Persoalan yang sering muncul dalam sebuah usaha adalah perpindahan karyawan. Tidak urung kadang kala pindahnya seorang karyawan apalagi jika karyawan berbakat sedikit banyak akan menimbulkan goncangan di perusahaan atau komunitas tersebut. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah Mengapa karyawan berbakat ini pergi walaupun gajinya besar?
Jawabannya terletak pada salah satu penelitian terbesar yang dilakukan oleh Gallup Organization. Penelitian ini mensurvei lebih dari satu juta karyawan dan delapan puluh ribu manajer, lalu dipublikasikan dalam sebuah buku berjudul First Break All the Rules. Penemuannya adalah sebagai berikut: Jika orang-orang yang bagus meninggalkan perusahaan, lihatlah atasan langsung/tertinggi di departemen mereka. Lebih dari alasan apapun, dia adalah alasan orang bertahan dan berkembang dalam organisasi. Dan dia adalah alasan mengapa mereka berhenti, membawa pengetahuan, pengalaman, dan relasi bersama mereka. Biasanya langsung ke pesaing. Orang meninggalkan manajer/direktur anda, bukan perusahaan, tulis Marcus Buckingham dan Curt Hoffman penulis buku First Break All the Rules.
Pakar SDM menyatakan bahwa dari semua bentuk tekanan, karyawan menganggap penghinaan di depan umum adalah hal yang paling tidak bisa diterima. Pada kesempatan pertama, seorang karyawan mungkin tidak pergi, tetapi pikiran untuk melakukannya telah tertanam. Pada saat yang kedua, pikiran itu diperkuat. Saat yang ketiga kalinya, dia mulai mencari pekerjaan yang lain. Ketika orang tidak bisa membalas kemarahan secara terbuka, mereka melakukannya dengan serangan pasif, seperti: dengan membandel dan memperlambat kerja, dengan melakukan apa yang diperintahkan saja dan tidak memberi lebih, juga dengan tidak menyampaikan informasi yang krusial kepada sang bos atau atasanya langsung. Jika ini terjadi maka yang paling dirugikan adalah Perusahaan. Apapun upaya yang dilakukan oleh Perusahaan untuk menahan karyawan tersebut, bahkan dalam bentuk memberikan penghargaan kerja yang setinggi-tingginya tetap akan sia-sia.
Belajar dari hasil penelitian tersebut di atas, bagi pelaku usaha skala UMKM, dimana kebanyakan atasan langsung karyawan adalah juga pemilik usaha, prinsip memimpin dengan hati sepertinya cocok untuk menghindari seringnya perpindahan karyawan dalam perusahaan kita. Usahakan kita melakukan komunikasi dengan karyawan sesering mungkin. Buka pintu kantor atau rumah kita selebar mungkin untuk mendengarkan usulan, masukan bahkan keluhan karyawab kita dan ajak mereka berbicara dari hati ke hati. Jangan perlakukan karyawan hanya sekedar sebagai factor produksi saja. Memang setiap permasalahan belum tentu dapat dipecahkan atau seriap usulan belum tentu dapat diterima dan di aplikasikan, akan tetapi minimal, jika kita mau berbicara secara baik-baik kepada mereka, perasaan dihargai dari seorang karyawan akan muncul. Dan imbasnya adalah menghilangkan perasaan ataupun pikiran yang tidak-tidak terhadap atasan. Melakukan komunikasi kepada karyawan dari hati ke hati juga dapat menghindarkan kita membuat keputusan untuk main pecat terhadap karyawan, jika karyawan tersebut performa-nya kurang memuaskan.
Disamping Prinsip memimpin dengan hati ini, untuk mengelola karyawan kita dapat juga mengaplikasikan prinsip 4F yaitu fair, frank firm and friendly atau adil, terus terang, tegas namun tetap bersahabat, seperti dalam tulisan saya terdahulu. Prinsip kehati-hatian dalam mengelola karyawan sangat perlu untuk menunjang usaha kita. Ada beberapa keuntungan yang akan kita peroleh jika kita tepat dalam mengelola karyawan, yaitu:
1. Mengirit biaya pengembangan SDM. Karena jika sering terjadi pergantian karyawan maka kita harus mengeluarkan biaya lagi untuk pelatihan dan sebagianya untuk karyawab baru.
2. Waktu yang ada bisa digunakan untuk mengembangkan hal-hal lain di perusahaan, seperti inovasi produk dan perluasan pemasaran.
3. Meningkatkan citra perusahaan, sebagai perusahaan yang mempunyai team building yang kuat dan kondisi kerja yang kondusif.
Jika anda sebagai pengusaha ataupun atasan yang membawahi banyak karyawan, sudah menerapkan jurus-jurus tersebut, akan tetapi masih juga sering terjadai arus keluar masuk yang tinggi, maka anda sebagai atasan ataupun komandan harus berani untuk koreksi diri anda sendiri. Bukankah kata Napoleon Bonaparte TIDAK ADA PRAJURIT YANG JELEK, YANG ADA DALAH JENDRAL YANG BODOH.
Kira-kira kalo diterapkan di TDA untuk mengelola pengurus dan anggota bisa gak yha??? Au… ah.. gelap.
Blog tempat saya berbagi ilmu dan belajar bersama sahabat-sahabat semua. Semoga tulisan-tulisan sederhana saya dalam blog ini dapat bermanfaat untuk kita semua,amin.
Selasa, 27 Oktober 2009
MEMIMPIN DENGAN HATI
Persoalan yang sering muncul dalam sebuah usaha adalah perpindahan karyawan. Tidak urung kadang kala pindahnya seorang karyawan apalagi jika karyawan berbakat sedikit banyak akan menimbulkan goncangan di perusahaan atau komunitas tersebut. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah Mengapa karyawan berbakat ini pergi walaupun gajinya besar?
Jawabannya terletak pada salah satu penelitian terbesar yang dilakukan oleh Gallup Organization. Penelitian ini mensurvei lebih dari satu juta karyawan dan delapan puluh ribu manajer, lalu dipublikasikan dalam sebuah buku berjudul First Break All the Rules. Penemuannya adalah sebagai berikut: Jika orang-orang yang bagus meninggalkan perusahaan, lihatlah atasan langsung/tertinggi di departemen mereka. Lebih dari alasan apapun, dia adalah alasan orang bertahan dan berkembang dalam organisasi. Dan dia adalah alasan mengapa mereka berhenti, membawa pengetahuan, pengalaman, dan relasi bersama mereka. Biasanya langsung ke pesaing. Orang meninggalkan manajer/direktur anda, bukan perusahaan, tulis Marcus Buckingham dan Curt Hoffman penulis buku First Break All the Rules.
Pakar SDM menyatakan bahwa dari semua bentuk tekanan, karyawan menganggap penghinaan di depan umum adalah hal yang paling tidak bisa diterima. Pada kesempatan pertama, seorang karyawan mungkin tidak pergi, tetapi pikiran untuk melakukannya telah tertanam. Pada saat yang kedua, pikiran itu diperkuat. Saat yang ketiga kalinya, dia mulai mencari pekerjaan yang lain. Ketika orang tidak bisa membalas kemarahan secara terbuka, mereka melakukannya dengan serangan pasif, seperti: dengan membandel dan memperlambat kerja, dengan melakukan apa yang diperintahkan saja dan tidak memberi lebih, juga dengan tidak menyampaikan informasi yang krusial kepada sang bos atau atasanya langsung. Jika ini terjadi maka yang paling dirugikan adalah Perusahaan. Apapun upaya yang dilakukan oleh Perusahaan untuk menahan karyawan tersebut, bahkan dalam bentuk memberikan penghargaan kerja yang setinggi-tingginya tetap akan sia-sia.
Belajar dari hasil penelitian tersebut di atas, bagi pelaku usaha skala UMKM, dimana kebanyakan atasan langsung karyawan adalah juga pemilik usaha, prinsip memimpin dengan hati sepertinya cocok untuk menghindari seringnya perpindahan karyawan dalam perusahaan kita. Usahakan kita melakukan komunikasi dengan karyawan sesering mungkin. Buka pintu kantor atau rumah kita selebar mungkin untuk mendengarkan usulan, masukan bahkan keluhan karyawab kita dan ajak mereka berbicara dari hati ke hati. Jangan perlakukan karyawan hanya sekedar sebagai factor produksi saja. Memang setiap permasalahan belum tentu dapat dipecahkan atau seriap usulan belum tentu dapat diterima dan di aplikasikan, akan tetapi minimal, jika kita mau berbicara secara baik-baik kepada mereka, perasaan dihargai dari seorang karyawan akan muncul. Dan imbasnya adalah menghilangkan perasaan ataupun pikiran yang tidak-tidak terhadap atasan. Melakukan komunikasi kepada karyawan dari hati ke hati juga dapat menghindarkan kita membuat keputusan untuk main pecat terhadap karyawan, jika karyawan tersebut performa-nya kurang memuaskan.
Disamping Prinsip memimpin dengan hati ini, untuk mengelola karyawan kita dapat juga mengaplikasikan prinsip 4F yaitu fair, frank firm and friendly atau adil, terus terang, tegas namun tetap bersahabat, seperti dalam tulisan saya terdahulu. Prinsip kehati-hatian dalam mengelola karyawan sangat perlu untuk menunjang usaha kita. Ada beberapa keuntungan yang akan kita peroleh jika kita tepat dalam mengelola karyawan, yaitu:
1. Mengirit biaya pengembangan SDM. Karena jika sering terjadi pergantian karyawan maka kita harus mengeluarkan biaya lagi untuk pelatihan dan sebagianya untuk karyawab baru.
2. Waktu yang ada bisa digunakan untuk mengembangkan hal-hal lain di perusahaan, seperti inovasi produk dan perluasan pemasaran.
3. Meningkatkan citra perusahaan, sebagai perusahaan yang mempunyai team building yang kuat dan kondisi kerja yang kondusif.
Jika anda sebagai pengusaha ataupun atasan yang membawahi banyak karyawan, sudah menerapkan jurus-jurus tersebut, akan tetapi masih juga sering terjadai arus keluar masuk yang tinggi, maka anda sebagai atasan ataupun komandan harus berani untuk koreksi diri anda sendiri. Bukankah kata Napoleon Bonaparte TIDAK ADA PRAJURIT YANG JELEK, YANG ADA DALAH JENDRAL YANG BODOH.
Kira-kira kalo diterapkan di TDA untuk mengelola pengurus dan anggota bisa gak yha??? Au… ah.. gelap.
Senin, 19 Oktober 2009
BUILD PEOPLE THEN PEOPLE WILL BUILD THE BUSINESS
Menurut Nur Kuntjoro seorang Profit Improvement and Turnaround Consultant dalam bukunya THINKING OUT OF THE BOX FOR PROFIT, salah satu rahasia dalam melakukan turnaround and quantum leap sebuah perusahaan untuk mencapai sustanaible growth dan suistanable profit, adalah menerapkan prinsip “build people then people will build the business”.
Prinsip tersebut mengajarkan bahwa kita harus memperlakukan tenaga kerja lebih dari sekedar factor produksi.
Lee Iacocca, mantan Presiden Direktur Ford dengan prestasi gemilang telah membuktikan hal tersebut, saat menerima tantangan untuk menjadi CEO perusahaan otomotif Chrysler yang saat itu dalam kondisi hancur lebur. Saat pertama kali memimpin Chrysler dalam kondisi hancur, Lee memfokuskan perhatianya pada pembenahan team building dan komitmen seluruh anggota team. Lee mengumpulkan semua orang dalam sebuah aula dan menanyakan komitmen semua karyawan terhadap perusahaan dan tanpa basa-basi meminta agar staff yang sudah tidak mempunyai komitmen untuk memajukan perusahaan agar keluar dari perusahaan.
Bagi Lee tenaga kerja merupakan factor terpenting dalam menjalankan perusaha. Dalam otobiografinya, Lee menyatakan “at the end of all business operation can reduced to three words: people, product, and profit. People come first. Unless you have got a good team, you can’t do much with other two. Mengelola tenaga kerja dalam usaha yang sedang kita jalankan memang gampang-gampang susah, apalagi jika usaha kita sedang tumbuh berkembang. Yang paling sering terjadi adalah karyawan andalan kita di bajak oleh perusahaan lain atau oleh pesaing. Lebih gawat lagi adalah jika karyawan yang dibajak tersebut merupakan karyawan yang paling tahu core bisnis kita, karena merupakan karyawan yang ikut kita sejak dari awal kita membangun bisnis, bisa di pastikan kita akan pusing tujuh keliling untuk mencari penggantinya, belum lagi timbulnya pesaing dari tempat kerja karyawan baru kita tersebut.
Untuk mengelola karyawan kita dapat menerapkan prinsip 4F yaitu: fair, frank, firm and friendly atau adil, terus terang, tegas namun tetap bersahabat. Memperlakukan karyawan secara adil sangat penting. Adil baik dari sisi besaran gaji maupun bonus. Karyawan dengan masa kerja yang lebih lama, kemampuan yang lebih serta prestasi kerja yang lebih mantap tentunya berhak untuk menikmati gaji dan bonus yang lebih dibandingkan dengan karyawan yang berkemampuan dan prestasi biasa saja. Jangan sampai kita memperlakukan karyawan secara sama rata tanpa mempertimbangkan kemampuan dan prestasi Karyawan.
Untuk itu buatlah tolak ukur pencapaian yang jelas tentang besaran bonus serta kenaikan gaji karyawan di perusahaan kita.
Prinsip terus terang juga harus kita biasakan dalam budaya perusahaan kita. Jika seorang karyawan melakukan kesalahan, kita harus berani menegur dan jika dia berprestasi kita harus berani memberikan apresiasi kepada yang bersangkutan. Teguran dan apresiasi tentunya harus diberikan sesuai dengan kesalahan dan prestasi dari yang bersangkutan tidak boleh berlebihan. Kita tidak boleh membiarkan suatu kesalahan dalam perusahaan kita, pembiaran terhadap suatu kesalahan dapat menimbulkan gunung es, karena dapat menjadi preseden yang buruk bagi budaya perusahaan kita. Prinsip tegas harus diterapkan demi tegaknya aturan dalam perusahaan kita.
Seyogyanya dalam sebuah perusahaan mempunyai aturan perusahaan yang harus dibuat secara tertulis dan diketahui oleh seluruh karyawan, kalo perlu aturan tersebut di tempelkan di tempat kerja. Segala bentuk tindakan yang merugikan perusahaan harus di tindak berdasarkan aturan perusahaan yang sudah ditetapkan. Hindari tindakan permisif hanya karena alasan kasihan, apalagi untuk kesalahan yang dilakukan berkali-kali, ingat masih banyak karyawan lain yang harus anda pikirkan.
Prinsip terakhir adalah memperlakukan karyawan sebagai rekan kerja bukan hanya factor produksi untuk meningkatkan produksi atau keuntungan semata.
Perlakukan karyawan seperti layaknya keluarga besar kita, tentunya keluarga dalam dunia usaha. Dengan begitu maka karyawan akan merasa nyaman dalam bekerja yang ujung-ujungnya akan meningkatkan produktifitas perusahaan kita. Jika produksifitas meningkat maka otomatis produksi meningkat dan berpotensi untuk meningkatkan keuntungan perusahaan kita secara signifikan. Sebaliknya jika karyawan tidak nyaman dalam bekerja, maka dia hanya akan bekerja setengah hati saja, yang ujung-ujungnya akan mengahmbat perkembangan dan malah menambah beban perusahaan saja.
Mengelola karyawan tentunya harus dilakukan dari banyak sisi.
Memperlakukan karyawan dengan prisnip 4F seperti tersebut di atas hanayalah salah satu hal yang dapat ditempuh. Hal lain yang juga harus diperhatikan adalah peningkatan kemampuan kerja karyawan, agar dapat menguasai tugas dan fungsinya di perusahaan secara optimal. Memberikan kepastian atas penghasilan juga sangat penting, agar karyawan tidak terbebani denagn pikiran pendapatannya di hari-hari berikutnya. Termasuk disini adalah membayarkan upahnya sesuai jadwal yang ada, bahakn kalo perlua sebelum jadwal pembayaran upah. Bukankah Islam mengajarkan, bayarkanlah upah buruhmu sebelum kering keringatnya….
Semoga bermanfaat …..
Label:
karyawan,
tangan di atas,
think out of the box
Selasa, 06 Oktober 2009
TIDAK PENTING DI QUADRANT MANA ANDA BERADA
“Wah.. sekarang buka usaha yha, jadi pengusaha donk…..”
“Jadi pindah quadran nich??.. sudah di quadran apa?.. E, S, B atau I? (dengan merujuk quadrant versi Robert T Kiyosaki dalam bukunya Cashflow Quadrant)
Itulah pertanyaan yang sering mampir ke saya saat kumpul-kumpul atau bertemu dengan teman-teman kuliah atau SMA. Pertanyaan serupa juga sering saya dapatkan jika kumpul-kumpul dengan teman-teman TDA, yang baru saya kenal. Segera saja pertanyaan khas TDA muncul. “sekarang usahanya apa?” “masih TDB, Amphibi atau sudah Full TDA”. Pertanyaan standar komunitas TDA dengan mengacu kepada Quadrant versi TDA, “TDB, Amphibi atau Full TDA”.
Sebenarnya apakah ada urgensinya kita harus berada di quadrant tertentu?? Menurut saya tidak penting di quadrant mana kita berada. Ada banyak teman TDA yang seorang Amphibi tapi usahanya lebih maju, karyawanya lebih banyak bahkan ilmu bisnisnya lebih hebat dari yang sudah Full TDA. Sebaliknya banyak yang sudah Full TDA tapi hanya untuk gagah-gagahan saja, untuk pergaulan biar pas kumpul-kumpul dengan teman-teman TDA lainya bisa dengan bangga bilang saya sudah Full TDA atau bisa ikut maju wisuda saat milad TDA he.. he.. tapi pas ditanya bagaimana bisnisnya?? Au.. ah.. gelap.
Menurut saya yang paling penting adalah bukan symbol kita sudah di quadrant E, S, B atau I atau TDB, Amphibi atau Full TDA, akan tetapi mencermati sebenarnya apa sich tujuan adanya quadrant tersebut. Dalam buku-bukunya, Robert Kiyosaki mengajak kita untuk mencapai kebebasan financial, dimana kebebasan financial tersebut dapat dicapai oleh siapapun di quadrant manapun dia berada. Qudarant diciptakan untuk menggambarkan dengan cara apa seorang tersebut mencapai kebebasan finansialnya, bisa dengan tetap di quadrant E(mploye), S(self business), B(business owner), atau I(investor). Yang penting adalah kepintaran kita dalam mengatur keuangan, sehingga saat kita memasuki usia pensiun kita bisa menikmati kebebasan kita tanpa harus tetap bekerja keras, seperti ayah miskin-nya Robert Kiyosaki. Memang menurut Robert Kiyosaki kecendrungan seorang S untuk mencapai kebebasan financial lebih besar dari pada seorang E, begitu juga kecendrungan seorang B untuk mencapai kebebasan financial lebih besar dari pada seorang seorang S dan seterusnya, dan posisi seorang I mempunyai kecendrungan untuk mencapai kebebasan financial lebih besar dari pada semuanya, dengan asumsi orang tersebut mempunyai penghasilan lebih besar dari orang yang berada di quadrant bawahnya dan pintar mengelola keuangan.
Begitu juga di TDA, menurut saya tidak penting kita seorang amphibi atau Full TDA, yang paling penting adalah melaksanakan visi TDA yaitu “menebar rahmat”, mau berbagi dengan sesama, baik anggota TDA maupun bukan serta menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain. Percuma kita menjadi Full TDA jika bisnis kita sekedarnya saja sehingga penghasilan kita malah lebih buruk pada saat kita masih TDB atau Amphibi. Sebaliknya tidak apa2 kita menjadi Amphibi, asal usaha kita tetap lancar, karyawan banyak dan tetap mampu menggaji karyawan dan penghasilan makin mantap.
Hanya saja jika kita berada dalam kondisi yang sama yaitu usaha kita lancar, karyawan banyak dan tetap mampu menggaji karyawan dan penghasilan makin mantap, menjadi Full TDA adalah lebih baik dari pada menjadi Amphibi, karena kita dapat mengembangkan bisnis secara lebih bebas tanpa harus mencuri dan korupsi jam kerja di kantor, bisa menentukan nasib kita sendiri dan yang paling penting mempunyai kebebasan waktu sendiri.
Jadi sekarang terserah anda berada di quadrant yahud tapi hanya simbolik atau di quadrant lain tapi berhasil mencapai tujuan yang dikehendaki.
Kamis, 03 September 2009
THINKING OUT OF THE BOX FOR PROFIT
Think out of the box atau berpikir di luar kebiasaan umum (kotak yang sudah ada) dalam dunia wirausaha sudah biasa dilakukan. Dari mulai membuat produk berbeda baik dari segi bentuk, fungsi, cara penjualannya ataupun yang lainnya. Akan tetapi think out of the box ternyata juga dapat diterapkan dalam sisi manajemen, untuk melakukan “turnaround” dan “quantum leap” untuk perusahaan-perusahaan yang sedang mengalami kemunduran bahkan diambang kebangkrutan untuk kemudian menghasilkan keuntungan yang berlimpah.
Salah satu buku yang membahas tentang hal tersebut adalah buku berjudul “THINKING OUT OF THE BOX FOR PROFIT” karangan Nur Kuntjoro, seorang “profit improvement and turnaround consultant”. Dalam buku tersebut antara lain diceritakan kiat-kiat yang diambil saat penulis melakukan turnaround dan quantum leap terhadap Tupperware Indonesia, yang selalu mengalami kerugian sejak tahun 1991 sampai dengan 6 tahun beroperasi di Indonesia. Pada akhir tahun 1996 saat krisis ekonomi hebat mulai mendera dunia, Nur Kuntjoro kemudian dipercaya untuk memperbaiki manajemen Tupperware supaya kembali sehat dan lebih-lebih lagi memperoleh keuntungandan, saat itu beliau dipercaya menjadi COO (chief operation officer).
Jika anda yang ditunjuk untuk menjadi COO atau pimpinan perusahan yang dalam kondisi perusahaan rugi dan kondisi badai krisis ekonomi yang hebat kira-kira tindakan-tindakan apa yang akan lakukan untuk menyelamatkan perusahaan dari kerugian atau bahkan jurang kebangkrutan?? Tidak salah lagi, tindakan-tindakan yang lazim dilakukan oleh seorang Pimpinan perusahaan dalam kondisi di atas pasti adalah melakukan perampingan ataupun mengurangi jumlah karyawan ataupun gaji karyawan dari mulai tukang sapu sampai tingkat yang paling tinggi sampai mengurangi atau menghilangkan fasilitas-fasilitas yang diberikan kepada karyawan, atau pada intinya melakukan kebijakan pengetatan ikat pinggang untuk menekan pengeluaran perusahaan apapun jenis pengeluaran itu.
Akan tetapi langkah-langkah yang diambil oleh Nur Kuntjoro justru keluar dari kaidah-kaidah yang ada dan bahkan menentang arus yang ada. Saat perusahaan lain melakukan PHK, beliau justru menjamin di Tupperwrae tidak akan ada PHK. Saat perusahaan lain mengurangi gaji pegawai, beliau justru menaikan gaji pegawai Tupperwrae setiap tiga bulan untuk mengimbangi angka inflasi. Saat sembako menghilang dari pasaran di tahun 1998, beliau justru membuat kebijakan untuk membagikan sembako kepada karyawannya. Bahkan beliau juga membuat kebijakan yang sangat menraik yaitu menaikan penghasilan (margin keuntungan) dari para distributor dan agen Tupperware.
Langkah-langkah yang sangat berani tersebut beliau lakukan ditengah tentangan dan keraguan dari banyak pihak. Akan tetapi hasilnya adalah sangat mencengangkan.
Pada tahun 1998 atau satu setengah tahun setelah beliau menjadi COO, ditengah krisis ekonomi hebat yang masih belum surut, penjualan Tupperware meningkat 222% dari sebelumnya, sehingga Tupperwrae berhasil membukukan keuntungan yang besar, kerugian selama enam tahun dapat ditutupi dengan keuntungan selama satu setengah tahun saja.
Salah satu rahasia seorang Nur Kuntjoro dalam melakukan turnaround dan quantum leap terhadap Tupperware adalah menerapkan prinsip build people then people will build the business. Dimana beliau percaya bahwa sumber daya manusia yang ada diperusahaan mempunyai nilai yang sangat utama, tanpa sumber daya manusia yang baik tidak banyak yang bisa dilakukan untuk membangun usaha dan menghasilkan produk serta mencetak profit. SDM merupakan sumber daya paling penting untuk menggerakan roda usaha, sekalipun usaha anda adalah berbasil high technology, anda harus sadar bahwa SDM-nya yang menggerakan teknologi tersebut.
Rahasia-rahasia Nur Kuntjoro lainnya dalam melakukan turnaround dan quantum leap dituangkannya dalam buku berjudul “THINKING OUT OF THE BOX FOR PROFIT”. Buku tersebut mendapatkan acungan jempol dan di rekomedasikan untuk dibaca oleh motivator-motivator terkenal seperti James Gwee, Gede Prama, Andrie Wongso sampai Kemal E. Gani, Pimpinan Majalah SWA. Buku ini cocok untuk anda yang sedang ingin melakukan loncatan "go double" ataupun "go triple" atas usaha anda maupun bagi yang usahanya sedang terpuruk dan ingin bangkit kembali.
Bagi anda yang ingin mendapatkan buku “THINKING OUT OF THE BOX FOR PROFIT” silahkan hubungi saya, Arys, melalui HP. 081310721979, email: aryslho@gmail.com , untuk edisi hardcover harga Rp.65.000,-/pcs dan soft cover Rp.45.000,-/pcs plus ongkos kirim ke alamat anda.
Senin, 31 Agustus 2009
BERJUALAN ITU NIKMAT
Jualan… jualan.. jualan…, itulah teriakan anakku Afra (3 th) saat ikut menjaga stand Bazar Agustusan kemarin di Komplek sekaligus menyambut bulan Ramadhan. Stand Ukuran 3 x 4 M itu kami isi dengan dagangan apa saja yang masih tersisa stocknya, mulai dari Batik, Kerudung Sulam, Kaos Muslimah Oasis sampai pembersih rumah tangga curah. Dengan market cuma penghuni kompleks Jatibening Estate dan masyarakat sekitar kompleks, sebenarnya saat ikut bazaar kami tidak mengharpakan untung yang banyak, yang penting ikut meramaikan kegiatan kompleks dan yang lebih penting adalah menjaga semangat berwirausaha dan jualan.
Bagi anda yang belum pernah ikut bazar, saya sarankan ikut bazar. Salah seorang teman di TDA Bekasi, Mas Eko June, pernah menulis bahwa jualan secara langsung seperti ikut bazaar merupakan cara paling efektif untuk menghancurkan blocking mental kita. Saya setuju dengan hal tersebut, karena bagi yang jualannya cuma melalui on line dan tidak mempunyai gerai atau toko offline, saya yakin anda belum terbebas sepenuhnya dari blocking mental anda.
Pengalaman berjualan secara langsung melalui bazar kemarin bukan yang pertama saya alami. Pengalaman berjualan secara langsung saya setelah menikmati zona nyaman sebagai karyawan adalah saat baru saja keluar dari sebuah perusahaan Tbk. yang tergolong besar dengan jabatan terakhir sebagai deputy corporate legal manager. Waktu itu saya dari pintu ke pintu dan dari warung ke warung menawarkan pembersih rumah tangga curah bersama istri saya dan anak saya Afra yangwaktu itu berumur 2 tahun. Ada perasaan campur aduk yang saya rasakan waktu itu, apalagi kalo baru mau kasih brosur aja sudah ditolak, rasanya sakit hati, lebih sakit hati dari pada saat cinta ditolak he.. he..
Tapi rasanya senang sekali jika ada orang yang beli, padahal waktu itu keuntungannya cuma 1.000 perak/liter, tapi rasanya Subhanallah, seperti anak kecil yang dapat mainan. Rasa senang itu saya rasakan sampai dengan sekarang, saya ingat saat ikut bazar, kalo ada orang beli setelah transaksi selesai saya senyum-senyum sendiri, sampai-sampai penjaga stand sebelah saya terbengong-bengong. Tapi saya tidak peduli, walaupun kalo di bazar untung per pcs paling cuma 5.000 perak, tapi rasanya saya ikut bahagia sekali melihat pembeli saya juga bahagia, berhasil mendapatkan barang yang diinginkan dan di tambah rasa senang bisa nawar dengan sukses.
Perasaan itu juga saya rasakan kalo ada pembeli yang langsung datang ke rumah untuk membeli barang setelah melihat barang di webstore saya, lalu kemudian beli, biasanya saya kasih harga khusus juga, hitung2 bonus silaturahmi ke rumah. Akan tetapi perasaan itu tidak saya rasakan kalo pembelian melalui online, via email atau telp. kemudian barang saya kirim, walaupun tetap senang dan bersyukur Alhamdulillah, tapi ternyata rasa itu hanya sebatas itu saja tidak ada perasaan lebih selain senang barang laku dan mendapatkan uang.
Jadi bagi yang belum pernah jualan langsung face to facedengan customer, ada baiknya di coba, disana kita akan mendapat banyak kenikmatan, selain melatih kesantunan kita dalam menjelaskan dan melayani pelanggan, karena tidak dapat bersandiwara karena berhadapan langsung, bisa berslaturahmi dan menambah kenalan dan yang paling penting menghilangkan rasa malu, jengah ataupun minder untuk menjual sesuatu, karena menawarkan dan menjual adalah inti dari berwirausaha. Selamat mencoba, saya sudah pernah dan berani, saya yakin anda juga berani dan bisa.
Selasa, 18 Agustus 2009
MENGENAL PRINSIP-PRINSIP DALAM TRANSAKSI SYARI'AH
Dewasa ini skema transaksi usaha dengan menggunakan sistem ekonomi Islam atau yang lebih dikenal dengan transaksi syari'ah semakin berkembang pesat. Disamping sudah terbukti lebih memberikan keadilan, tahan terhadap krisis dimana saat bank-bank konvensional rontok saat krismon, bank-bank syari'ah justru sehat-sehat semua, serta semakin berkembangnya lembaga keuangan penunjang transaksi syari'ah mulai dari bank syrai'ah maupun lembaga keuangan syari'ah non-bank seperti BMT mauapun pasar modal syari'ah.
Berikut ini pengertian singkat tentang skema-skema atau terminologi yang biasa digunakan dalam transaksi yang menggunakan sistem syari'ah :
Wadi’ah, adalah akad penitipan barang/uang antara pihak yang mempunyai barang/uang dengan pihak yang diberi kepercayaan dengan tujuan untuk menjaga keselamatan, kemanan, serta keutuhan barang/uang .
Wadiah Yad Amanah, adalah akad penitipan barang/uang dimana pihak penerima tidak diperkenankan menggunakan barang/uang yang dititipkan dan tidak bertanggung jawab atas kerusakan atau kehilangan barang titipan yang bukan diakibatkan perbuatan atau kelalaian penerima titipan.
Mudharabah,adalah akad antara pihak pemilik modal (shahibulmal) dengan pengelola (mudharib) untuk memperoleh pendapatan atau keuntungan. Pendapatan atas keuntungan tersebut dibagi berdasarkan nisbah yang telah disepakati di awal akad.
Murabahah, adalah akad jual beli antara bank dengan nasabah. Bank membeli barang yang diperlukan nasabah dan menjual kepada nasabah yang bersangkutan sebesar harga pokok ditambahn dengan keuntungan yang disepakati.
Isthisna, adalah akad jual beli barang (Mashnu) antara pemesan (Mustashni) dengan penerima pesanan (Shani). Spesifikasi dan harga barang pesanan disepakati di awal akad dengan pembayaran dilakukan secara bertahap sesuai kesepakatan.
Ijarah, adalah akad sewa menyewa barang antara bank (muaajir) dengan penyewa (mustajir).
Salam, adalah akad jual beli barang pesanan (Musalam fiih) antara pembeli (Muslam) dengan penjual (Musalamilaih). Spesifikasi dan harga barang pesanan disepakati diawal akad dan pembayaran dilakukan dimuka secara penuh. Apabila bank bertindak sebagai Muslam kemudian memesan kepada pihak lain untuk menyediakan barang (Muslam fiih) maka hal tersebut Salam Paralel.
Rahn, adalah akad penyerahan barang/harta (Marhun) dari nasabah (Rahin) kepada Bank (Murtahin) sebagai jaminan sebagian atau seluruh hutang.
Qardh, adalah akad pinjaman dari bank (Muqridh) kepada pihak tertentu (Muqtaridh) yang wajib dikembalikan dengan jumlah yang sama sesuai pinjaman. Muqridh dapat meminta jaminan atas pinjaman kepada Muqtaridh. Pengembalian pinjaman dapat dilakukan secara angsuran ataupun sekaligus.
Qardhul Hasan, adalah akad pinjaman dari bank (Muqridh) kepada pihak tertentu (Muqtaridh) untuk tujuan sosial yang wajib dikembalikan dengan jumlah yang sama sesuai pinjaman.
Senin, 10 Agustus 2009
BELAJAR DARI FILOSOFI POHON JATI
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa pohon jati merupakan salah satu pohon yang menghasilkan kayu dengan kualitas terbaik dan mahal harganya. Di balik sosoknya yang sangar dan seram, pohon jati banyak di cari untuk dijadikan furniture maupun bagian rumah lainnya yang berbahan kayu. Selain kayunya, daun pohon jati juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan membungkus berbagai macam makanan. Di daerah saya di Pekalongan dan sekitarnya, saat alas roban masih banyak memiliki pohon jati, kadang daun pohon jati yang lebar setelah dibersihkan dimanfaatkan untuk membungkus nasi kenduren yang diberikan kepada tamu untuk dibawa pulang.
Dibalik tampangnya yang sangar pohon jati mempunyai filosofi yang sangat mendalam dan sangat relevan untuk dapat kita terapkan untuk melengkapi jiwa entrepreneurship kita.
Filosofi Jati yang pertama adalah: Biji Keras menghasilkan Kayu yang kuat (Kelas Kuat I dan Kelas Awet II). Biji merupakan awal mula (dasar) tumbuhnya sebuah pohon jati. Makin bagus biji yang kita tanam makan bagus kualitas pohon jati yang akan kita dapatkan. Begitu juga dalam berbisnis, kita harus mempunyai dasar yang kuat terutama secara mental (dan kuat financial lebih baik lagi).
Minimal kita harus mempersiapkan mental untuk berani keluar dari zona nyaman dan meruntuhkan blocking mental kita, terutama yang masih menyandang status karyawan/TDB dan ingin memulai usaha, terlebih lagi jika langsung full TDA dan melepas status karyawannya. Selain itu kita juga harus siap mental jika sewaktu-waktu usaha kita harus jatuh ataupun mengalami kemunduran, jangan sampai hal tersebut merontakan mental kita, akan tetapi sebaliknya jadikanlah sebagai sarana belajar dan evaluasi untuk bangkit lagi, agar kejadian yang sama tidak terulang kepada kita.
Filosofi Jati ke-II : Pohon jati tumbuh di daerah kering dan tandus, namun mampu menghasilkan kualitas kayu yang luar biasa. Pohon jati mampu beradaptasi dengan buruknya lingkungan tempat tumbuhnya. Filosofi ini mengajarkan bahwa dimanapun kita berada dan apapun buruknya keadaan kita, selalu ada celah dan peluang yang terbuka. Sepanjang kita mau berusaha serta beradaptasi dan belajar dari lingkungan sekitar maka kita akan tetap mendaptkan hasil tertentu. Disamping itu, jangan jadikan lingkungan sekitar kita ataupun beratnya permasalahan sebagai alasan untuk kita tidak dapat berkembang, kita harus mampu untuk berdaya dan berusaha secara maksimal dan optimal, seberat apapun masalah yang ada dan seburuk apapun keadaan kita dan lingkungan sekitar kita. Makin keras keadaan ataupun permasalahan yang kita hadapi, kita harus semakin yakin bahwa jika kita mampu melaluinya kita akan menjadi semakin besar. Seseorang akan teruji dan tangguh apabila di tempa pengalaman hidup yang keras.
Jangan kemudian kita lari atau menghindar dari keaadan ataupun masalah sekitar kita. Setiap permasalahan yang ada harus dipastikan diselesaikan sampai akar masalahnya, sehingga kejadian tersebut diharapakan tidak terulang, jika terulang maka kita sudah tahu cara menyelesaikannya. Kegagalan banyak terjadi karena orang lari atau menghindar dari masalah atau membiarkan masalah tersebut tanpa mau melihat ke akar masalahnya, sehingga setelah berlalunya waktu masalah tersebut (seolah-olah) “selesai”, padahal hanya mengendap saja dan siap meledak sewaktu-waktu dan akan menghancurkan kita.
Filosofi Jati ke III: Secara alami pohon jati memiliki daur yang lama untuk menghasilkan kualitas kayu yang baik. Oleh karena tidak ada pohon jati cangkokan atau dari hasil stek untuk meperpendek proses pembentukan kayu yang bagus. Filosofi ini mengajarkan bahwa seseorang menjadi tangguh diperlukan proses dan waktu yang lama, bukan "KARBITAN" atau di "KARBITKAN". Tidak ada yang langsung bisa besar dalam menjalankan usaha, proses step by step tetap harus kita lalui sebagai bagian dari pembelajaran kita untuk tumbuh semakin besar. Kita harus bersabar dan tetap belajar dengan proses yang ada, Lamanya proses sendiri juga tergantung dari daya upaya kita dalam menjalani proses tersebut. Jangan pernah menyerah kalaupun prosesnya lama yang penting kita juga harus pintar untuk mengamati dan belajar dari proses tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)