk juga saat melihat penonton yang datang, dalam hati “kalo yang datang model begini, pada punya uang untuk jajan gak yha he.. he..”

Kekhawatiran itu semakin besar, karena sampai sekitar jam 4 sore, baru 1 orang yang datang untuk makan bakso kuah, sedangkan di stand samping kami yang menjual kebab turki mulai rame pembeli. Alhasil hanya bisa ngelus dada dan tidak henti-hentinya menenangkan pikiran untuk tetap berpikir positif. Berkah itu akhirnya datang menjelang maghrib, ada serombongan anak remaja yang dari tadi mondar-mandir melihat stand-stand food court dari ujung ke ujung, sepertinya membandingkan harga makanan yang ada, akhirnya yang dipilih adalah stand bakso baker barbeque, 3 porsi bakso kuah dan 2 porsi bakso bakarpun dipesan. Alhamdulillah setelah itu, stand kami mulai rame dengan pembeli, bahkan hingga jam 10 malam, masih ada aja yang datang untuk membeli bakso, total hampir 100 porsi terjual, walaupun kurang dari 1/3 dari target, kami tetap bersyukur.

Bagaimana dengan stand lain?? Dari perbincangan dengan mereka, ternyata omset mereka lebih jelek dari stand kami. Stand burger yang membawa 400 porsi hanya terjual kurang dari ¼-nya, Stand pempek juga terjual kurang dari 100 porsi begitu juga dengan batagor dan kebab turki. Padahal optimisme mereka saat menerima tawaran mengisi stand sama dengan kami, akan laris manis he.. he...

Lalu kenapa stand lain angka penjualannya dibawah kami?? Dari sekilas pengamatan, porsi kami lebih banyak dan sepertinya lebih mengenyangkan di perut. Dengan isi 3 butir bakso, mie kuning dan 2 pangsit goreng, maka cukup untuk menjadi pengganjal perut. Yang kedua harga makanan di stand kami paling murah hanya 6 ribu/porsi, sedang stand lain rata-rata harganya 10 ribu/porsi, yang menurut saya terlalu mahal untuk kantong anak band jalanan. Bahkan harga kami juga mengagetkan stand-stand disamping kami, mereka pikir kami juga menjual dengan harga 10 ribu juga, apalagi melihat porsi besar dalam satu mangkok bakso kami.

Yang jelas apapun hasilnya, banyak hal yang dapat kami petik dari ikut event tersebut, salah satunya adalah pentingnya menerpakan prinsip ”kenali calon pembelimu” sangat dianjurkan, ini penting agar kita bisa menentukan harga yang pas dikantong calon pembeli, sehingga walaupun harus menekan keuntungan, tapi kalo omset penjualan naik, maka otomatis untung juga akan datang dengan sendirinya. Ini mirip dengan saat kita mau membuka kios disuatu tempat, kita harus mengenal masyarakat sekitar kios kita berada, terutama harga wajar barang yang kita jual ditempat tersebut serta daya beli masyarakat sekitar.

Satu hal lain yang juga akhirnya saya sadari masih harus diperbaiki adalah dalam management penataan barang saat berada di lapak dan juga barang yang harus dibawa saat ngelapak. Ternyata masih banyak peralatan yang kami bawa tidak terpakai, karena memang berlebih, yang pada akhirnya membuat kami kebingunan harus ditaruh dimana, imbasnya adalah penataan barang kurang rapi, sehingga stand terlihat berantakan dan kurang bersih, padahal kami menjual makanan yang membutuhkan 2 hal tersebut, agar konsumen mau datang dan merasa nyaman mampir ke stand kita.

Semoga bermanfaat.


Senin, 25 Oktober 2010

BASIC VALUE

“Apa Yang membuat Komunitas TDA dalam waktu singkat menjadi sedemikian besarnya” Tanya founder TDA Pak Rony kepada Pak Silih Agung Wasesa, saat peluncuran buku Pak Silih, berjudul PR Magic di London School beberapa waktu yang lalu. Menurut Pak Silih, salah satu yang menjadikan TDA menjadi besar adalah karena adanya nilai dasar (basic value) yang diyakini bersama oleh anggota TDA, yaitu semangat untuk berbagi apaun tentang wirausaha kepada siapapun. Semangat berbagi tersebut kemudian menjadi alasan bagi banyak orang bergabung dengan TDA, baik mereka yang hanya sekedar ingin mendapatkan ilmu saja tanpa mau berbagi, maupun mereka yang benar-benar mau berbagi baik lewat tulisan, peluang usaha maupun yang lainnya.

Yang lebih unik lagi di TDA dalam urusan membagi ilmu adalah kadang kala ilmu tersebut justru dibagikan kepada orang yang mempunyai core bisnis yang sama dengan yang memberikan, yang seharusnya menurut ilmu ekonomi modern (kapitalis) harusnya menjadi pesaing kita dan kita harus menutup rapat informasi sekecil apapun kepada pesaing kita tersebut. Semangat berbagi kepada sesama, itulah salah satu nilai dasar Komunitas TDA, yang menjadi kelebihan dibandingkan dengan komunitas wirausaha lainnya.

Nilai dasar atau alasan yang mendasari kita dalam melakukan sesuatu atau niat sangat penting dalam kegiatan sehari-hari termasuk dalam menjalankan usaha kita. Mengapa?? Menurut saya ada beberapa alasan yang dapat kita jadikan bahan pemikiran agar kita mempunyai nilai dasar ataupun niat dalam setiap melakukan tindakan

Yang pertama adalah menjadi batu pijakan langkah awal saat kita akan memulai sesuatu usaha. Minimal jika langkan awal kita sudah tergambar dengan jelas, maka untuk langkah-langkah selanjutnya akan lebih mudah dan terarah. Usaha merupakan suatu perjalanan yang panjang, untuk itu langkah awal merupakan sesuatu yang sangat perlu, jika kita saat pertama melangkah sudah tidak tahu akan kemana, maka akan merepotkan kita untuk melakukan pengembangan usaha.

Yang kedua adalah menjadi parameter atau tolak ukur bagi setiap langkah atau tindakan yang kita ambil. ini juga akan memudahkan kita dalam mencapai tujuan ataupun target usaha kita. Kita dapat melihat dan mengevaluasi apakah usaha kita telah berjalan sesuai dengan nilai dasar saat kita memulai usaha ataukah justru melenceng jauh dari nilai dasar tersebut.

Yang ketiga adalah menjadi corporate culture usaha kita.  Corporate culture menurut saya sangat penting, karena dapat menggambarkan identitas dari sebuah perusahaan dan juga menjadi pedoman perilaku yang baku bagi setiap orang yang ada didalamnya, tidak perduli karyawan maupun pemilik perusahaan tersebut.

Jadi bagaimana dengan usaha anda???
Semoga bermanfaat.  

Selasa, 05 Oktober 2010

TIPS SEDERHANA BAGI PELAKU USAHA PEMULA

Ada seorang kawan, mantan national manager di sebuah perusahaan multinasional dengan prestasi kerja yang bagus. Beliau ini sudah sekitar 1,5 tahunan resign untuk kemudian banting setir menjadi seorang wirausaha. Beliau berkeluh kesah tentang usaha yang sedang di jalaninya, hasil tidak seberapa, tabungan kok makin menyusut bukanya malah bertambah dari hasil usahanya tersebut. Saat pertama kali berniat terjun menjadi seorang wirausaha, beliau cerita yang ada di pikiran beliau adalah “lha wong saya memanage perusahaan besar (tempat di bekerja) dengan jaringan multinasional aja bisa dan sukses, kenapa menjalankan perusahaan kecil (usaha sendiri) tidak bisa??”,

Kenyataannya setelah dia jalani justru terbalik, usahanya tidak maju sepesat kemajuan perusahaan lama tempat dia pernah jadi national manager, yang ada malah tabungan dari gaji selama bertahun-tahun ludes tersedot untuk aktifitas usaha tidak sebading dengan pendapatan dari usaha barunya tersebut.. Menurut yang bersangkutan, semua ilmu dan praktek manajamen yang pernah dia baca dan praktekan sudah diterapkan, tapi ternyata tidak membawa hasil, lalu salahnya dimana???. Coba kita ukur dengan tips yang saya dapatkan dari sebuah ceramah di Intelectual Business Community, sebagai berikut:

Rubah mindset kita dari mindset karyawan menjadi mindset pengusaha. Salah satu mindset yang harus kita rubah adalah dalam hal keatktifan kita dalam merespon sesuatu. Dulu saat masih menjadi karyawan kita sering berlaku pasif, kalo tidak ada kerjaan, kadang kita malah senang, tidak berusaha untuk mencari atau bertanya ke atasan apalagi yang bisa saya kerjakan, kalo perlu malah gak usah ada kerjaan saja. Lain halnya dengan kalo kita sudah punya usaha, kita harus aktif untuk mencari dan menangkap kerjaan dan peluang untuk mendapatkan pendapatan bagi usaha kita sehingga cash flow dapat berjalan.

Tinggalkan kebiasaan lama saat masih menjadi manager (ataupuan jabatan lainnya sata kita masih karyawan), apalagi jika kebiasaan tersebut secara financial membebani keuangan usaha kita. Sebagi contoh sederhana adalah, pada saat kita masih menjadi manager jika kita keluar kota maka kita dari kantor akan mendapatkan fasilitas naik pesawat kelas bisnis, tidur di hotel minimal hotel bintang 4, makan selalu makanan dari hotel. Jika kebiasaan tersebut terbawa terus setelah kita mempunyai usaha terutama saat sedang merintis, maka dapat dipastikan akan membebani biaya operasioanl atau bahkan jangan-jangan laba yang akan kita dapat dari deal bisnis di kota tersebut tidak cukup untuk membiayai perjalanan bisnis kita tersebut. Unutk itu kita mau gak mau harus merubah kebiasan kita tersebut. Misal kalo perjalanan ke luar kota untuk deal bisns, yha cukup naik pesawat kelas ekonomi, tidur di hotel bintang 2 atau 3, makanpun tidak harus selalu di hotel kecuali sarapan yang memang sudah satu paket dengan kamar. 

Harus belajar untuk bisa mengerjakan semuanya secara keseluruhan. Saat kita masih menjadi manager, jika ada kerjaan kita tinggal mendistribusikan kerjaan tersebut kepada bawahan kita, untuk kemudian kita menerima hasil dari pekerjaan dan kita analisa. Ada satu hal yang tidak kita lakukan dalam alur tersebut yaitu proses untuk mendapatkan hasil. Sebagai pemilik usaha, seyogyanya diawal-awal kita juga harus tahu dan mau terlibat bagaimana proses atas usaha kita tersebut berjalan, sehingga kita bisa tahu mana yang masih kurang, mana yang mesti diperbaiki ataupun bagianmana dari usaha kita yang benar-benar potensial untuk dikembangkan. Jika segala sesuatunya diserahkan kepada karyawan, tanpa kita mau tahu atau belajar terhadap prosesnya, maka jika ada karyawan andalan kita keluar maka akan menghambat usaha kita. Lain halnya jika kita memang tahu alur usaha kita, maka jika ada karyawan yang tidak masuk dan tidak ada karyawan lain yang bisa menggantikan, untuk sementara kita sebagai pemilik usaha bisa menggantikannya.

Harus mau mengerjakan hal-hal besar sampai yang kecil sendiri. Ini masih terkait dengan point 2 di atas. Dengan mau mengerjakan hal-hal baik yang besar maupunkecil sendiri, akan menghilangkan ketergantungan kita terhadap karyawan. Bayangkan jika kita baru mulai usaha akan tetapi berjalan atau tidak berjalannya usaha kita tersebut tergantung karyawan, maka usaha kita dijamain akan segera tutup dengan suksesnya. Disamping itu, cara ini juga akan lebih menghemat biaya di awal usaha kita berjalan sehingga tidak membebani cash flow. Akan tetapi setelah usaha kita berjalan, fungsi dalam usaha harus mulai pelan-pelan di delegasikan kepada karyawan, agar usaha juga tidak tergantung kepada individu pemiliknya saja. 

Siap mental dalam menghadapai masalah. Dalam setiap pekerjaan ataupun usaha pasti ada masalahnya yang menimpa. Masalah merupakan ujian bagi kita dan bukan untuk kita hindari tapi justru untuk kita hadapi. Karena jika kita berhasil mengatasi masalah, artinya kita akan naik kelas. Sama seperti sekolah, untuk naik kelas selalu ada ujiannya terlebih dahulu. Untuk mengatasi masalah kita harus berpikir tenang, tidak panik ataupun menyalahkan seseorang atau sesuatu apapun. Berdiskusi dengan keluarga ataupun teman juga akan sangat membantu dalam menyelesaikan masalah. Di Komunitas Tangan Di Atas yang saya ikuti, kami punya kelompok mastermind, kelompok diskusi kecil 5-8 orang untuk sarana saling berbagi belajar dan mencurahkan kesulitan-kesulitan dalam menjalankan usaha. Biasanya teman-teman satu kelompok akan memberikan masukan, pertimbangan bahkan kadang masalah yang kita hadapi ternyatan pernah juga dihadapai salah satu teman dalam mastermind, sehingga kadang kala kita bisa diberitahu cara kita menyelesaikan masalah tersebut atau minimal menjadi referensi bagi kita untuk menyelesaikan masalh yang sedang kita hadapi.

Diantara semua tips tersebut di atas, yang paling penting adalah jangan lupa berdo’a kepada Tuhan dan berbagi kepada sesama baik berbagi ilmu, sodaqoh maupun yang lainnya. Yakinlah bahwa dengan memberi kita akan menerima lebih banyak lagi.

Semoga bermanfa’at.