Kamis, 03 September 2009

THINKING OUT OF THE BOX FOR PROFIT

Think out of the box atau berpikir di luar kebiasaan umum (kotak yang sudah ada) dalam dunia wirausaha sudah biasa dilakukan. Dari mulai membuat produk berbeda baik dari segi bentuk, fungsi, cara penjualannya ataupun yang lainnya. Akan tetapi think out of the box ternyata juga dapat diterapkan dalam sisi manajemen, untuk melakukan “turnaround” dan “quantum leap” untuk perusahaan-perusahaan yang sedang mengalami kemunduran bahkan diambang kebangkrutan untuk kemudian menghasilkan keuntungan yang berlimpah. 

 Salah satu buku yang membahas tentang hal tersebut adalah buku berjudul “THINKING OUT OF THE BOX FOR PROFIT” karangan Nur Kuntjoro, seorang “profit improvement and turnaround consultant”. Dalam buku tersebut antara lain diceritakan kiat-kiat yang diambil saat penulis melakukan turnaround dan quantum leap terhadap Tupperware Indonesia, yang selalu mengalami kerugian sejak tahun 1991 sampai dengan 6 tahun beroperasi di Indonesia. Pada akhir tahun 1996 saat krisis ekonomi hebat mulai mendera dunia, Nur Kuntjoro kemudian dipercaya untuk memperbaiki manajemen Tupperware supaya kembali sehat dan lebih-lebih lagi memperoleh keuntungandan, saat itu beliau dipercaya menjadi COO (chief operation officer). 

Jika anda yang ditunjuk untuk menjadi COO atau pimpinan perusahan yang dalam kondisi perusahaan rugi dan kondisi badai krisis ekonomi yang hebat kira-kira tindakan-tindakan apa yang akan lakukan untuk menyelamatkan perusahaan dari kerugian atau bahkan jurang kebangkrutan?? Tidak salah lagi, tindakan-tindakan yang lazim dilakukan oleh seorang Pimpinan perusahaan dalam kondisi di atas pasti adalah melakukan perampingan ataupun mengurangi jumlah karyawan ataupun gaji karyawan dari mulai tukang sapu sampai tingkat yang paling tinggi sampai mengurangi atau menghilangkan fasilitas-fasilitas yang diberikan kepada karyawan, atau pada intinya melakukan kebijakan pengetatan ikat pinggang untuk menekan pengeluaran perusahaan apapun jenis pengeluaran itu. 

Akan tetapi langkah-langkah yang diambil oleh Nur Kuntjoro justru keluar dari kaidah-kaidah yang ada dan bahkan menentang arus yang ada. Saat perusahaan lain melakukan PHK, beliau justru menjamin di Tupperwrae tidak akan ada PHK. Saat perusahaan lain mengurangi gaji pegawai, beliau justru menaikan gaji pegawai Tupperwrae setiap tiga bulan untuk mengimbangi angka inflasi. Saat sembako menghilang dari pasaran di tahun 1998, beliau justru membuat kebijakan untuk membagikan sembako kepada karyawannya. Bahkan beliau juga membuat kebijakan yang sangat menraik yaitu menaikan penghasilan (margin keuntungan) dari para distributor dan agen Tupperware. Langkah-langkah yang sangat berani tersebut beliau lakukan ditengah tentangan dan keraguan dari banyak pihak. Akan tetapi hasilnya adalah sangat mencengangkan. 

Pada tahun 1998 atau satu setengah tahun setelah beliau menjadi COO, ditengah krisis ekonomi hebat yang masih belum surut, penjualan Tupperware meningkat 222% dari sebelumnya, sehingga Tupperwrae berhasil membukukan keuntungan yang besar, kerugian selama enam tahun dapat ditutupi dengan keuntungan selama satu setengah tahun saja. Salah satu rahasia seorang Nur Kuntjoro dalam melakukan turnaround dan quantum leap terhadap Tupperware adalah menerapkan prinsip build people then people will build the business. Dimana beliau percaya bahwa sumber daya manusia yang ada diperusahaan mempunyai nilai yang sangat utama, tanpa sumber daya manusia yang baik tidak banyak yang bisa dilakukan untuk membangun usaha dan menghasilkan produk serta mencetak profit. SDM merupakan sumber daya paling penting untuk menggerakan roda usaha, sekalipun usaha anda adalah berbasil high technology, anda harus sadar bahwa SDM-nya yang menggerakan teknologi tersebut. 

Rahasia-rahasia Nur Kuntjoro lainnya dalam melakukan turnaround dan quantum leap dituangkannya dalam buku berjudul “THINKING OUT OF THE BOX FOR PROFIT”. Buku tersebut mendapatkan acungan jempol dan di rekomedasikan untuk dibaca oleh motivator-motivator terkenal seperti James Gwee, Gede Prama, Andrie Wongso sampai Kemal E. Gani, Pimpinan Majalah SWA. Buku ini cocok untuk anda yang sedang ingin melakukan loncatan "go double" ataupun "go triple" atas usaha anda maupun bagi yang usahanya sedang terpuruk dan ingin bangkit kembali. Bagi anda yang ingin mendapatkan buku “THINKING OUT OF THE BOX FOR PROFIT” silahkan hubungi saya, Arys, melalui HP. 081310721979, email: aryslho@gmail.com , untuk edisi hardcover harga Rp.65.000,-/pcs dan soft cover Rp.45.000,-/pcs plus ongkos kirim ke alamat anda.

Senin, 31 Agustus 2009

BERJUALAN ITU NIKMAT

Jualan… jualan.. jualan…, itulah teriakan anakku Afra (3 th) saat ikut menjaga stand Bazar Agustusan kemarin di Komplek sekaligus menyambut bulan Ramadhan. Stand Ukuran 3 x 4 M itu kami isi dengan dagangan apa saja yang masih tersisa stocknya, mulai dari Batik, Kerudung Sulam, Kaos Muslimah Oasis sampai pembersih rumah tangga curah. Dengan market cuma penghuni kompleks Jatibening Estate dan masyarakat sekitar kompleks, sebenarnya saat ikut bazaar kami tidak mengharpakan untung yang banyak, yang penting ikut meramaikan kegiatan kompleks dan yang lebih penting adalah menjaga semangat berwirausaha dan jualan. Bagi anda yang belum pernah ikut bazar, saya sarankan ikut bazar. Salah seorang teman di TDA Bekasi, Mas Eko June, pernah menulis bahwa jualan secara langsung seperti ikut bazaar merupakan cara paling efektif untuk menghancurkan blocking mental kita. Saya setuju dengan hal tersebut, karena bagi yang jualannya cuma melalui on line dan tidak mempunyai gerai atau toko offline, saya yakin anda belum terbebas sepenuhnya dari blocking mental anda. Pengalaman berjualan secara langsung melalui bazar kemarin bukan yang pertama saya alami. Pengalaman berjualan secara langsung saya setelah menikmati zona nyaman sebagai karyawan adalah saat baru saja keluar dari sebuah perusahaan Tbk. yang tergolong besar dengan jabatan terakhir sebagai deputy corporate legal manager. Waktu itu saya dari pintu ke pintu dan dari warung ke warung menawarkan pembersih rumah tangga curah bersama istri saya dan anak saya Afra yangwaktu itu berumur 2 tahun. Ada perasaan campur aduk yang saya rasakan waktu itu, apalagi kalo baru mau kasih brosur aja sudah ditolak, rasanya sakit hati, lebih sakit hati dari pada saat cinta ditolak he.. he.. Tapi rasanya senang sekali jika ada orang yang beli, padahal waktu itu keuntungannya cuma 1.000 perak/liter, tapi rasanya Subhanallah, seperti anak kecil yang dapat mainan. Rasa senang itu saya rasakan sampai dengan sekarang, saya ingat saat ikut bazar, kalo ada orang beli setelah transaksi selesai saya senyum-senyum sendiri, sampai-sampai penjaga stand sebelah saya terbengong-bengong. Tapi saya tidak peduli, walaupun kalo di bazar untung per pcs paling cuma 5.000 perak, tapi rasanya saya ikut bahagia sekali melihat pembeli saya juga bahagia, berhasil mendapatkan barang yang diinginkan dan di tambah rasa senang bisa nawar dengan sukses. Perasaan itu juga saya rasakan kalo ada pembeli yang langsung datang ke rumah untuk membeli barang setelah melihat barang di webstore saya, lalu kemudian beli, biasanya saya kasih harga khusus juga, hitung2 bonus silaturahmi ke rumah. Akan tetapi perasaan itu tidak saya rasakan kalo pembelian melalui online, via email atau telp. kemudian barang saya kirim, walaupun tetap senang dan bersyukur Alhamdulillah, tapi ternyata rasa itu hanya sebatas itu saja tidak ada perasaan lebih selain senang barang laku dan mendapatkan uang. Jadi bagi yang belum pernah jualan langsung face to facedengan customer, ada baiknya di coba, disana kita akan mendapat banyak kenikmatan, selain melatih kesantunan kita dalam menjelaskan dan melayani pelanggan, karena tidak dapat bersandiwara karena berhadapan langsung, bisa berslaturahmi dan menambah kenalan dan yang paling penting menghilangkan rasa malu, jengah ataupun minder untuk menjual sesuatu, karena menawarkan dan menjual adalah inti dari berwirausaha. Selamat mencoba, saya sudah pernah dan berani, saya yakin anda juga berani dan bisa.

Selasa, 18 Agustus 2009

MENGENAL PRINSIP-PRINSIP DALAM TRANSAKSI SYARI'AH

Dewasa ini skema transaksi usaha dengan menggunakan sistem ekonomi Islam atau yang lebih dikenal dengan transaksi syari'ah semakin berkembang pesat. Disamping sudah terbukti lebih memberikan keadilan, tahan terhadap krisis dimana saat bank-bank konvensional rontok saat krismon, bank-bank syari'ah justru sehat-sehat semua, serta semakin berkembangnya lembaga keuangan penunjang transaksi syari'ah mulai dari bank syrai'ah maupun lembaga keuangan syari'ah non-bank seperti BMT mauapun pasar modal syari'ah. Berikut ini pengertian singkat tentang skema-skema atau terminologi yang biasa digunakan dalam transaksi yang menggunakan sistem syari'ah : Wadi’ah, adalah akad penitipan barang/uang antara pihak yang mempunyai barang/uang dengan pihak yang diberi kepercayaan dengan tujuan untuk menjaga keselamatan, kemanan, serta keutuhan barang/uang . Wadiah Yad Amanah, adalah akad penitipan barang/uang dimana pihak penerima tidak diperkenankan menggunakan barang/uang yang dititipkan dan tidak bertanggung jawab atas kerusakan atau kehilangan barang titipan yang bukan diakibatkan perbuatan atau kelalaian penerima titipan. Mudharabah,adalah akad antara pihak pemilik modal (shahibulmal) dengan pengelola (mudharib) untuk memperoleh pendapatan atau keuntungan. Pendapatan atas keuntungan tersebut dibagi berdasarkan nisbah yang telah disepakati di awal akad. Murabahah, adalah akad jual beli antara bank dengan nasabah. Bank membeli barang yang diperlukan nasabah dan menjual kepada nasabah yang bersangkutan sebesar harga pokok ditambahn dengan keuntungan yang disepakati. Isthisna, adalah akad jual beli barang (Mashnu) antara pemesan (Mustashni) dengan penerima pesanan (Shani). Spesifikasi dan harga barang pesanan disepakati di awal akad dengan pembayaran dilakukan secara bertahap sesuai kesepakatan. Ijarah, adalah akad sewa menyewa barang antara bank (muaajir) dengan penyewa (mustajir). Salam, adalah akad jual beli barang pesanan (Musalam fiih) antara pembeli (Muslam) dengan penjual (Musalamilaih). Spesifikasi dan harga barang pesanan disepakati diawal akad dan pembayaran dilakukan dimuka secara penuh. Apabila bank bertindak sebagai Muslam kemudian memesan kepada pihak lain untuk menyediakan barang (Muslam fiih) maka hal tersebut Salam Paralel. Rahn, adalah akad penyerahan barang/harta (Marhun) dari nasabah (Rahin) kepada Bank (Murtahin) sebagai jaminan sebagian atau seluruh hutang. Qardh, adalah akad pinjaman dari bank (Muqridh) kepada pihak tertentu (Muqtaridh) yang wajib dikembalikan dengan jumlah yang sama sesuai pinjaman. Muqridh dapat meminta jaminan atas pinjaman kepada Muqtaridh. Pengembalian pinjaman dapat dilakukan secara angsuran ataupun sekaligus. Qardhul Hasan, adalah akad pinjaman dari bank (Muqridh) kepada pihak tertentu (Muqtaridh) untuk tujuan sosial yang wajib dikembalikan dengan jumlah yang sama sesuai pinjaman.

Senin, 10 Agustus 2009

BELAJAR DARI FILOSOFI POHON JATI

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa pohon jati merupakan salah satu pohon yang menghasilkan kayu dengan kualitas terbaik dan mahal harganya. Di balik sosoknya yang sangar dan seram, pohon jati banyak di cari untuk dijadikan furniture maupun bagian rumah lainnya yang berbahan kayu. Selain kayunya, daun pohon jati juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan membungkus berbagai macam makanan. Di daerah saya di Pekalongan dan sekitarnya, saat alas roban masih banyak memiliki pohon jati, kadang daun pohon jati yang lebar setelah dibersihkan dimanfaatkan untuk membungkus nasi kenduren yang diberikan kepada tamu untuk dibawa pulang. Dibalik tampangnya yang sangar pohon jati mempunyai filosofi yang sangat mendalam dan sangat relevan untuk dapat kita terapkan untuk melengkapi jiwa entrepreneurship kita. Filosofi Jati yang pertama adalah: Biji Keras menghasilkan Kayu yang kuat (Kelas Kuat I dan Kelas Awet II). Biji merupakan awal mula (dasar) tumbuhnya sebuah pohon jati. Makin bagus biji yang kita tanam makan bagus kualitas pohon jati yang akan kita dapatkan. Begitu juga dalam berbisnis, kita harus mempunyai dasar yang kuat terutama secara mental (dan kuat financial lebih baik lagi). Minimal kita harus mempersiapkan mental untuk berani keluar dari zona nyaman dan meruntuhkan blocking mental kita, terutama yang masih menyandang status karyawan/TDB dan ingin memulai usaha, terlebih lagi jika langsung full TDA dan melepas status karyawannya. Selain itu kita juga harus siap mental jika sewaktu-waktu usaha kita harus jatuh ataupun mengalami kemunduran, jangan sampai hal tersebut merontakan mental kita, akan tetapi sebaliknya jadikanlah sebagai sarana belajar dan evaluasi untuk bangkit lagi, agar kejadian yang sama tidak terulang kepada kita. Filosofi Jati ke-II : Pohon jati tumbuh di daerah kering dan tandus, namun mampu menghasilkan kualitas kayu yang luar biasa. Pohon jati mampu beradaptasi dengan buruknya lingkungan tempat tumbuhnya. Filosofi ini mengajarkan bahwa dimanapun kita berada dan apapun buruknya keadaan kita, selalu ada celah dan peluang yang terbuka. Sepanjang kita mau berusaha serta beradaptasi dan belajar dari lingkungan sekitar maka kita akan tetap mendaptkan hasil tertentu. Disamping itu, jangan jadikan lingkungan sekitar kita ataupun beratnya permasalahan sebagai alasan untuk kita tidak dapat berkembang, kita harus mampu untuk berdaya dan berusaha secara maksimal dan optimal, seberat apapun masalah yang ada dan seburuk apapun keadaan kita dan lingkungan sekitar kita. Makin keras keadaan ataupun permasalahan yang kita hadapi, kita harus semakin yakin bahwa jika kita mampu melaluinya kita akan menjadi semakin besar. Seseorang akan teruji dan tangguh apabila di tempa pengalaman hidup yang keras. Jangan kemudian kita lari atau menghindar dari keaadan ataupun masalah sekitar kita. Setiap permasalahan yang ada harus dipastikan diselesaikan sampai akar masalahnya, sehingga kejadian tersebut diharapakan tidak terulang, jika terulang maka kita sudah tahu cara menyelesaikannya. Kegagalan banyak terjadi karena orang lari atau menghindar dari masalah atau membiarkan masalah tersebut tanpa mau melihat ke akar masalahnya, sehingga setelah berlalunya waktu masalah tersebut (seolah-olah) “selesai”, padahal hanya mengendap saja dan siap meledak sewaktu-waktu dan akan menghancurkan kita. Filosofi Jati ke III: Secara alami pohon jati memiliki daur yang lama untuk menghasilkan kualitas kayu yang baik. Oleh karena tidak ada pohon jati cangkokan atau dari hasil stek untuk meperpendek proses pembentukan kayu yang bagus. Filosofi ini mengajarkan bahwa seseorang menjadi tangguh diperlukan proses dan waktu yang lama, bukan "KARBITAN" atau di "KARBITKAN". Tidak ada yang langsung bisa besar dalam menjalankan usaha, proses step by step tetap harus kita lalui sebagai bagian dari pembelajaran kita untuk tumbuh semakin besar. Kita harus bersabar dan tetap belajar dengan proses yang ada, Lamanya proses sendiri juga tergantung dari daya upaya kita dalam menjalani proses tersebut. Jangan pernah menyerah kalaupun prosesnya lama yang penting kita juga harus pintar untuk mengamati dan belajar dari proses tersebut.

Jumat, 17 Juli 2009

TERNYATA GAJI PERTAMA TAK SENIKMAT GAJI TERAKHIR

Sebagaian besar dari kita pasti pernah mengalami senangnya mendapat gaji pertama dari tempat kerja. Mei 2001, 8,5 tahun yang lalu adalah saat pertama kali saya menerima gaji pertama dari hasil menjadi TDB. Saya ingat gaji pertama saya sebagai anak magang cuma cukup untuk beli ticket resmi tour MU 2009 di Indonesia untuk kelas 1. Sampai-sampai bagian keuangan kantor bilang "gajinya diambil tunai saja yha, gak usah ditransfer, biaya transfernya lebih mahal he.. he..", tapi walupun kecil itu adalah tetap nikmat yang harus disyukuri, karena ternyata kemudian membuka jalan ke rizki yang lebih besar. Saya ingat gaji pertama saya tersebut saya pakai ke malang, untuk ngambil ijazah S1 saya yang belum sempat diambil saat ke Jakarta, dan sebagaimana layaknya mahasiswa fresh graduate yang sudah bekerja, ada perasaan gimana gitu waktu kembali ke kampus dan ditanya "sudah kerja belum?" "kerja dimana?" dan bla.. bla.. banyak pertanyaan lagi sampai yang nitip CV dan info2 lowongan kerja. Sebenarnya gaji Mei 2001 bukanlah uang pertama yang saya nikmati dari hasil keringat saya sendiri. karena dari SMP dan SMA, saya sudah didik untuk berusaha sendiri untuk menambah uang saku dan jajan. Saat SMP atau SMA, karena daerah saya di Pekalongan adalah sentra industri garmen dan textile, saya kerja dari mulai rapiin baju/celana dari sisa2 jahitan, melipat sampai masukin ke plastik packing, pasang kancing sampai jualan celana ke teman2. Hoby saya jualan keterusan sampai kuliah di Malang, dari jualan baju koko sampai daster untuk ibu2, kadang kala saat ada pendaftaran UMPTN atau pendaftaran ulang mahasiswa baru, saya dan teman2 di KSR Unibraw jualan minuman dingin, biasanya untuk penggalangan dana untuk kegiatan KSR dan hasil usaha jualan semasa kuliah ternyata lebih banyak dari kiriman bulanan saya. Juni 2009 kemarin adalah terakhir kali saya menerima gaji sebagai TDB, setelah sempat bimbang, akhirnya mulai Juli ini, saya menerima tantangan untuk berhenti menjadi orang gajian (TDB) tapi menjadi pemberi gaji (TDA). Kembali ke judul tulisan ini tentang nikmatnya gaji pertama dan terakhir, setelah saya membandingkan kenikmatan yang saya rasakan saat menerima gaji pertama ternyata tidak senikmat saat menerima gaji terakhir.Bahkan kalo mau jujur, nikmatnya gaji pertama sebagai TDB tidak senikmat keuntungan-keuntungan yang saya terima dari hasil jualan saat masih SMP, SMA maupun selama kuliah. Menerima gaji sebagai TDB tidak ada perasaan deg2-nya, karena sudah ketahuan jumlah penghasilan yang akan kita akan dapatkan, lain dengan saat menikmati keuntungan dari hasil jualan, satu saat tabungan saya sangat banyak, jika rekanan banyak yang sudah melakukan pembayaran dari hasil penjualan barang yang diambil dari saya, tapi kadang juga melongo kalo rekanan yang mau ditagih ternyata sudah tidak ketahuan kemana rimbanya. Disamping itu ada perasaan bahagia saat jualan kita dibeli oleh orang, rasanya perasaan malu dan lelah menawarkan hilang semua. Perasaan deg2 itu juga sekarang terasa lagi, dengan kondisi perekonomian yang tidak jelas arahnya di tambah ada bom yang kembali meledug makin menambah nikmatnya merasakan dag did dug, terutama untuk setengah tahun ke depan, apakah akan mendapatkan hasil atau justru gigit jari. Tapi dengan keadaan yang tidak menentu ini, ternyata dari kalkulasi pendapatan yang akan kami peroleh dihitung dari sudut dan cara hitungan manapun masih akan tetap jauh lebih besar dari hasil yang akan saya peroleh jika tetap menerima gaji, plus THR plus bonus akhir tahun 4 kali gaji (jika bonusnya cuma 4 kali gaji). Jadi ternyata tidak rugi menjadi orang tanpa gaji, justri sangat nikmat dari sisi apapun. Bisa datang di kantor jam berapa saja, pulang suka-suka, kalo gak ada kerjaan yang mendhing maen dirumah sama anak (dan istri tentunya he.. he..). Jadi bagi yang masih jadi orang gajian, HARI GINI MASIH TERIMA GAJI TIAP AKHIR BULAN... APA KATA DUNIA.....

Rabu, 24 Juni 2009

DIMANA HATIMU BERADA, DISANALAH HARTAMU

Judul tulisan di atas merupakan sepenggal nasehat yang diberikan oleh Paulo Coelho dalam Novel Spriritual Sufis berjudul “SANG ALKEMIS”. Dalam novel tersebut diceritakan tentang perjuangan seorang anak gembala dari Spanyol bernama Santiago menggapai Legenda Pribadi-nya. Santiago berani untuk menyebrangi lautan dari Spanyol menuju Afrika lalu menuju Mesir untuk melihat Pyramida Giza dan menjual domba-dombanya demi mengejar impian yang menjadi legenda pribadinya. Mengarungi dunia baru, bahasa dan kebudayaan baru serta menghadapi berbagai rintangan dari mulia penipuan di pelabuhan saat baru singgah dipelabuhan di Afrika sehingga uang perbekalannya dari hasil menjual domba habis tidak tersisa, terjebak dalam perang suku sampai menghadapai ancaman kematian dari suku liar di gurun. Akan tetapi berbekal keyakinan, Santiago bangkit dari setiap cobaan dan keterpurukan yang dialaminya, Mulai dari bekerja di toko kristal untuk kembali mengumpulkan bekal dalam perjalanan, belajar bahasa dan budaya baru, sampai meminta petuah-petuah dari tetua suku di gurun demi mewujudkan legenda pribadi yang diyakininya. “Dimana hatimu berada, disanalah hartamu”, merupakan salah satu nasehat yang diberikan oleh tetua suku kepada Santiago. Nasehat tersebut di atas dimaknai oleh Santiago bahwa dia harus meneguhkan niatnya dalam menggapai legenda pribadinya, meyakininya bahwa dia mampu menggapainya, menyingkirkan segala keraguan atas setiap langkah yang diambilnya dan yang lebih terpenting adalah juga mengedepankan hati nurani, jika dia mampu melakukan hal-hal tersebut maka ia akan mendapatkan apa yang diimpikannya bahkan lebih. Petuah tersebut mengajarkan kepada kita bahwa niat dan keyakinan dalam setiap tindakan ataupun perbuatan yang kita lakukan adalah sangat penting, jangan sampai langkah kita dengan hati kita tidak sejalan karena kalau hal tersebut terjadi maka kita tidak akan bisa total dalam melakukan sesuatu, kalaupun ada hasil pastilah tidak maksimal. Kegagalan dalam mencapai sesuatu bukanlah hal yang harus mematikan kita untuk tetap melangkah untuk mencapai legenda pribadi kita, akan tetapi justru merupakan pertanda bahwa kita sudah dekat dengan legenda pribadi kita tersebut, hanya saja kita harus lebih hati-hati dan lebih berkeyakinan untuk mencapainya. Kegagalan, problem, cibiran ataupun perkataan-perkataan yang meragukan langkah kita anggap saja sebagai bumbu pelengkap dalam melangkah untuk menggapai legenda pribadi kita tersebut. Santiago telah membuktikannya, lewat keyakinan yang teguh, kemauan untuk bangkit setelah mengalami keterpurukan dan kerja keras, Santiagao mampu mencapai legenda pribadinya, sampai di Pyramida Giza ditambah bonus menenukan harta karun, dapat berbahas baru, mengenal kebudayaan baru dan yang terpenting mendapatkan pujaan hatinya seorang gadis gurun yang cantik dan selalu menantikannya kembali dari perjalananya menggapai legenda pribadinya. Bagaimana dengan anda? Yakinlah bahwa dimana HATIMU BERADA DISANALAH HARTAMU. Selamat mencoba….

Senin, 18 Mei 2009

RESOLUSI BERSYARAT

Pada setiap pergantian tahun pertanyaan yang sering kita jumpai adalah “apa resolusi anda untuk tahun depan?” atau “anda sudah buat resolusi untuk tahun yang akna dating belum” dan beragama pertanyaan lain yang intinya menanyakan apa yang akan anda tuju dan ingin anda capai tahun depan. Bahkan sebagian orang jauh-jauh hari sebelum akhi tahun sudah mencanangkan resolusi untuk tahun depanya, misalnya “Mulai tahun 2010 saya mau memulai bisnis” atau “Mulai tahun 2010 saya mau merubah diri saya sendiri menjadi lebih baik”.

Dari contoh resolusi-resolusi yang saya sebutkan di atas ada syarat yang harus dipenuhi atas resolusi tersebut yaitu pergantian tahun. Contoh resolusi bersyarat lainya yang sering saya dengar dari teman-teman sekitar saya yang muslim adalah seperti “saya mau naik haji kalo sudah sanggup menunaikan sholat lima waktu tanpa ada yang putus” atau “mulai bulan romadhon tahun ini saya mau memperbanyak sodhaqoh dan menunaikan sholat lima waktu dengan lebih baik”.

Pada intinya sering kali kita membuat resolusi yang digantungkan syarat tertentu seperti waktu (tahun baru, bulan romadhon, ulang tahun dsb) atau kejadian tertentu (kalo sudah rajin sholat, kalo gaji sudah sekian, naik haji, dsb). Pertanyaan yang kemudian dapat kita lontarkan, termasuk kepada diri kita sendiri adalah “mengapa harus menunggu sesuatu untuk melakukan sesuatu?. Jika kita dapat melakukan resolusi kita sekarang tanpa syarat apapun, mengapa tidak kita lakukan sekarang, minimal melakukan yang kecil-kecil terlebih dahulu.

Ada beberapa sebab yang dapat saya simpulkan mengapa orang suka membuat resolusi bersyarat, yaitu :

1. Untuk gagah-gagahan saja, yaitu ikut trend orang sekitar kita, minimal untuk pergaulan, sehingga kalo ditanya orang lain, diakhir tahun apa resolusi untuk tahun, minimal sudah punya resolusi walaupun tidak akan dijalani.

2. Tidak pede atau tidak yakin terhadap resolusi diri kita sendiri, sehingga kadang untuk memulainya saja sudah malas atau sambil mencari jalan pintas untuk langsung mencapai hal besar tanpa mau melakukan hal yang kecil. Padahal itu tidak mungkin, karena sudah jadi sunah Allah, suatu hal yang besar selalu dari yang kecil, sebagai contoh adalah diri kita sendiri dari bayi dulu baru dewasa; atau

3. Justru orang tersebut sudah punya rencana, sehingga memang resolusi bersyarat tersebut merupakan tahapan dalam hidup yang bersangkutan selanjutnya. Jika kita type yang seperti ini maka kita sudah di jalan yang benar, tapi artinya kita sudah mempunyai rencan-rencana dan resolusi-resolusi lain sebelumnya yang sudah kita jalankan dan sifatnya saling sambung menyambung dalam hidup kita.

Hanya saja jika kita membuat resolusi bersyarat, kita harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut;

1. Umur. Kita tidak bisa memastikan apakah saat syarat tersebut terpenuhi kita masiha adaatau tidak untuk melaksanakan resolusi kita tersebut di atas.

2. Semangat. Pastikan bahwa semangat kita untuk melaksanakan resolusi saat syaratnya terpenuhi masih sama kuatnya dengan saat kita membuat resolusi tersebut. Karena kebanyakan justru kita sudah lelah terlebih dahulu setelah melakukan hal-hal untuk memenuhi persyaratan kita sendiri dan pada gilirannya saat harus memulai pekerjaan yang sesungguhnya yang merupakan inti resolusi tersebut, kita justru sudah loyo.

3. Kesempatan. Pastikan bahwa peluang untuk melaksanakan resolusi tersebut masih tetap relevan saat syarat terpenuhi. Karena sering jika resolusi kita tersebut berupa ide bisnis, maka ide tersebut sudah di jalankan terlebih dahulu oleh orang lain selama kita menunggu terpenuhinya syarat tersebut, sehingga kita tidak bisa menjadi yang pertama.

Jadi jika kita bisa melakukannnya sekarang, mengapa harus menunggu sesuatu atau menetapkan syarat-syarat tertentu untuk melaksanakan tujuan-tujuan hidup kita.

Selamat take Action and miracle will happen.