Senin, 18 Mei 2009

RESOLUSI BERSYARAT

Pada setiap pergantian tahun pertanyaan yang sering kita jumpai adalah “apa resolusi anda untuk tahun depan?” atau “anda sudah buat resolusi untuk tahun yang akna dating belum” dan beragama pertanyaan lain yang intinya menanyakan apa yang akan anda tuju dan ingin anda capai tahun depan. Bahkan sebagian orang jauh-jauh hari sebelum akhi tahun sudah mencanangkan resolusi untuk tahun depanya, misalnya “Mulai tahun 2010 saya mau memulai bisnis” atau “Mulai tahun 2010 saya mau merubah diri saya sendiri menjadi lebih baik”.

Dari contoh resolusi-resolusi yang saya sebutkan di atas ada syarat yang harus dipenuhi atas resolusi tersebut yaitu pergantian tahun. Contoh resolusi bersyarat lainya yang sering saya dengar dari teman-teman sekitar saya yang muslim adalah seperti “saya mau naik haji kalo sudah sanggup menunaikan sholat lima waktu tanpa ada yang putus” atau “mulai bulan romadhon tahun ini saya mau memperbanyak sodhaqoh dan menunaikan sholat lima waktu dengan lebih baik”.

Pada intinya sering kali kita membuat resolusi yang digantungkan syarat tertentu seperti waktu (tahun baru, bulan romadhon, ulang tahun dsb) atau kejadian tertentu (kalo sudah rajin sholat, kalo gaji sudah sekian, naik haji, dsb). Pertanyaan yang kemudian dapat kita lontarkan, termasuk kepada diri kita sendiri adalah “mengapa harus menunggu sesuatu untuk melakukan sesuatu?. Jika kita dapat melakukan resolusi kita sekarang tanpa syarat apapun, mengapa tidak kita lakukan sekarang, minimal melakukan yang kecil-kecil terlebih dahulu.

Ada beberapa sebab yang dapat saya simpulkan mengapa orang suka membuat resolusi bersyarat, yaitu :

1. Untuk gagah-gagahan saja, yaitu ikut trend orang sekitar kita, minimal untuk pergaulan, sehingga kalo ditanya orang lain, diakhir tahun apa resolusi untuk tahun, minimal sudah punya resolusi walaupun tidak akan dijalani.

2. Tidak pede atau tidak yakin terhadap resolusi diri kita sendiri, sehingga kadang untuk memulainya saja sudah malas atau sambil mencari jalan pintas untuk langsung mencapai hal besar tanpa mau melakukan hal yang kecil. Padahal itu tidak mungkin, karena sudah jadi sunah Allah, suatu hal yang besar selalu dari yang kecil, sebagai contoh adalah diri kita sendiri dari bayi dulu baru dewasa; atau

3. Justru orang tersebut sudah punya rencana, sehingga memang resolusi bersyarat tersebut merupakan tahapan dalam hidup yang bersangkutan selanjutnya. Jika kita type yang seperti ini maka kita sudah di jalan yang benar, tapi artinya kita sudah mempunyai rencan-rencana dan resolusi-resolusi lain sebelumnya yang sudah kita jalankan dan sifatnya saling sambung menyambung dalam hidup kita.

Hanya saja jika kita membuat resolusi bersyarat, kita harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut;

1. Umur. Kita tidak bisa memastikan apakah saat syarat tersebut terpenuhi kita masiha adaatau tidak untuk melaksanakan resolusi kita tersebut di atas.

2. Semangat. Pastikan bahwa semangat kita untuk melaksanakan resolusi saat syaratnya terpenuhi masih sama kuatnya dengan saat kita membuat resolusi tersebut. Karena kebanyakan justru kita sudah lelah terlebih dahulu setelah melakukan hal-hal untuk memenuhi persyaratan kita sendiri dan pada gilirannya saat harus memulai pekerjaan yang sesungguhnya yang merupakan inti resolusi tersebut, kita justru sudah loyo.

3. Kesempatan. Pastikan bahwa peluang untuk melaksanakan resolusi tersebut masih tetap relevan saat syarat terpenuhi. Karena sering jika resolusi kita tersebut berupa ide bisnis, maka ide tersebut sudah di jalankan terlebih dahulu oleh orang lain selama kita menunggu terpenuhinya syarat tersebut, sehingga kita tidak bisa menjadi yang pertama.

Jadi jika kita bisa melakukannnya sekarang, mengapa harus menunggu sesuatu atau menetapkan syarat-syarat tertentu untuk melaksanakan tujuan-tujuan hidup kita.

Selamat take Action and miracle will happen.

Senin, 30 Maret 2009

TERNAK SAPI, ANTARA INVESTASI DAN MENOLONG PETERNAK SAPI

Baru tiba di Malang, langsung disambut dengan kabar duka cita dari salah seorang saudara di Malang yang berprofesi sebagai peternak sapi perah, salah satu sapi yang diharapkan tahun ini menghasilkan susu dan memberikan pendapatan dari susu, sekarat waktu melahirkan, untungny anak sapinya selamat. Kerugianpun langsung tampak di depan mata, harga satu sapi dewasa yang sudah menghasilkan susu berkisar 10 juta belum dihitung rugi dari hasil susu yang harusnya didapat, tapi itulah takdir, "kullu nafsin dza iqotul maut" setiap yang berjiwa pasti akan menemui ajal, begitu juga sapi (ustadz mode on he.. he..).
Setelah diskusi panjang dengan istri dan juga semangat ingin menolong saudara tersebut, maka kami memutuskan untuk menambah investasi satu sapi perah untuk di mudharabahkan (ini bahasa kerennya, bahas ndesonya paron alias bagi dua) dengan yang bersangkutan. Sebelumnya saya sudah punya 3 sapi lain di daerah nongkojajar di lereng gunung bromo.
Investasi sapi dengan sistem tradisional yang selama ini kami jalankan sebenarnya sangat menguntungkan disamping bisa menolong peternak sapi. Sistem yang kami pakai adalah bagi hasil sebagai ilustrasi adalah sebagai berikutt:
Modal awal beli sapi umur 4 bulanan adalah 3,5 juta-an rupiah, sapi akan dipelihara selama setahun atau lebih, jadi saat sapi berumur kira2 1,4 tahun -1,6 tahun sapi akan mengalami masa birahi (atau terkenal dikalangan blantik dengan nama sapi dara birahi), jika dijual pada masa ini maka sapi harga sapi akan berkisar sekitar 8 jutaan. Dari 8 juta tersebut pembagiannya adalah sebagai berikut :
  1. Masa investasi 1,2 tahun.
  2. Modal awal sebanyak 3,5 juta dikembalikan kepada pemodal.
  3. Hasil usaha sebanyak 4,5 juta (8 juta - 3,5 juta) dibagi dua antara pemodal dengan peternak, jadi masing-masing mendapat 2,25 juta.
  4. jadi keuntungan yang kita dapat adalah 2,25 juta atau sekitar 65% dari modal awal.
  5. modal awal kita tetap utuh.

Jika kita mau bersabar sedikit untuk tidak jual sapi pada masa dara birahi seperti diatas, maka kita dapat menunggu sampai sapi tersebut hamil, hanya saja lebih panjang jangka waktunya. Kehamilan sapi akan dilakukan dengan IB (inseminasi buatan), yang biasanya dilakukan setelah sapi birahi, dengan asusmi sapi langsung hamil, maka pada umur 1,7 tahun sapi akan mulai hamil (FYI masa hamil sapi adalah 9 bulan). Harga sapi hamil akan mencapai harga tertinggi jika kehamilannya sudah mencapai diatas 7 bulan. Saya mengambil asumsi menjual sapi pada usia kehamilan 8 bulan, maka sapi akan saya jual pada umur 2,5 tahun, pada saat itu harga sapi berkisar antara 12 juta - 14 jutaan, dan yang kita dapatkan adalah (dengan asumsi harga sapi 12 juta) :

  1. Masa investasi 2,1 tahun
  2. Modal awal sebanyak 3,5 juta dikembalikan kepada pemodal.
  3. Hasil usaha sebanyak 8,5 juta (12 juta - 3,5 juta) dibagi dua, jadi peternak dan pemodal masing-masing mendapat 4,25 juta.
  4. jadi keuntungan yang kita dapat adalah 4,25 juta atau sekitar 120% dari modal awal.
  5. modal awal kita tetap utuh. (jika harga sapinya 14 juta, bahkan biasa lebih jika anaknya betina, yha hitung sendiri he.. he..)

Jika kita ingin meneruskan investasi sampai dengan anak sapinya lahir, maka pembagiannya menjadi sebagai berikut:

  1. Sapi Induk menjadi milik berdua (dengan ketentuan nilai sapi induk saat ini dikurangi nilai modal awal, misal nilai sapi induk adalah 10 juta, maka kepemilikan peternak atas sapi induk adalah adalah (50% x 10 juta) - (modal awal), sedang sisanya milik pemodal).
  2. Anak pertama menjadi milik Pemodal dan harus dipelihara oleh Peternak.
  3. Susu hasil dari sapi induk menjadi hak peternak.
  4. Anak Kedua adalah milik peternak dan susu tetap hak peternak, dst.

Saya tidak merekomendasikan untuk memelihara sapi sampai beranak, karena dari hitungan investasi akan tambah ruwet, rawan ribut dengan mitra peternak kita dan resikonya lebih besar, terutama saat sapi induk melahirkan, disamping itu peternak juga biasanya lebih senang sapi dijual saat dara birahi atau hamil, karena mereka juga ingin uangnya secepatnya.

Resiko dari beternak sapi yang dihadapi adalah :

  1. Kematian Sapi. Tapi resiko ini minim (kecuali mati karena memang sudah takdirnya), karena untuk daerah malang dan sekitarnya, merupakan sentra sapi perah dan diawasi dengan ketat dan serius oleh dinas peternakan setempat dan sudah ada pemeriksaan atas sapi secara rutin dari dinas setempat.
  2. Cacat baik bentuk tubuh maupun genetik. Cacat bentuk tubuh sehingga sapi tidak dapat tumbuh semestinya ataupun cacat genetika sehingga sapi sulit hamil.
  3. Ketersediaan pakan. Pakan utama sapai perah adalah rumput gajah (orang malang bilang kolonjono), saking banyaknya peternak sapi, rumput gajah yang tersedia mauapun hijauan lain kadang tidak mencukupi, sehingga di sentra sapai di Malang (pujon dan Ngantang) harga rumput gajah mahal. (ini juga peluang bisnis rek, bikin pakan ternak kering).
  4. mitra peternak yang nakal (kalo ini cari sendiri yha he.. he..)

Selama masa pembesaran sapi, seluruh biaya pakan, IB dan kesehatan ditanggung oleh peternak, tentunya timbul pertanyaan apakah peternaknya tidak rugi? Dari hasil perbincangan dengan peternak, mereka justru senang jika ada yang mau kerjasama dengan mereka dalam bentuk ini, karena memelihara sapi bagi mereka biasanya termasuk usaha tambahan, karena biasanya mereka juga punya ladang yang ditanami tanaman lain, selain rumput gajah untuk ternak mereka. Fakta lain kenapa peternak senang dengan sistem ini adalah karena ternak mereka dari hasil susu tidak memberikan penghasilan yang memadai. Susu biasanya ditampung oleh KUD untuk kemudian disalurkan ke pabrik susu (nestle dan indomilik). Hanya saja KUD memberikan harga murah untuk susu peternak, padahal peternak mengambil vitamin dan obat dari KUD dengan harga tinggi. Pada hari pembayaran susu (seminggu sekali biasanya) hasil susu yang disetor selama seminggu akan langsung dipotong dengan harga vitamin dan obat yang telah dimabil dan sisanya biasanya sangat tidak memadai. Untuk sapi pada periode belum menghasilksn susu, pemakaian vitamin dan obat minim, yang banyak adalah pakan yang bisa dicari secara gratis, sehingga jikapun ada pengeluaran untuk vitamin dan obat (pakan jika terpaksa), peternak tetap mendapatakn hasil yang bagus setelah bagi hasil tersebut dibagi dengan pemodal, justru ini pendapatan terbesar mereka.

Tulisan ini bukan nasehat investasi, tapi jika anda tertarik silahkan mencoba dan pastikan mitra peternak anda jujur dan terpercaya. Silahkan Action..........

Senin, 16 Maret 2009

GODAAN ITU MEMANG DAHSYAT

Sekitar 2 bulanan yang lalu, sepulang dari Kantor, istri saya cerita bahwa ada telp. ke rumah dari staff sebuah Bank plat merah Tbk. Staff tersebut meminta istri saya tanya apakah saya masih mau bergabung dengan bank tersebut untuk menjadi senior legal staff, tentunya tak lupa dengan dibumbui cerita tentang gaji, remunerasi dan fasilitas lainnya yang bisa didapat jika saya mau menerima tawaran tersebut, yang kalo dihitung-hitung tiap bulan bisa untuk hidup nyaman, plus sisanya cukup untuk beli sepeda motor merek terkenal...
Dalam hati saya saya cuma berguman hebat juga usahanya, setelah 3 kali menelpon saya langsung dan memberi tawaran yang sama dan saya menolaknya, yang bersangkutan memakai salah satu jurus maut yang ada, menelpon istri saya dirumah dengan iming-iming tawaran yang menggiurkan dan mematikan remunerasi yang berlimpah. Saya hanya tertawa mendengar cerita istri saya, dalam hati saya cuma berkata "salah ngerayu orang nich, justru yang nyuruh-nyuruh saya jadi TDA adalah istri saya, jadi kalo ngerayu istri saya nyuruh saya jadi TDB lagi yha salah orang" dan memang waktu saya tanya ke istri "ibu jawab apa" istri saya bilang dia cuma jawab "tanya orangnya (saya maksudnya) sendiri dech, masih mau gak kerja kantoran jadi pegawai".
Tawaran untuk tetap bertahan di zona nyaman tidak hanya datang dari bank tersebut, beberapa waktu sebelumnya ada teman telp. juga menawari jabatan Deputy Legal Manager di salah satu anak perusahaan group perusahaan outomotif terbesar di Indonesia. Godaan zona nyaman dan ketakutan untuk meninggalkannya memang sangat dahsyat, saya termasuk orang yang takut meninggalkannya.
Sangat berat memang untuk menolak suatu pekerjaan yang bagi sebagian orang sangat didambakan tersebut, yang pertama saya lakukan adalah istighfar semoga ini bukan bentuk penolakan terhadap rizki dari Allah, tapi hanya satu ujian atas satu tekad yang memang sudah diniatkan, yaitu keluar dari zona nyaman dan menjadi TDA, agar dapat membantu orang lain untuk bersama-sama menjadi pelaku usaha mauapun membantu membuka lowongan pekerjaan bagi sesama jika nantinya usaha saya sudah besar.
Sebenarnya menjadi wirausahawan bukan hal yang aneh bagi saya, sebagai orang Pekalongan yang merupakan daerah dengan budaya pedagang, begitu lahir jebrol virus wirausaha langsung menular bagaikan wabah di dalam gen setiap orang pekalongan termasuk saya, bahkan ada guyonan orang pekalongan itu begitu lahir langsung disuruh jualan batik sama orang tuanya. Saya ingat dari kecil untuk mendapatkan uang selain uang saku, harus bekerja mulai dari membantu pasang kancing, menggunting benang2 di pakaian yang akan dipacking, sampai melipat pakaian dan memasukan pakaian ke plastik packaging dengan upah tertentu. Kalo bulan Ramadhan tiba, saya jualan jajanan kecil dan petasan bahkan pada waktu kuliah di malang (tahun 1996-2000) penghasilan saya dari bisnis kecil-kecilan dua kali lipat dari kiriman bulanan saya. Perjuangan untuk kembali ke mindset awal, menjadi TDA sedang saya jalani, walaupun ketakutan-ketakutan itu tetap ada dan menghantui. Langkah besar yang pertama saya ambil adalah keluar dari sebuah PT. Tbk., satu tahun yang lalu, walaupun jabatan saya sudah cukup tinggi sebagai deputy corporate legal manager dengan gaji 8 digit, alhamdulillah dengan dukungan keluarga saya kuat menjalaninya. Alhamdulillah sampai dengan saat ini saya masih kuat mempertahankan mind set awal untuk menjadi TDA, walaupun penghasilan saya terjun bebas hanya sepertiga dari gaji terakhir di PT. Tbk., tapi Rizki saya diganti oleh Allah dalam bentuk yang lain yaitu bertambahnya teman dan silaturrahmi terutama dengan teman-teman TDA, bertambahnya ilmu tentang usaha beserta trick-tricknya, bertambahnya keyakinan bahwa 9 dari 10 pintu rizki itu di peruntukan oleh Allah bagi orang yang berdagang, bertambahnya semangat untuk berbagi dan masih banyak lagi hal-hal lain yang menurut saya adalah rizki yang tidak ternilai dengan uang. Dan cita-cita menjadi TDA sudah mulai ditunjukan jalannya oleh Allah, saya sudah buka toko online di www.tokobajucantik.com dan www.tokobajucantik.blogspot.com, jika tidak ada halangan satu bulan kedepan akan bersama 3 rekan sejawat akan membuka kantor konsultan hukum baru dan sedang prospek satu usaha lagi dibidang fashion.

Kamis, 22 Mei 2008

Dari Tukang Becak Sampai Starbucks

Kisah ini saya dapatkan dari email yang masuk ke account email saya, menurut saya sangat menarik dan menginspirasi, semoga bermanfaat bagi pembaca.

FINANCIAL FREEDOM ala Tukang Becak vs Howard Schultz (Starbucks)

THINK OUT OF THE BOX. Perbedaannya akan bagaikan langit dan bumi. Berapa besar space yang ada "di dalam box" tsb ? jawabannya Relatif tegnatung box-nya. Berapa besar space yang ada "di luar box" tsb? WOW! No Limit.

Coba kita lupakan segenap teori canggih dunia entrepreneurship (ttg modal usaha, skill, keberanian untuk memulai usaha, dst,dst). Sementara banyak orang yang masih harus bergelut dalam kesibukan bisnis setiap hari setelah 10 tahun berbisnis, mari kita simak kisah ilustrasi seorang TUKANG BECAK tamatan SD yang sudah mencapai "financial freedom" setelah bekerja hanya lebih kurang 5 tahun saja, dgn "passive income" Rp. 9 juta/bulan !!!

Becak ke-1: ==> Seorang tukang becak memiliki becak motor dengan penghasilan bersih Rp. 60,000/hari (bekerja dari pagi hingga larut malam). Biaya hidupnya sekitar Rp.30,000/hari. Lalu ia berjuang utk konsisten menabung Rp. 30,000/hari. Dalam tempo 400 hari, ia mampu membeli becak kedua yang harganya Rp. 12 juta/unit. Becak Ke-2: ==> Ia sewakan becak keduanya dengan tarif Rp.30,000/hari. Sementara ia tetap menarik becak pertamanya. Sekarang ia bisa menabung Rp. 60,000/hari. Dalam tempo 200 hari, ia mampu membeli becak ketiga. Becak Ke-3: ==> Ia sewakan becak ketiganya, sehingga sekarang ia mampu menabung Rp. 90,000/hari. Dalam tempo 134 hari, ia membeli becak ke-4. Becak Ke-4:==> Ia sewakan becak tsb, sehingga sekarang ia mampu menabung Rp. 120,000/hari. Dalam tempo 100 hari, ia membeli becak baru lagi. Becak Ke-5:==> Ia sewakan becak tsb, sehingga sekarang ia mampu menabung Rp. 150,000/hari. Dalam tempo 80 hari, ia membeli becak baru lagi. Becak Ke-6:==> Ia sewakan becak tsb, sehingga sekarang ia mampu menabung Rp. 180,000/hari. Dalam tempo 67 hari, ia membeli becak baru lagi. Becak Ke-7:==> Ia sewakan becak tsb, sehingga sekarang ia mampu menabung Rp. 210,000/hari. Dalam tempo 57 hari, ia membeli becak baru lagi. Becak Ke-8:==> Ia sewakan becak tsb, sehingga sekarang ia mampu menabung Rp. 240,000/hari. Dalam tempo 50 hari, ia membeli becak baru lagi. Becak Ke-9:==> Ia sewakan becak tsb, sehingga sekarang ia mampu menabung Rp. 270,000/hari. Dalam tempo 45 hari, ia membeli becak baru lagi. Becak Ke-10: ==> Ia sewakan becak tsb, sehingga sekarang ia mampu menabung Rp. 300,000/hari. Dalam tempo 40 hari, ia membeli becak baru lagi. Setelah becak ke-10, ia berhenti menarik becak. Ia sewakan becak pertamanya ke orang lain. Ia lalu menggaji seorang "mandor" untuk mengurusi ke-10 becaknya. Ia PENSIUN. Kini ia menikmati penghasilan Rp. 300,000/hari, atau Rp. 9 juta/bulan (sebelum potong gaji sang mandor). Jika ditotal semua usahanya tsb hanya dicapai dalam tempo 3,2 TAHUN SAJA.

Tentu saja ini cuma sebuah ilustrasi, dengan menarik garis lurus dari sebuah bisnis. Katakanlah dalam tempo 10 tahun (bukan 3,2 tahun seperti dalam ilustrasi), sang TUKANG BECAK mampu mencapainya. Ini LOGIS, dan bisa terjadi. Berapa banyak TUKANG BECAK di dunia yang seperti itu ? Mungkin 1 banding 10 juta. Tetapi ADA. Berapa banyak TUKANG BECAK di dunia yang menjadi tukang becak seumur hidupnya dan terus hidup susah? Buanyyaaak sekali. Sekarang bandingkan dengan banyak profesional tamatan S1 ataupun S2, atau bandingkan dengan para pengusaha yang masih harus bergelut dengan kesibukan mencari nafkah setiap hari. Kontras sekali bukan....

THINK OUT OF THE BOX. Perbedaannya akan bagaikan langit dan bumi. Kunci kesuksesannya terletak pada "duplikasi". Ini rahasianya : "Jalankan bisnis yang mudah diduplikasikan, dan tidak perlu keterlibatan kita secara penuh dalam bisnis tsb". Cth : ikuti bisnis franchise yang berpotensi, beli asset lalu sewakan asset tsb, dst.

KUNCI UTAMA LAINNYA adalah : Hidup hemat pada awalnya untuk menabung, uang tabungan diinvestasikan untuk menghasilkan uang, lakukan terus berulang2, setelah penghasilannya sudah cukup besar, barulah hidup bersenang2. Mari berhitung matematika..

Jika Anda diberikan 2 option kontrak kerja / kontrak bisnis berikut ini, mana yang Anda pilih ?

1). Kontrak 2 tahun, tidak dpt dibatalkan, penghasilan/ bulan Rp. 100 juta. 2). Kontrak 2 tahun, tidak dpt dibatalkan, penghasilan di bulan pertama cuma Rp.1000, tapi berlipat dua setiap bulan.

Pilih mana ????

Jawabannya :

Option I : Penghasilan Rp. 100 juta/bln x 24 bln = Rp. 2,4 Milyar

Option II:

Bulan ke-1 : Rp. 1000

2. 2000

3. 4000

4. 8000

5. 16,000

6. 32,000

7. 64,000

8. 128,000

9. 256,000

10. 512,000

11. 1024,000

12. 2 juta

13. 4 juta

14. 8 juta

15. 16 juta

16. 32 juta

17. 64 juta

18. 128 juta

19. 256 juta

20. 512 juta

21. 1 milyar

22. 2 milyar

23. 4 milyar

24. 8 milyar

Jika Anda pilih option I, Anda kecolongan lebih dari 6 MILYAR !!! Kita hanya diajari oleh guru di sekolah tentang teori2 Albert Eintein spt rumus kekuatan bom atom spt "E=MC2", dst. Tetapi tidak diajarkan bahwa "kekuatan duplikasi" juga dikagumi oleh Albert Eintein, ilmuwan paling cemerlang abad 20, ia mengatakan "Kekuatan duplikasi adalah keajaiban dunia ke delapan".

FINANCIAL FREEDOM ALA HOWARD SCHULTZ (pemilik Starbucks)? Bayangkan seorang pengusaha jenius sekaliber Schultz (ia baru dijuluki pengusaha jenius setelah sukses, tetapi saat pertama kali menawarkan ide bisnis menjual segelas kopi seharga puluhan ribu rupiah, ia diteriakin GILA dan ditolak ratusan orang). Ia mampu mengubah produk komoditas murah (kopi) menjadi produk eksklusif (customer-experienc e) berharga luar biasa mahal. Ia pandai pula mendapatkan dana segar nan murah melalui GO PUBLIC. Ia pandai pula memanfaatkan media sebagai "public relation" untuk mempromosikan Starbucks. Ia pandai pula membangun partnership dgn perusahaan global spt Pepsi, dst. Hasilnya LUAR BIASA. Dengan kekuatan "KONSEP DUPLIKASI", kedai kopi pertama yang dibangun Schultz tahun 1985, menjelma menjadi lebih dari 10,000 toko di tahun 2006, tersebar di seluruh dunia. Dan terus berlipat GANDA setiap tahun sampai sekarang....

Schultz lalu memutuskan untuk PENSIUN. Di tahun 2000, ia menggaji seorang "mandor" utk mengurus jaringan Starbucks nya di seluruh dunia. Tentu saja sang mandor disebut dengan istilah keren "CEO" bernama Orin C. Smith. Baik sang TUKANG BECAK maupun SCHULTZ sama2 mencapai "financial freedom". Yang satu pencapaiannya hanya kelas regional, yang satu lagi kelas dunia. Sedangkan milyaran penduduk dunia tidak pernah mencapai "financial freedom", walaupun hanya di kelas regional saja....

Bila sang TUKANG BECAK tamatan SD mampu melakukannya, seorang tamatan S1 secara logika pasti bisa melakukannya dengan hasil 3 kali lipat lebih banyak (SD ke S1 kan ada 3 tahap, yakni SMP, SMU, baru Universitas) .

Mari kita ambil hikmahnya. Seandainya salah satu dari kita bisa memanfaatkan hikmah tsb dgn TAKE ACTION, semoga financial freedom bisa tercapai dalam 5 tahun mendatang... . Bila Anda bermurah hati, artikel ini bisa dikutip utk disharing ke berbagai pihak, teman2 Anda, rekan2 kerja, famili2, ataupun disharing pada milis2 lainnya. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Semoga kisah Starbucks2 lain bermunculan di bumi Indonesia dalam 5 tahun mendatang... .

Kamis, 15 Mei 2008

Membuka Blocking Mental

MEMBUKA BLOCKING MENTAL

DAN MELANGKAH UNTUK MEMULAI USAHA

Pertama kali istilah Blocking Mental saya dengar dari Mas Budi Utoyo, salah seorang trainer kewirausahaan di Entrepreneur University, pengusaha yang sukses, sekaligus senior saya di Korps Sukarela Universitas Brawijaya. Istilah tersebut kemudian saya baca lagi di blog www.visimandiri.blogspot.com yang kebetulan milik kakak saya Ardiansyah.

Blocking mental sendiri menurut saya merupakan semacam doktrinasi yang sudah kita dapatkan dari kecil. Kalo kita renungkan kembali pertanyaan-pertanyaan yang dulu kita dapatkan waktu kecil dan banyak dialami anak kecil adalah “mau jadi apa kalo sudah besar”, sering anak-anak kecil menjawab jadi dokter, jadi pilot, jadi pegawai negeri dan jadi yang lain yang pada intinya jadi pegawai, jarang yang menjawab jadi pengusaha sukses. Bahkan yang lebih parah, banyak juga orang tua yang belum-belum sudah bilang ke anaknya nanti kalo besar jadi pegawai saja, nggak usaha neko-neko.

Stigma tersebut kemudian menjadi “cantolan memencet tombol di otak kita” (meminjam istilahnya Pak Tung Desem Waringin) dan terbawa sampai kita besar dan secara tidak sadar kemudian menjadi cita-cita kita. Tanpa kita sadari, dalam perjalanan hidup kita, hal tersebut kemudian mempengaruhi setiap tindakan maupun segala sesuatu yang kita lakukan, termasuk sekolah dan mengambil jurusan saat kuliah bahkan saat melamar kerja kita pilih sesuai dengan cantolan yang telah kita buat saat kecil tersebut. Akibatnya banyak dari kita yang hanya beraninya menjadi pekerja bukan pengusaha, karena dari kecil sudah membuat cantolan menjadi pekerja dan memblock mental kita.

Sebagai akibat doktrinasi yang salah saat kecil itulah, terasa sangat berat bagi kita saat akan memulai usaha, terlebih lagi bagi kita yang sudah bekerja mapan sebagai pegawai, termasuk yang penulis rasakan sendiri. Menurut Robert Kiyosaki, ketakutan-ketakutan yang membuat seorang pegawai untuk berpindah kuadaran dari kuadaran E (pegawai) ke kuadran B (pemilik usaha) adalah kehilangan rasa aman, yaitu rasa aman kehilangan kepastian penghasilan setiap bulan, bahkan bagi golongan E, rasa aman bahkan lebih penting dari uang.

Menurut penulis ada beberapa hal yang dapat membantu kita membuka blocking mental yang ada dalam diri kita, yaitu: (i). menetapkan menjadi pengusaha sukses adalah salah satu impian kita; (ii). Agar kita tidak terkena virus “mimpi kali yee..”, impian menjadi pengusaha sukses tersebut kemudian kita jadikan cita-cita, caranya dengan membuat langkah-langkah awal untuk mencapai impian tersebut, karena impian tanpa pelaksanaan tetap impian semata bukan cita-cita; (iii). bergaul dengan komunitas wirausaha, biar ikut tertular virus wirausaha-nya dan juga belajar dari mereka dalam memulai dan mengelola usaha, serta memperluas pertemanan, sehingga saat kita memulai usaha minimal kita sudah ada jaringan untuk membuat penawaran. Bergaul ini juga sangat penting, salah satunya adalah untuk memprovokasi diri kita sendiri untuk berani mengikuti jejak teman-teman yang ada memulai usaha dan membuka lapangan kerja. (iv). tidak mudah menyerah dan terus belajar baik dari orang lain maupun dari kegagalan usaha kita diawal-awal.

Jadi untuk sahabat-sahabat pembaca blog ini yang masih takut untuk memulai usaha, jangan kuatir, penulis juag masih takut dan bingung untuk memulai usaha. Yang ada dalam diri penulis saat ini hanya masih sebatas niat yang kuat dan sedang memprovokasi diri sendiri untuk berani memulai usaha. Untuk sahabat-sahabat yang telah berani dan sukses melalui tahap ini dan punya usaha sendiri, boleh donk bagi-bagi tips, saran-saran dan semangat kepada pembaca yang lain. Terima kasih.