Kemarin ikut sesi sharing seorang teman dan diajari tentang victory mind vs victim mind.
Secara tdk sadar kita sering menjadi pemilik victim mind yg lambat laun menjadi pembenaran atas setiap ketidak benaran yg kita lakukan.
Sebagai contoh jika kita terlambat memenuhi sebuah janji, maka seseorang yg mempunyai victim mind akan cenderung menyalahkan jalanan yg macet, hujan deras, sopir taksi ato busnya yg lambat dan lain sebagainya.
Sebaliknya jika kita mempunyai victory mind maka kita akan minta maaf kenapa kita tdk jalan lebih pagi krn sdh tau jalanan macet, knp tdk bawa payung kalo sdh tau ini musim hujan.
Dengan mempunyai victory mind, kita akan lebih antisipatif terhadap sesuatu dan punya potensi tdk terkena masalah krn sebab tertentu.
Bayangkan jika yg akan kita temui adalah customer besar kita dan kita terlambat dan membuat customer menunggu??? Kalo saya jd customer tsb, saya pasti akan membatalkan niat saya utk pesan barang ke org tsb. Janji ketemu saja sdh terlambat apalagi disuruh produksi barang.
Mari memupuk victory mind kita dan mulai hilangkan victim mind kita.
(sambil nunggu di bengkel. 05/12/2015).
Blog tempat saya berbagi ilmu dan belajar bersama sahabat-sahabat semua. Semoga tulisan-tulisan sederhana saya dalam blog ini dapat bermanfaat untuk kita semua,amin.
Jumat, 04 Desember 2015
Senin, 23 November 2015
LEADERSHIP DALAM DUNIA USAHA (1)
Menurut Colin Powell, seorang Jendral Angkatan Bersenjata USA dalam
perang Irak tahun 1990-an, Kepemimpinan adalah seni mencapai sesuatu yang lebih
daripada apa yang diperkirakan mampu dicapai oleh ilmu management. Seorang
pemimpin harus mampu melihat, membaca dan merealisasikan apa yang tidak bisa
dicapai oleh ilmu management.
Disini seorang pemimpin dituntut untuk mempunyai pemikiran, ide, konsep,
tindakan dan jalan keluar yang out of the box dan tidak terpaku kepada
teori-teori management semata. Seorang pemimpin harus selalu mempunyai jalan
lain menuju Mekkah.
Untuk menjadi seorang Pemimpin ada beberapa sifat yang harus kita miliki dan
kita praktekan dalam dunia nyata yaitu :
Terbuka dan terus belajar
Seorang pemimpin harus berpikiran terbuka dan mau mendengarkan serta
belajar dari siapa saja. Mereka juga harus mau terus belajar untuk memperluas
cakrawalanya. Sepanjang hal-hal yang kita pelajari dan kita dengar bermanfaat
bagi kita, maka hal tersebut dapat kita jadikan referensi bagi seorang pemimpin
untuk mengambil keputusan dan menjalankan roda organissai.
Berorientasi pada pelayanan
Seorang pemimpin melihat hidupnya sebagai sebuah misi, bukan jenjang karir.
Hidupnya adalah untuk memberikan manfaat bagi orang lain bukan sekedar untuk
mendapatakn manfaat bagi dirinya sendiri.
Memancarkan energi positif
Pemimpin harus mempunyai sikap yang positif, riang, bergairah tidak bleh
berputus asa ataupun selalu mencari alasan dalam hal menghadapi kegagalan. Pemimpin
tidak boleh mengeluh kepada atau didepan anak buahnya.
Mempercayai orang lain
Pemimpin harus percaya kepada anak buah yang dipimpinnya dan percaya bahwa
setiap orang yang dipimpinnya punya potensi terpendam yang dapat memberikan
kontribusi kbagi kemajuan usaha ataupun organisasi yang kita pimpin. Seorang
pemimpin lebih baik menggali potensi anak buah dari pada sekedar mencari-cari
kelemahan orang tersebut.
Hidup seimbang
Seorang pemimpin harus mampu dan mau untuk melihat
sesuatu dari 2 arah yang berbeda. Tidak fanatik terhadap sesuatu, dan selalu
terukur dalam menilai sesuatu, tidak condong kepada satu hal akan tetpai
memutuskan berdasarkan ukuran yang yang sudah nyata.
Melihat hidup sebagai petualangan
Seorang pemimpin melihat hidup sebagai sebuah
petualangn bukan perjuangan semata. Harus mampun juga menikmati hidup.
Kenyamanan hidup ditentukan dari dalam diri kita, bukan dari luar diri kita.
Tidak cepat berpuas diri, karena harus bisa melihat setiap celah perbaikan yang
harus dilakukan.
Sinergistik
Seorang pemimpin haru mau dan mampu bersinergi
dengan keadaan dan apapun yang ada di sekitar kita sepanjang hal tersebut mampu
membawa keuntungan dan perkembangan bagi usaha kita. Seorang pemimpin juga
harus mempunyai prinsip komunikasi dan negosiasi dalam situasi apapun, tidak
kaku dan ingin menangnya sendiri.
Memperbaharui diri
Seorang pemimpin harus mau dan mampu bangkit dari
keterpurukan, kegagalan maupun pahitnya keadaan. Mampu memperbaiki apa yang
kurang benar dan mampu meluruskan apa yang bengkok. Tidak menyerah dengan
keadaan yang ada ataupun setiap kejadian dan masalah yang menimpa.
Rabu, 15 Juli 2015
Tentang Ucapan Mohon Maaf Lahir dan bathin serta Minal ‘Aidin wal Faizin saat Idul Fitri
Beberapa
hari ini sering kali dapat BC baik di WA, BBM maupun di Fesbuk postingan dari
seorang “ustadz” yang mempertanyakan (bahkan cenderung menyalahkan) dan menganggap
keliru luar biasa kebiasaan kita mengucapkan ucapan Mohon Maaf Lahir dan bathin
serta Minal ‘Aidin wal Faizin saat Idul Fitri, dan seperti biasa membandingkannya dengan tradisi di Turki atau
Arab Saudi JJ
Mari
kita lihat lagi lebih jernih makna kedua ucapan tersebut dari sisi yang lain.
Mengenai
ucapan Minal ‘Aidin wal Faizin atau “kita kembali dan meraih kemenangan” yang
dipertanyakan kemenangan melawan apa dan kembali kepada apa? bahkan “ustadz”
tersebut secara su’udzon menyatakan apakah kita menang melawan Ramadhan
sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan””??
Jika
kita mau berpikir dan memahami dengan positif makna puasa, maka pertanyaan
“su’uzdon” tersebut tidak perlu timbul. Sebagaimana sudah mafhum kita ketahui
bahwa kita diwajibkan berpuasa adalah agar menjai “La’allakum Tattaqun” atau
agar menjadi orang bertaqwa. Disini mempunyai 2 makna, yaitu
1.
Untuk kita yang sebelum Ramadhan ketaqwaan kita
berkurang bahkan hilang, dengan berpuasa
mari kita kembalikan ketaqwaan kita tersebut.
2.
Untuk kita yang “sudah merasa bertaqwa” agar
meningkakan ketaqwaan kita tersebut.
Dari
2 ha tersebut di atas, jelas kemana kita harus kembali, bukan kembali melakukan
keburukan setelah Ramadhan sebagaimana “su”udzon sang “ustadz.” Tapi ucapan “Minal
‘Aidin wal Faizin” lebih bermakna sebagai ucapan do’a dari seorang muslim
kepada saudara muslim lainnya “semoga kita kembali menjadi orang bertaqwa bagi
yang ketaqwaanya sempat “lepas” dan kembali meningkat ketaqwaannya bagi yang
ketaqwaannya masih terjaga.
Mengenai
meminta maaf saat idul fitri, hal tersebut tidak ada salahnya, tokh kalo sang
“ustadz” konsisten dengan postingannya bahwa minta ma’af bisa setiap saat,
berarti minta ma’af saat idul fitri yha juga jangan disalahkan donk… :p
Tapi
kalo kita mau merenung lebih jauh tenang permintaan maaf di hari raya Idul
Fitri, maknanya bagi seorang muslim sangat dalam. Saya yakin kita semua sudah
tahu bahwa di hari raya idul fitri adalah waktu dimana manusia kembali menjadi
fitri atau kembali ke kesucian/kebersihan jiwa setelah berpuas selama Ramadhan
bahkan ada yang berpendapat bagaikan seperti bayi yang baru lahir kembali.
Untuk
kembali menjadi fitri salah satu usaha yang harus kita tempuh adalah memohon
maaf atas kesalahan kita baik kesalahan kepada Allah ataupun kepada Manusia.
Untuk kesalahan kepada Allah, baik karena kita meninggalkan kewajiban-kewajiban
ataupun melakukan hal-hal yang dilarang kita cukup meminta maaf dan ampun
langsung kepada Allah. Insya Allah setelah menjalani puasa selama Ramadhan, menahan nafsu Selama puasa, menjalankan dan
meningkatkan ibadah-ibadah selama bulan ramadhan baik melalui sholat tarawih
dan witir, membaca al qur’an lebih sering, meningkatkan mengerjakan
sholat-sholat lainnya, maka Insya Allah ampunan dari Allah atas dosa-dosakita
terdahulu akan diampuni oleh Allah.
Tapi
bagaimana dengan kesalahan kita terhadap manusia?? Islam mengajarkan bahwa
kesalahan kita kepada manusia hanya akan diampuni oleh Allah setelah kita
meminta maaf kepada orang tersebut dan orangnya memberikan maaf kepada kita.
Jadi kalo untuk kembali menjadi fitri kita juga harus minta maaf kepada
saudara-saudara kita, lantas salahnya dimana???
Satu
lagi sang “ustadz” menyarakan kita mengucapkan “As’alukal Afwan Minal Dzahiran
Wal Bathinan, tapi “mempertanyakan ucapakn “ mohon maaf lahir bathin”. Bukankah
artinya sama saja?? Hanya yang satu dalam bahasa Arab yang satu dalam bahasa
Indonesia….
Semoga
bermanfaat, agar kita bisa berpikir lebih jernih.
Selamat Idul Fitri 2015, Mohon Maaf Lahir dan Bathin..
Rabu, 26 Maret 2014
MENULIS ITU LUAR BIASA
Pernah tidak
setelah kita membeli buku dan membaca isi buku tersebut terlintas di pikiran
kita "ah ternyata isinya biasa saja" atau "ah kalo yang begini
sich saya juga tahu" atau "yang begini sich sudah sering saya lakukan
sehari-hari". Dan mungkin masih
banyak pikrian yang terlintas setelah membaca sebuha buku.
Lintasan
pikiran tersebut memang tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya
benar. Isi buku memang boleh jadi “biasa” saja atau berisi hal yang kita sudah tahu atau sudah biasa kita
lakukan. Yang luar biasa dari sebuah buku adalah penulisnya mau menuliskan
hal-hal yang "biasa" tersebut menjadi sebuah buku.
Yha, menulis
memang sangat luar biasa. Sesederhana apapun sebuah tulisan, itu membutuhkan
sinkronisasi antara bahasa angan-angan dengan bahasa tekstual. Banyak orang
yang jago dalam membayangkan suatu kejadian, akan tetapi begitu diminta
menuliskannya, maka seolah-olah bayangan tersebut pudar entah kemana. Jadi kalo begitu menulis itu susah donk??? Tidak
juga, menulis tidak sesusah bayangan kita. Salah satu trick mudah untuk menulis
adalah segera tuliskan apa yang melintas dalam pikiran kita, baik dalam
selembar kertas, gadget ataupun langsung di depan sebuah komputer/notebook.
Minimal ide-ide yang sudah melintas tidak akan hilang atau terlupa begitu saja.
Dibalik keluarbisaan dari menulis, kita juga hati-hati dengan tulisan kita.
Ada pepatah yang menyatakan bahwa “goresan
pena kadang lebih tajam dari tebasan pedang”. Artinya jika kita menebas sesuatu
dengan pedang, maka hanya pada saat itu kejadian dapat dilihat. Tapi begitu
kita menuliskannya, maka akan menjadi sejarah tersendiri dan dikenang oleh
banyak orang. apalagi di zaman internet seperti sekarang, tulisan kita akan
bertahan lama di halaman-halaman internet dan bisa jadi cepat tersebar dibaca
banyak orang.
Sebuah tulisan bisa menjadi goresan sejarah kehidupan seseorang. Dari
tulisan-tulisan para penulis kita bisa mengenal banyak hal dan belajar dari
tulisan-tulisan tersebut. Jika kita pidato didepan banyak orang, maka
kenangannya hanya akan bertahan sesaat saja bagi pendengarnya, malah bisa jadi
begitu keluar dari arena pidato sudah hilang. Tapi dengan tulisan, kenangan
tersebut akan terus menerus ada selama tulisan atau bukunyaya masih ada.
Sebuah tulisan juga dapat membuat bahagia seorang penulis, jika tulisannya mampu
menginspirasi banyak orang dan manfaatnya dapat terus menerus berguna bagi
pembacanya.
Jadi tunggu apa lagi untuk memulai menulis dan menjalankannya secara rutin
(kalo ini juga teguran bagi Penulisnya he.. he..)
Semoga bermanfaat.
Kamis, 21 November 2013
MEMBACA LAPORAN FINANSIAL USAHA
Laporan
Finansial Usaha, baik berupa laporan keuangan, pencatatan aktifitas harian
usaha, data konsumen, catatan stock barang, laba rugi ataupun neraca merupakan
laporan yang harus dimiliki oleh setiap pelaku usaha. Tanpa laporan-laporan tersebut
bisa dipastikan kita akan kesulitan utnuk mengembangkan usaha kita. Ibaratnya
orang berjalan, seperti berjalan dalam gelap tanpa lampu penerangan.
Dibanyak
kasus yang saya temui, banyak kawan-kawan yang pede usahanya maju pesat hanya
dengan melihat omset-nya yang lumayana gede. Tapi setelah dijalani sekian lama,
dia sendiri juga bingung, dengan omset segitu yang dia dapatkan, ternayat tidak
ada pertambahan kekayaan pribadi diakhir periode tertentu, bahkan keuangan
pribadi malah menyusut tersedot untuk usaha. Ternyata setelah dibedah lebih
lanjut dan rinci, usaha dia hanya menghasilkan omset tidak menghasilkan margin,
bahkan cenderung minus.
Tulisan
dibawah ini bukan utnuk memberikan bagaimana cara kita menyusun sebuah laporan
finansial usaha. Karena untuk membuta sebuah laporan finansial usaha adalah
sangat mudah, tinggal apakah kita mau atau tidak melakukan pencatatan, itu saja
kuncinya. Tulisan tapi satu berikutnya yang harus dimegerti oleh pelaku usaha setelah
kita mempunyai laporan finansial tersebut. Apa itu?? Yaitu bagaimana kita
membaca dan menggunankan laporan finansial tersebut, sehingga tidak hanya
berupa angka-angka di atas kertas saja. Banyak hal yang bisa kita dapat dari
mebaca laporan finansial usaha, dibawah ini sedikit diantara hal tersebut.
1.
Mengetahui
Hukum Pareto dalam usaha kita
Jika anda melakukan pencatatan harian
terhadap arus barang yang terjual secara detail dan hari itu tiap barang
menghasilkan angka penjualan berapa maka anda dapat mengetahui hukum pareto
dalam usaha kita. Hukum Pareto, dengan sedikit modifikasi kurang lebih berbunyi
“kadang 80% penghasilan kita dihasilkan dari 20% barang yang kita jual atau 20%
dari total jumlah konsumen kita”. Silahkan anda jumlahkan seluruh items dari
barang yang anda jual selama periode tertentu, misal 12 bulan. Lalu buat
prosentase masing-masing barang yang kita jual di periode tersebut menyumbang
berapa persen dari total omset kita selama periode itu.
Prosentase tersebut yang disebut hukum
pareto dalam usaha kita. Lalu apa gunanya untuk usaha kita?? Jika kita sudah
tahu masing-masing prosentase penjualan barang kita, maka kita harusnya sudah bisa
mengetahui apa barang yang harus saya stock banyak-banyak, apa yang harus
distock sedikit dan apa yang tidak usah distock. Disamping itu juga untuk
mengetahui barang apa saja yang masih harus dipromosikan secara masif dari
barang kita atau apa yang promo-nya cukup biasa-biasa saja. Dan masih banyak
manfaatnya lagi.
2.
Mengetahui
persepsi pelanggan tentang usaha kita.
Bagi yang usahanya menjual/memproduksi
banyak barang dan belum fokus terhadap satu hal, kita dapat mulai mengetahui
sebenarnya apa persepsi pelanggan yang selama ini beli barang sama kita, dari pareto
penjualan barang-barang. Misal bagi yang berjualan busana muslim, mengingat
banyak sekali busana muslim yang kita jual, misalnya dari pareto barang-barang
jualan kita yang paling banyak adalah busana muslim untuk anak, maka ada
baiknya kita mulai fokus untuk membesarkan jualan busana muslim anak tersebut.
Bisa jadi pelanggan-pelanggan kita puas dengan busana muslim anak yang kita
jual/produksi dan merekomendasikannya ke teman-temannya. Sehingga dalam
persepsi mereka, tempat kita adalah tempat jualan busana muslim anak yang
bagus. Jika kita sudah tahu apa persepsi konsumen tentang usaha kita, maka akan
mempermudah kita dalam melakukan branding ataupun promosi lebih lanjut tentang
usaha kit.
3.
Menentukan
anggaran dan alokasi biaya untuk belanja produk dan stock barang.
Dari laporan penjualan harian juga,
kita bisa melihat barang yang fast moving ataupun yang susah laku. Ini akan
membantu kita dalam menetukan skala prioritas belanja kita dan menentukan stock
barang yang selalu harus ada di gudang kita, harus beli banyak atau cukup beli
sedikit sekedar untuk varian jualan saja. Jadi belanja kita tiap minggu/bulan
dapat lebih fokus menentukan harus beli apa. Untuk yang berusaha dibidang
kuliner, akan membantu untuk penghematan, terutama utnuk bahan baku kuliner
yang mudah busuk.
Sebenarnya kegunaan laporan finansial
usaha kita apapun bentuknya mempunyai manafaat yang sangat banyak dan akan
sangat membantu kita menentukan arah perjalanan usaha kita selanjutnya. Yang saya
uraikan di atas hanyalah contoh kecil cara membaca laporan finansial untuk
mengembangkan usaha kita.
Untuk itu, ayo mulai lakukan
pencatatan setiap aktifitas usaha kita, baik yang berupa rencana action, saat
pelaksanaan action maupun setelah action selesai dilakukan. Lalu buat laporan,
evaluasi dan ambil hikmahnya dari setiap laporan tersebut.
Semoga bermanfaat....
Senin, 23 September 2013
16 Strategi Zhuge Liang Dalam Mengatur Organisasi Negara (Tulisan Kedua)
Tahukah Anda, bahwa mengurus sebuah negara sama
seperti mengurus sebuah usaha?? Samanya dimana? Karena hakekatnya mengurus
negara dan mengurus usaha adalah sama-sama mengurus sebuah organisasi yang
harus dijalankan utnuk menghasilkan sesuatu. Jika Negara maka harus
menghasilkan ketertiban, keamanan dan kesejahteraan. Jika usaha maka harus
menghasilkan konsistensi, produk yang berkualitas dan pada akhirnya
menghasilkan sebuah keuntungan.
Dibawah ini adalah 16 prinsip
yang digunakan oleh Zuge Liang, seorang negarawan handal pada masa dinasti 3
kerajaan di China, yang saya adaptasi untuk dapat kita terapkan dalam
menjalankan roda organisasi usaha kita. Tulisan akan terbagi dalam 3 seri.
1.
Menjadi setepat Bintang Utara.
Tahukah Anda
bahwa memerintah negara atau menjalankan organisasi usaha harus memiliki dasar yang benar dan kuat. Sekali Anda benar, sisanya tidak akan
salah. Dasar dari suatu usaha adalah owner dari usaha tersebut, sedang dasar dari suatu negara adalah kepala
negara. Dalam mejalankan usaha, seorang owner ataupun pimpinan usaha sama seperti Bintang Utara, memimpin jalan,
menunjukan arah dan meneranginya.
Karena itu, kepemimpinan yang kuat dan stabil serta rencana yang matang
merupakan dasar bagi pertumbuhan suatu usaha atau organisasi usaha itu sendiri. Setiap negara yang kuat dan makmur
selalu memiliki penguasa yang bijak. Begitu juga suatu usaha yang kuata,
harus memiliki pemimpin yang cerdas, bijak dan tidak grusa-grusu.
Seperti Bintang Utara, posisinya harus tetap benar
untuk memberikan arah. Kemana usaha akan
dijalankan, apa targetnya, langkah-langkah apa yang harus dilakukan serta goal akhir
yang akan dicapai harus jelas. Ia yang tak tentu arah, bodoh, dan pengecut,
akan gagal dalam apa pun yang dilakukannya. Sebenarnya, kepemimpinan yang baik
dan mantap tak dapat dipisahkan dalam suatu organisasi bisnis. Pemimpin
harus sanggup menangkap kesempatan yang muncul dan menyelesaikannya.
2.
Hubungan antara Penguasa dan Bawahan
Jadikan rasa
hormat dan kesetiaan penghubung antara pemimpin dan bawahannya. Seorang bisnis owner atau pemimpin perusahaan harus
memperlakukan Karyawan
dengan baik. Bawahan harus melayani dan menjalankan instruksi bisnis owner atau
atasannya dengan setia. Bisnis owner harus memperlakukan karyawan dengan adil tidak pilih kasih, meskipun punya
hubungan khusus, misal hubungan keluarga dengan bawahn tersebut. Sebaliknya karyawan harus melayani dan menjalankan perintah dengan
patuh.
Pemimpin atau
bisnis owner tidak hanya memerintah karyawan , tapi juga menunjukkan perhatian,
perlindungan dan penghargaan serta keteladanan. Memperlakukan seorang karyawan
dengan baik dan menghormati perasaannya juga penting. Karyawan harus menganggap
kesetiaan sebagai kebajikan. Seorang Bisnis owner yang tidak mempercayai karyawannya
akan berakhir sendirian. Seorang bisnis
owner yang bekerja dengan dekat dan
rajin bersama karyawan akan selalu
harmonis. Ini juga berlaku bagi seluruh eselon dari sebuah perusahaan.
3.
Memperhatikan dan Mendengarkan
Seorang
pemimpin usaha atau bisnis owner harus yang menguasai situasi dengan baik. Untuk itu
Ia harus membuka lebar mata dan telinga agar dapat
menguasai situasi usaha dan organisasi usahanya dengan baik. Anda tidak dapat mengatakan berpandangan tajam
jika tak bisa melihat kesulitan karyawan. Anda tak bisa menyatakan berpendengaran tajam
jika tak bisa mendengar rintihan karyawan. Untuk itulah
dalam diri manusia ada 2 telinga dan 2 mata serta 1 mu;ut, gunanya agar kita
lebih banyak mendengar dan melihat dari pada sekedar bicara.
4.
Menerima Saran
Menerima dan mendengar saran dan ide orang lain sepanjang
saran dan ide tersebut bukan sekedar Kata-kata manis dan dangkal.
Seorang pemimpin atau bisnis
owner yang bijak harus bisa dan
mau menerima saran, ide bahkan
kritik dari orang lain sepanjang untuk kemajuan dan kebaikan bersama. Sebuah usaha yang sehat juga harus mempunyai pegawai yang jujur dan
lurus di sampingnya. Seorang pengusaha yang bodoh hanya memiliki karyawan yang penjilat di
sekitarnya. Obat yang baik terasa pahit dan saran yang baik juga demikian.
Sungguh terpuji seseorang yang berkedudukan tinggi seperti Kaisar atau
bisnis owner dapat menerima kritik
pedas.
5.
Memahami
Memahami
masalah sepenuhnya dan membuat batasan antara yang benar dan yang salah. Seseorang
karyawan yang setia dan yang jahat berbeda, tapi sulit membedakan dan
menilaianya dari penampilan saja. Orang akan salah jika hanya mendasarkan pada
perkataan dan sikap luar saja. Seorang pengusaha harus berhati-hati saat
memutuskan apakah benar atau salah. Dalam membuat keputusan harus cermat dan
melihat semua faktor serta dampaknya. Salah dalam membuat keputusan bisa jadi
akan membuat usaha kita mundur kebelakang, jalan ditempat atau bahkan bangkrut.
Untuk itu
seorang pengusaha dituntut untuk memahami semua aspek yang ada dalam bisninya.
Tidak cukup kita mendelegasikan saja dan kemudian pasrah bongkokan kepada
karyawan kita. Dalam bidang tertentu mungkin kita tidak bisa menjadi seorang
master, tapi minimal kita harus tahu alur dan proses di bidang yang kita tidak
terlalu ahli tersebut. Hal tersebut perlu agar usaha kita tidak tergnatung
kepada karyawan dan jika karyawan tersebut keluar, maka tetap bisa jalan
seperti biasanya.
....... bersambung .......
Langganan:
Postingan (Atom)
